Menelisik Trend Penulisan Esai di Era Banjir Informasi

Pelatihan Menulis Esai Krida Duta Bahasa Bali 2026, yang digelar pada 8 Juni 2026 lalu - IST
Pelatihan Menulis Esai Krida Duta Bahasa Bali 2026, yang digelar pada 8 Juni 2026 lalu - IST
  • Penggunaan tata bahasa yang baik dan benar masih menjadi persoalan dalam penulisan esai
  • Ada kecenderungan pemanfaatan teknologi informasi menghasilkan esai yang nyaris sama dari penulis yang berbeda
  • Keberanian untuk menampilkan pendapat sendiri menjadi kurang kelihatan di tengah era banjir informasi

oleh Angga Wijaya 

Sebagai seorang penulis, saya kembali bertemu dengan dunia esai saat diminta sebagai juri substansi Lomba Esai Krida Duta Bahasa Bali 2026. Penjurian saya lakukan bersama Ida Ayu Putri Adityarini, M.Hum. dari Balai Bahasa Provinsi Bali. Disitulah saya membaca puluhan naskah yang dikirim peserta.

Dalam proses penjurian, saya dan Ida Ayu Putri Adityarini, M.Hum. membaca naskah yang sama.

Namun, kami tidak selalu berhenti pada bagian yang sama. Beliau lebih dahulu menandai hal-hal yang berkaitan dengan kebahasaan, sedangkan saya lebih banyak mencatat bagaimana penulis membangun gagasan dan mempertahankan argumennya.

Perbedaan itu bukan untuk dipertentangkan, melainkan saling melengkapi.

Dari catatan beliau, tampak pola yang berulang. Kesalahan penggunaan huruf masih menjadi persoalan yang paling banyak ditemukan. Setelah itu, disusul kesalahan penggunaan tanda baca dan penulisan kata.

Ada peserta yang menuliskan huruf kapital tidak pada tempatnya, ada yang belum konsisten menulis istilah asing, ada pula yang masih keliru membedakan kata depan di dengan imbuhan di-. Kesalahan-kesalahan itu sebenarnya tampak sederhana, tetapi cukup memengaruhi kenyamanan membaca sebuah esai.

Beliau juga mengingatkan pentingnya penyuntingan sebelum naskah dikirim. Banyak kesalahan pengetikan sesungguhnya dapat dihindari apabila penulis bersedia membaca ulang tulisannya.

Baca Juga: Ketika Esai Kehilangan Suara Penulisnya

Tampilan naskah pun tidak boleh diabaikan. Pengaturan paragraf, penggunaan rata kanan-kiri (justify), hingga spasi yang rapi merupakan bentuk penghargaan penulis kepada pembaca. Menariknya, di balik berbagai kekurangan tersebut, kohesi dan koherensi sebagian besar esai sudah cukup baik.

Banyak peserta telah mampu menyusun alur berpikir secara runtut melalui penggunaan konjungsi yang tepat.

Saya sepakat dengan semua catatan itu. Bahasa yang baik adalah syarat penting agar gagasan dapat diterima dengan utuh. Akan tetapi, ketika membaca lebih jauh, saya menemukan persoalan lain yang tidak kalah besar.

Sebagian esai tampak sangat “sempurna”. Kalimatnya rapi. Ejaannya nyaris tanpa cela. Referensinya lengkap. Namun, setelah selesai membaca, saya justru sulit mengingat siapa penulisnya. Tulisan-tulisan itu seperti mengenakan pakaian yang sama.

Mereka berbicara tentang kecerdasan buatan dengan argumen yang hampir serupa. Mereka mengulas bahasa Indonesia menggunakan kutipan yang sama. Mereka mengangkat media sosial, lingkungan, atau budaya dengan pola penyampaian yang nyaris identik. Informasinya benar, tetapi suaranya terasa asing.

Saya mulai bertanya dalam hati, apakah para peserta terlalu takut menyampaikan pandangan mereka sendiri? Ataukah mereka merasa bahwa esai yang baik harus terdengar seperti artikel ilmiah?

