Ketika Esai Kehilangan Suara Penulisnya

Penyair dan penulis esai, Angga Wijaya - IST
Penyair dan penulis esai, Angga Wijaya - IST
  • Esai adalah perjumpaan antara pengalaman, pengetahuan, dan keberanian menyampaikan suara sendiri.
  • Di tengah limpahan teknologi itu, muncul persoalan yang jauh lebih penting: bagaimana menjaga agar tulisan tetap memiliki suara manusia?
  • Banjir informasi menjadi tantangan bagi penulis esai untuk tak kehilangan eksistensinya

Oleh Angga Wijaya

Suatu siang, sebuah pesan WhatsApp masuk ke telepon genggam saya. Pengirimnya adalah seorang staf Balai Bahasa Provinsi Bali. Isinya singkat, tetapi cukup membuat saya berhenti sejenak dari pekerjaan sebagai wartawan.

Saya diminta menjadi narasumber dalam Pelatihan Menulis Esai Krida Duta Bahasa Bali 2026, yang digelar pada 8 Juni 2026 lalu. Pesertanya, puluhan siswa SMA/SMK, organisasi kepemudaan, dan mahasiswa daring berbagai universitas di Denpasar-Bali.

Saya membaca pesan itu beberapa kali. Besai adalah perjumpaan antara pengalaman, pengetahuan, dan keberanian menyampaikan suara sendiri. bukan karena ragu menerima undangan tersebut, melainkan karena pertanyaan yang tiba-tiba muncul di kepala, yakni, apa sebenarnya yang harus diajarkan ketika berbicara tentang menulis esai?

Pertanyaan itu terus mengikuti saya hingga hari pelatihan berlangsung. Di hadapan para peserta, saya tidak ingin hanya menjelaskan bahwa esai memiliki pendahuluan, isi, dan penutup.

Mereka tentu dapat menemukan penjelasan semacam itu dalam berbagai buku atau melalui mesin pencari. Saya lebih ingin mengajak mereka memahami sesuatu yang sering luput dibicarakan, yakni bahwa esai adalah perjumpaan antara pengalaman, pengetahuan, dan keberanian menyampaikan suara sendiri.

Saya mengatakan kepada para peserta bahwa esai bukan karya ilmiah. Ia memang memerlukan data, referensi, dan argumentasi, tetapi tidak kehilangan ruang bagi penulis untuk menghadirkan dirinya. Esai justru menjadi menarik ketika pembaca dapat mengenali siapa yang sedang berbicara melalui kalimat-kalimatnya.

Baca Juga: Menelisik Trend Penulisan Esai di Era Banjir Informasi

Beberapa minggu setelah pelatihan itu, saya kembali bertemu dengan dunia esai dari sudut yang berbeda. Kali ini bukan sebagai narasumber, melainkan sebagai juri substansi Lomba Esai Krida Duta Bahasa Bali 2026.

Bersama Ida Ayu Putri Adityarini, M.Hum. dari Balai Bahasa Provinsi Bali, saya membaca puluhan naskah yang dikirim peserta.

Di atas meja, judul-judul esai berjejer. Ada yang berbicara tentang kecerdasan buatan, bahasa Indonesia, pelestarian bahasa daerah, lingkungan, media sosial, hingga persoalan pangan. Semua tema terasa dekat dengan kehidupan generasi muda hari ini.

Membaca puluhan esai secara berurutan menghadirkan pengalaman yang menarik. Di satu sisi, saya melihat semangat peserta untuk menanggapi persoalan-persoalan di sekitar mereka. Banyak di antara mereka rajin membaca referensi, mengutip hasil penelitian, bahkan menyajikan data yang cukup lengkap.

Namun, semakin banyak naskah yang saya baca, semakin kuat pula satu kesan yang muncul. Saya merasa mengenal informasi yang mereka sampaikan, tetapi tidak benar-benar mengenal penulisnya.

Kalimat-kalimatnya rapi. Argumentasinya tampak logis. Referensinya berlimpah. Akan tetapi, saya kesulitan menemukan suara yang membedakan satu esai dengan esai lainnya. Banyak tulisan terasa seperti rangkuman berbagai artikel yang disusun kembali menjadi sebuah naskah lomba.

Di situlah saya mulai bertanya, apakah kita sedang menyaksikan gejala baru dalam dunia kepenulisan? Kemudahan memperoleh informasi memang membantu siapa saja untuk menulis.

Kehadiran kecerdasan buatan bahkan mampu menyusun paragraf hanya dalam hitungan detik. Akan tetapi, di tengah limpahan teknologi itu, muncul persoalan yang jauh lebih penting: bagaimana menjaga agar tulisan tetap memiliki suara manusia?

Pertanyaan tersebut terus mengiringi proses penjurian. Setiap kali menemukan esai yang menghadirkan pengalaman pribadi, sudut pandang yang segar, atau keberanian mempertanyakan sesuatu, saya berhenti lebih lama untuk membacanya.

Sebaliknya, ketika sebuah tulisan hanya menyusun ulang informasi yang sudah banyak beredar, saya merasa kehilangan kesempatan untuk mengenal cara berpikir penulisnya.

Barangkali, di sinilah tantangan terbesar menulis esai pada masa kini. Bukan lagi mencari informasi, melainkan menemukan kembali suara diri sendiri di tengah banjir informasi yang tersedia di mana-mana. (kanalbali)

  • Angga Wijaya adalah penulis dan wartawan lepas di Denpasar-Bali. Sejak 2018, ia telah menulis 20 buku. Laki-Laki yang Menata Lukanya di Rak Buku, adalah buku terbarunya yang diterbitkan oleh Brilliant Books, penerbit buku alternatif di Yogyakarta, pada Juni 2026.

     

Apa Komentar Anda?