- Skizofrenia seringkali dinyatakan sebagai gejala kelebihan dopamine atau hormon kebahagiaan di dalam otak
- Stigma terhadap penyandang skizofrenia lebih berbahaya daripada masalahnya sendiri.
- Penyintas skizofrenia membutuhkan kesempatan untuk hidup secara wajar.
Oleh Angga Wijaya*
SUATU hari saya membaca penjelasan populer tentang skizofrenia. Di sana disebutkan bahwa salah satu teori yang paling dikenal dalam dunia psikiatri adalah hipotesis dopamine. Singkatnya, aktivitas dopamine di otak diduga berperan dalam munculnya sejumlah gejala skizofrenia, seperti halusinasi dan waham.
Masalah muncul ketika penjelasan ilmiah itu disederhanakan secara berlebihan. Dopamine lalu disebut sebagai “hormon kebahagiaan”. Dari sana lahir kesimpulan yang terdengar logis, tetapi sesungguhnya keliru. Jika skizofrenia berkaitan dengan kelebihan dopamine, bukankah itu berarti orang-orang dengan skizofrenia adalah orang-orang yang terlalu bahagia?
Pertanyaan itu terdengar masuk akal. Namun kenyataan hidup para penyandang skizofrenia justru menunjukkan hal yang sebaliknya.
Saya pertama kali didiagnosis skizofrenia paranoid pada 2009. Saat itu usia saya masih muda. Saya belum memahami apa yang sedang terjadi. Yang saya tahu, ada banyak hal dalam hidup yang berubah secara tiba-tiba. Dunia terasa asing. Pikiran menjadi medan yang sulit dipahami bahkan oleh diri sendiri.
Diagnosis itu datang seperti palu yang menghantam masa depan. Bukan hanya karena penyakitnya. Melainkan karena berbagai bayangan yang mengikuti kata “skizofrenia” dalam masyarakat kita. Saya membayangkan hidup akan berakhir, tidak akan bisa bekerja, dan akan selamanya dipandang berbeda.
Belakangan saya sadar bahwa sebagian ketakutan itu bukan berasal dari penyakitnya, melainkan dari stigma yang melekat pada penyakit tersebut. Kita hidup dalam masyarakat yang sering kali lebih mengenal mitos daripada fakta tentang gangguan jiwa. Orang dengan skizofrenia dianggap berbahaya, tidak mampu berpikir, tidak mungkin pulih, dan dianggap tidak layak dipercaya.
Label-label itu begitu kuat hingga kadang lebih menentukan nasib seseorang daripada kondisi medis yang sebenarnya. Padahal kenyataannya jauh lebih rumit. Selama bertahun-tahun saya menjalani pengobatan, kontrol rutin, dan berbagai proses pemulihan. Jalannya tidak selalu mulus. Ada masa ketika saya merasa putus asa dan bertanya-tanya apakah hidup akan kembali normal.
Hidup Normal Penyintas Skizofrenia
Namun waktu menunjukkan sesuatu yang penting. Pemulihan itu mungkin. Saya kembali bekerja sebagai wartawan. Saya menulis berita, mewawancarai narasumber, menghadiri konferensi pers, mengejar tenggat, dan menjalani ritme kerja yang tidak jauh berbeda dari wartawan lainnya. Saya juga menulis buku. Sampai hari ini, dua puluh buku telah terbit. Saya terus menulis puisi, esai, artikel, dan berbagai karya lainnya.
Tentu saya bukan satu-satunya. Di luar sana ada banyak penyandang skizofrenia yang bekerja sebagai pegawai, guru, pedagang, seniman, petani, bahkan profesional di berbagai bidang. Sayangnya kisah-kisah seperti itu jarang terdengar. Masyarakat lebih suka mendengar kisah tentang kegagalan daripada kisah tentang pemulihan.
Media sering kali tanpa sadar ikut memperkuat keadaan itu. Ketika ada kasus kriminal yang melibatkan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), diagnosisnya menjadi judul besar. Namun ketika seseorang dengan diagnosis yang sama berhasil menyelesaikan kuliah, membangun usaha, atau menerbitkan buku, kisahnya sering dianggap tidak menarik.
Akibatnya terbentuk gambaran yang tidak utuh. Kita mengenal ketakutan terhadap skizofrenia, tetapi tidak mengenal kemungkinan pemulihannya. Kita mengenal stereotipnya, tetapi tidak mengenal manusianya.
Saya teringat pada sebuah percakapan dengan seorang psikiater beberapa tahun lalu. Ia menjelaskan bahwa gangguan jiwa sering kali memiliki dua lapis penderitaan. Lapis pertama adalah gejala penyakit itu sendiri.Lapis kedua adalah reaksi masyarakat terhadap penyakit tersebut. Tidak jarang lapis kedua ini justru bertahan lebih lama.
Seseorang bisa saja mengalami perbaikan kondisi klinis. Halusinasi mereda. Waham berkurang. Aktivitas sehari-hari kembali normal. Namun stigma yang ditempelkan masyarakat tetap tinggal. Orang masih mengingat labelnya, meragukan kemampuannya, memandangnya dengan curiga.