Padahal, kekuatan esai justru terletak pada keberanian penulis menghadirkan dirinya di dalam tulisan. Pembaca tidak hanya ingin mengetahui apa yang dipikirkan banyak orang. Mereka juga ingin mengetahui bagaimana seorang penulis memandang persoalan tersebut berdasarkan pengalaman, pengamatan, dan pergulatan batinnya.

Saya selalu merasa senang ketika menemukan satu paragraf yang ditulis dengan jujur. Mungkin kalimatnya belum sempurna. Barangkali masih ada kesalahan tanda baca atau pilihan kata yang perlu diperbaiki.

Namun, saya dapat merasakan bahwa paragraf itu lahir dari pengalaman yang sungguh-sungguh, bukan sekadar hasil merangkai berbagai sumber.

Pengalaman sebagai wartawan mengajarkan saya bahwa fakta adalah fondasi. Akan tetapi, pengalaman sebagai penulis mengingatkan bahwa fakta saja tidak cukup untuk melahirkan esai yang berkesan.

Di antara data dan argumentasi, harus ada suara penulis yang memberi arah kepada pembaca. Tanpa suara itu, sebuah esai hanya menjadi kumpulan informasi yang mudah dilupakan.

Di sinilah saya melihat bagaimana dua perspektif penjurian bertemu. Catatan kebahasaan memastikan tulisan berdiri di atas kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Sementara penilaian substansi mengajak penulis melampaui kebenaran bahasa menuju sesuatu yang lebih sulit, yaitu menemukan identitasnya sendiri sebagai penulis.

Esai terbaik akhirnya bukanlah esai yang sekadar bebas dari salah ketik atau kaya kutipan. Esai terbaik adalah tulisan yang membuat pembaca berkata, “Saya tahu ini ditulis oleh seseorang yang benar-benar memikirkan persoalan ini.”

Barangkali itulah yang paling dicari dalam setiap lomba menulis: bukan sekadar tulisan yang benar, melainkan tulisan yang memiliki suara.

Pengalaman menjadi juri membuat saya semakin yakin bahwa tantangan terbesar menulis esai pada hari ini bukan lagi soal kekurangan informasi. Justru sebaliknya, kita hidup di zaman ketika informasi melimpah.

Dalam hitungan detik, siapa pun dapat menemukan definisi, hasil penelitian, data statistik, hingga pendapat para ahli melalui internet. Kehadiran kecerdasan buatan (AI) bahkan memungkinkan sebuah kerangka tulisan atau beberapa paragraf tersusun hanya dengan memberikan beberapa kata kunci.

Teknologi tentu bukan musuh. Sebagai wartawan, saya pun memanfaatkan teknologi untuk mencari data awal, menelusuri dokumen, atau memeriksa kembali fakta. AI dapat menjadi asisten yang membantu mempercepat pekerjaan. Namun, ada satu hal yang tidak dapat digantikan oleh mesin, yaitu, pengalaman manusia.

Mesin dapat menyusun kalimat yang rapi. Mesin dapat merangkum ratusan halaman menjadi beberapa paragraf. Mesin bahkan dapat meniru gaya bahasa seorang penulis.

Akan tetapi, mesin tidak pernah merasakan gugup ketika pertama kali berdiri di depan peserta pelatihan. Mesin tidak pernah mengalami keraguan saat memilih satu naskah yang layak menjadi pemenang. Mesin tidak memiliki ingatan, kegelisahan, atau luka yang membentuk cara seseorang memandang dunia.

Karena itulah, saya selalu percaya bahwa suara penulis tetap menjadi unsur paling penting dalam sebuah esai.

Suara itu tidak selalu hadir dalam bentuk kata “saya”. Ia tampak pada cara seseorang memilih sudut pandang, menghubungkan fakta, menyampaikan kritik, atau menghadirkan pengalaman yang tidak dimiliki orang lain.

Dua orang dapat menulis tentang tema yang sama, membaca referensi yang sama, bahkan menggunakan data yang sama, tetapi hasil akhirnya akan berbeda apabila masing-masing berani menampilkan cara berpikirnya sendiri.

