Batur yang Hilang, Ingatan yang Tak Tenggelam

Gubernur Bali Wayan Koster saat menandatangani Prasasti serangkaian upacara Pamlaspas Cihna di Lokasi Titik Nol Desa Adat Batur Let (Batur Kuno) di areal Black Lava-Batur pada Rabu, 29 Juli 2026 - IST
Gubernur Bali Wayan Koster saat menandatangani Prasasti serangkaian upacara Pamlaspas Cihna di Lokasi Titik Nol Desa Adat Batur Let (Batur Kuno) di areal Black Lava-Batur pada Rabu, 29 Juli 2026 - IST
  • 100 tahun Rarud Batur diperingati warga Desa Adat Batur di di Kintamani, Bangli
  • Rarud atau pengungsian bukan sekedar perpindahan manusia tapi bentuk penyelamatan peradaban
  • Momentum peringatan menjadi cara menjaga ingatan kolekif guna menjaga regenerasi kesadaran 

Oleh Angga Wijaya*

KABUT  masih menggantung tipis ketika pagi merambat pelan di lereng Gunung Batur. Matahari belum sepenuhnya muncul dari balik punggung gunung, sementara hamparan batuan lava hitam membentang sejauh mata memandang. Di sela-sela bebatuan yang mengeras hampir seabad lalu, semak dan pepohonan muda mulai tumbuh, seakan ingin menunjukkan bahwa kehidupan selalu menemukan jalannya.

Wisatawan yang datang ke Kintamani umumnya melihat bentang itu sebagai panorama alam. Mereka berhenti di tepi jalan, mengangkat telepon genggam, lalu mengabadikan lanskap kaldera yang megah. Sebagian melanjutkan perjalanan menuju Danau Batur atau menikmati secangkir kopi dengan latar gunung yang memesona.

Namun, bagi masyarakat Batur, hamparan batu hitam itu bukan sekadar objek wisata. Di balik permukaan yang membeku, tersimpan jejak sebuah kampung yang pernah hidup. Pernah ada rumah-rumah berdiri di sana. Pernah terdengar suara anak-anak bermain di halaman. Pernah ada ladang yang digarap setiap musim, asap dapur yang mengepul setiap pagi, serta doa-doa yang dipanjatkan dari sebuah pura yang menjadi pusat kehidupan masyarakat.

Semuanya lenyap ketika Gunung Batur memuntahkan lava pada Agustus 1926. Yang tersisa hari ini bukan bangunan, melainkan ingatan. Ingatan itulah yang terus dijaga masyarakat Batur hingga seratus tahun kemudian. Bukan hanya melalui cerita para tetua, tetapi juga lewat ritual, tradisi, dan upaya mendokumentasikan kembali sejarah yang nyaris hilang ditelan waktu.

“Bagi kami, peringatan seratus tahun Rarud Batur bukan sekadar mengenang letusan gunung. Ini adalah momentum untuk mengingat kembali perjalanan leluhur,” kata Jro Penyarikan Duuran Batur (I Ketut Eriadi Ariana), ketika menjadi narasumber Podcast Case Closed pada 17 Juli 2026.

Dalam percakapan itu, Duuran Batur tidak hanya mengisahkan kronologi letusan Gunung Batur. Ia mengajak melihat Rarud Batur sebagai kisah tentang manusia yang kehilangan ruang hidup, tetapi menolak kehilangan jati dirinya.

Dalam bahasa masyarakat setempat, rarud berarti berpindah atau mengungsi. Namun, makna kata itu jauh melampaui perpindahan fisik. Rarud adalah pengalaman kolektif ketika sebuah komunitas harus meninggalkan tanah leluhurnya, membawa apa yang masih bisa diselamatkan, lalu membangun kehidupan baru dari titik nol.

Sebelum letusan besar 1926, Desa Batur berdiri di sisi barat daya Gunung Batur, kawasan yang kini dikenal sebagai Batur Let atau Black Lava. Desa itu bukan sekadar permukiman. Ia adalah pusat kehidupan masyarakat, tempat adat dijalankan, ladang digarap, dan hubungan spiritual dengan alam dipelihara dari generasi ke generasi.

Persembahyangan serangkaian upacara Pamlaspas Cihna di Lokasi Titik Nol Desa Adat Batur Let (Batur Kuno) di areal Black Lava-Batur pada Rabu, 29 Juli 2026 - IST
Persembahyangan serangkaian upacara Pamlaspas Cihna di Lokasi Titik Nol Desa Adat Batur Let (Batur Kuno) di areal Black Lava-Batur pada Rabu, 29 Juli 2026 – IST

Dalam pandangan masyarakat Bali, gunung bukan hanya bentang geografis. Ia adalah ruang sakral. Danau bukan semata sumber air, melainkan bagian dari kosmos yang menjaga keseimbangan kehidupan. Karena itu, ketika sebuah desa hilang akibat letusan gunung, yang runtuh bukan hanya rumah-rumah penduduk, melainkan juga sebuah tatanan kehidupan yang telah dibangun selama ratusan tahun.

Catatan pemerintah kolonial Belanda menyebutkan bahwa erupsi Gunung Batur dimulai pada 2 Agustus 1926 dan berlangsung hingga September. Lava mengalir perlahan, tetapi tak terbendung. Permukiman masyarakat tertimbun satu demi satu. Pura Ulun Danu Batur, pusat spiritual masyarakat, ikut diterjang aliran lava.