Sulitnya Penyembuhan Luka
Luka sosial semacam itu sering kali lebih sulit disembuhkan daripada gejala medis. Di Indonesia, kita masih menemukan praktik pemasungan terhadap orang dengan gangguan jiwa. Meski jumlahnya terus berkurang dibanding masa lalu, fakta bahwa pemasungan masih terjadi menunjukkan bahwa persoalan ini belum selesai.
Pemasungan bukan sekadar persoalan kesehatan. Ia adalah persoalan kemanusiaan. Sulit membayangkan bagaimana seseorang bisa menjalani hidup yang bermartabat ketika kebebasannya dirampas, atau bagaimana seseorang bisa merasa bahagia ketika ia dikurung karena ketidaktahuan orang-orang di sekitarnya.
Jika kita benar-benar ingin berbicara tentang kebahagiaan, mungkin kita perlu melihat faktor-faktor semacam itu. Kebahagiaan bukan hanya perkara zat kimia di otak, melainkan juga berkaitan dengan penerimaan sosial. Dengan kesempatan untuk bekerja, dicintai, dipercaya, dan dengan kesempatan untuk hidup sebagai manusia yang utuh.
Sayangnya, banyak penyandang skizofrenia kehilangan kesempatan-kesempatan itu bukan karena penyakitnya, melainkan karena stigma yang mengelilinginya. Saya sering bertanya-tanya mengapa masyarakat begitu sulit percaya pada pemulihan. Mengapa seseorang yang pernah mengalami gangguan jiwa harus terus membuktikan dirinya berulang-ulang? Mengapa keberhasilan mereka sering dianggap pengecualian? Mengapa orang lebih mudah percaya pada cerita kegagalan daripada cerita harapan?
Mungkin karena stigma bekerja seperti lensa yang mengubah cara kita melihat orang lain. Ketika label sudah ditempelkan, semua hal tentang seseorang ditafsirkan melalui label tersebut. Jika ia gagal, orang berkata, “Maklum, dia pernah sakit jiwa.” Jika ia berhasil, orang berkata, “Wah, hebat juga ya, padahal dulu sakit jiwa.”
Dalam kedua situasi itu, identitas utamanya tetap sama. Ia tetap dipandang sebagai diagnosis, bukan sebagai manusia. Padahal manusia selalu lebih besar daripada diagnosisnya.
Bukan Penyangkalan
Saya tidak bermaksud untuk menyangkal keberadaan skizofrenia. Penyakit itu nyata. Saya tahu karena saya mengalaminya. Pengobatan penting. Dukungan keluarga penting. Pendampingan profesional juga penting. Namun saya juga percaya bahwa pemulihan tidak cukup hanya dengan obat. Pemulihan membutuhkan lingkungan yang menerima, kesempatan kedua, dan masyarakat yang bersedia melihat seseorang sebagai manusia, bukan sebagai label.
Karena itu, setiap kali mendengar orang menyederhanakan skizofrenia sebagai “kelebihan hormon bahagia”, saya merasa kita sedang mengabaikan persoalan yang jauh lebih besar. Persoalan itu bukan semata-mata tentang dopamine, tapi tentang cara kita memperlakukan sesama manusia.
Barangkali benar bahwa para ilmuwan masih terus mempelajari peran dopamine dalam skizofrenia. Penelitian demi penelitian akan terus dilakukan. Teori-teori baru akan terus muncul. Namun sambil menunggu perkembangan ilmu pengetahuan, ada satu hal yang sebenarnya bisa kita lakukan mulai hari ini.
Kita bisa mengurangi stigma, berhenti menggunakan kata “gila” sebagai ejekan dan menganggap diagnosis sebagai identitas seseorang, dan memberi ruang bagi kisah-kisah pemulihan untuk didengar.
Kita bisa belajar bahwa orang dengan skizofrenia bukanlah makhluk asing yang hidup di luar kemanusiaan. Mereka adalah saudara kita, tetangga kita, teman kita, atau pun rekan kerja kita. Dan dalam banyak kasus, mereka adalah orang-orang yang sedang berjuang untuk mendapatkan sesuatu yang sering dianggap biasa oleh orang lain.
Bukan kebahagiaan yang berlebihan, melainkan kesempatan untuk hidup secara wajar. Karena jika ada sesuatu yang benar-benar berlebihan dalam kehidupan banyak penyandang skizofrenia, itu bukanlah dopamine. Yang berlebihan adalah prasangka, ketakutan, dan stigma. Dan mungkin, selama stigma itu masih lebih besar daripada empati, kita belum benar-benar memahami apa arti pemulihan yang sesungguhnya.
*) Angga Wijaya adalah sastrawan dan wartawan yang juga seorang penyintas skizofrenia. Sejak 2018, ia telah menulis dan menerbitkan 20 buku. Aktif menulis esai budaya, kesehatan mental, dan sastra di berbagai media daring di Bali. Instagram: @anggawijaya548.