Selama proses penjurian, saya beberapa kali berhenti lebih lama pada naskah-naskah yang memiliki keberanian seperti itu. Ada peserta yang memulai esainya dengan pengalaman sederhana, lalu menghubungkannya dengan persoalan yang lebih luas.

Ada yang mampu mengolah fakta menjadi refleksi, bukan sekadar memindahkan informasi dari berbagai sumber. Tulisan-tulisan seperti itulah yang terasa hidup karena pembaca dapat merasakan kehadiran penulis di balik setiap kalimat.

Sebaliknya, ada pula esai yang hampir tidak menyisakan jejak penulisnya. Kalimat-kalimatnya benar. Data-data yang digunakan dapat dipertanggungjawabkan.

Akan tetapi, setelah selesai membaca, tidak ada kesan yang tertinggal. Esai seperti itu terasa seperti ruang yang dipenuhi banyak suara, tetapi kehilangan suara pemiliknya sendiri.

Di situlah saya memahami bahwa menulis bukan hanya keterampilan teknis. Menulis juga merupakan latihan kejujuran. Kejujuran untuk mengatakan apa yang benar-benar kita pikirkan, kejujuran untuk mengakui keraguan, dan kejujuran untuk tidak menyembunyikan diri di balik kutipan-kutipan panjang.

Pelajaran itu sebenarnya juga saya peroleh dari proses berbagi dengan para peserta Pelatihan Menulis Esai Krida Duta Bahasa Bali. Saat itu saya mengatakan bahwa jangan menulis untuk terdengar pintar.

Menulislah agar pembaca dapat memahami apa yang sungguh-sungguh ingin kita sampaikan. Pengetahuan memang penting, tetapi pengetahuan yang tidak diolah melalui pengalaman dan perenungan hanya akan menjadi tumpukan informasi.

Pesan itu kembali menemukan maknanya ketika saya duduk di meja penjurian bersama Ida Ayu Putri Adityarini, M.Hum. Catatan beliau mengingatkan bahwa bahasa harus dijaga dengan cermat agar tidak mengaburkan gagasan.

Sementara pengalaman saya membaca substansi mengingatkan bahwa gagasan yang baik harus lahir dari suara penulis yang autentik. Kedua perspektif itu bukan dua jalan yang berbeda, melainkan dua sisi dari mata uang yang sama.

Esai yang baik memerlukan bahasa yang tertib agar mudah dipahami. Namun, bahasa yang tertib saja belum cukup. Ia juga memerlukan keberanian berpikir, kepekaan melihat persoalan, dan kesediaan menghadirkan diri sendiri di dalam tulisan.

Kini, setiap kali saya menerima sebuah esai untuk dibaca, saya tidak hanya bertanya apakah ejaannya sudah benar atau argumennya sudah kuat. Saya juga bertanya, “Apakah saya dapat mengenali penulisnya melalui tulisan ini?”

Pertanyaan sederhana itu mungkin menjadi ujian paling sulit bagi setiap penulis pada era kecerdasan buatan. Sebab, di tengah semakin mudahnya menghasilkan teks, yang justru semakin berharga adalah sesuatu yang tidak dapat diproduksi oleh mesin: suara manusia.

Barangkali itulah pelajaran paling berharga yang saya bawa pulang dari Pelatihan Menulis Esai dan ruang penjurian Krida Duta Bahasa Bali 2026.

Pada akhirnya, kualitas sebuah esai tidak hanya ditentukan oleh ketepatan ejaan atau kelengkapan referensi, tetapi oleh keberanian penulis untuk menghadirkan dirinya sendiri. Sebab, ketika suara itu hilang, yang tersisa hanyalah rangkaian kalimat yang benar, tetapi tidak lagi bernyawa.***

Angga Wijaya adalah penulis dan wartawan lepas di Denpasar-Bali. Sejak 2018, ia telah menulis 20 buku. Laki-Laki yang Menata Lukanya di Rak Buku, adalah buku terbarunya yang diterbitkan oleh Brilliant Books, penerbit buku alternatif di Yogyakarta, pada Juni 2026.

Apa Komentar Anda?