“Dari rangkaian letusan sejak awal 1900-an, letusan tahun 1926 merupakan yang paling besar,” ujar Eriadi.

Dampaknya memang tidak seluas letusan Gunung Agung pada 1963 yang memengaruhi hampir seluruh Bali. Akan tetapi, bagi masyarakat Batur, letusan 1926 menghapus pusat peradaban mereka.

“Secara lokal memang hanya Desa Batur yang terdampak. Tetapi yang hilang adalah situs penting, yakni Pura Ulun Danu Batur,” katanya.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan makna mendalam. Sebab ukuran sebuah bencana tidak selalu ditentukan oleh luas wilayah yang terdampak. Kadang-kadang, satu tempat kecil memiliki arti yang begitu besar bagi identitas sebuah masyarakat.

Ketika lava mulai mendekati desa, warga dihadapkan pada pilihan yang mustahi, yaitu, menyelamatkan diri atau mempertahankan apa yang selama ini mereka yakini sebagai pusat kehidupan.

Pilihan itu akhirnya dijawab dengan cara yang memperlihatkan watak kebudayaan Bali. Mereka menyelamatkan keduanya. Manusia dievakuasi. Benda-benda suci dari Pura Ulun Danu Batur turut diungsikan.

Arca-arca penting, pratima, hingga rangka Jro Agung berhasil dibawa keluar sebelum seluruh kawasan tertutup lava. Catatan sejarah menunjukkan proses evakuasi itu bahkan mendapat bantuan pemerintah kolonial Belanda. Kontrolir Klungkung, residen Belanda, hingga para narapidana dikerahkan untuk membantu mengangkut benda-benda suci menuju tempat yang aman.

Namun, yang sebenarnya diselamatkan bukan sekadar benda. Yang dijaga adalah kesinambungan keyakinan. Dalam kebudayaan Bali, pura bukan hanya bangunan. Ia adalah ruang tempat manusia menjalin hubungan dengan leluhur, alam, dan Sang Pencipta. Ketika bangunan fisiknya hilang, hubungan spiritual itu tidak boleh ikut terputus.

Barangkali di situlah letak ketangguhan masyarakat Batur. Mereka memahami bahwa rumah dapat dibangun kembali, tetapi kepercayaan yang tercerabut akan jauh lebih sulit dipulihkan.

Maka, di tengah kepungan lava, mereka memilih membawa sesuatu yang tak kasatmata, identitas.

BACA JUGA: Bakti Pamlaspas Cihna Batur Let Digelar, Koster Komit Hentikan Komersialisasi Gunung

Benda-benda suci yang berhasil diselamatkan kemudian dititipkan di Desa Bayung Gede. Di sanalah perjalanan baru masyarakat Batur dimulai. Bukan sebagai warga yang telah memiliki rumah, melainkan sebagai orang-orang yang sedang mencari pijakan setelah kehilangan tanah leluhur.

Selama kurang lebih dua tahun, Bayung Gede menjadi ruang persinggahan sekaligus ruang harapan. Masyarakat setempat menerima kedatangan para penyungsi beserta pratima dan benda-benda sakral yang mereka bawa. Di tengah keterbatasan, tumbuh sebuah ikatan yang hingga kini masih dikenang sebagai salah satu babak penting dalam sejarah Rarud Batur.

“Bencana ternyata juga melahirkan solidaritas. Bukan hanya solidaritas di dalam masyarakat Batur sendiri, tetapi juga solidaritas antardesa,” tutur I Ketut Eriadi Ariana dalam Podcast Case Closed.

Solidaritas itu tidak lahir melalui pidato atau kesepakatan tertulis. Ia hadir dalam tindakan-tindakan sederhana: menerima orang yang kehilangan rumah, menjaga benda-benda suci milik desa lain, serta membuka ruang agar kehidupan ritual tetap berlangsung.

Di Bayung Gede, masyarakat Batur bahkan tetap melaksanakan upacara Ngusaba Kedasa sebanyak dua kali. Upacara itu menjadi penanda bahwa meskipun kampung halaman telah hilang, hubungan mereka dengan leluhur tidak pernah terputus.

Di sinilah kebudayaan memperlihatkan daya tahannya. Bagi masyarakat modern, identitas sering kali dilekatkan pada alamat rumah atau batas administratif sebuah wilayah. Namun, bagi masyarakat adat Bali, identitas tidak hanya bertumpu pada tempat. Ia hidup dalam praktik budaya, dalam ritus yang terus dijalankan, dan dalam keyakinan yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Karena itu, ketika masyarakat Batur berpindah dari desa lama ke tempat yang baru, mereka sesungguhnya tidak meninggalkan masa lalu. Mereka membawa masa lalu itu bersama mereka.

Dalam perspektif antropologi budaya, perpindahan akibat bencana tidak selalu berarti putusnya sebuah peradaban. Sebuah komunitas justru dapat tetap bertahan ketika masih memiliki ingatan kolektif yang terus dirawat.

BACA JUGA: 100 Tahun Rarud Batur, Refleksi Sosial Budaya dan Ekologi Letusan Gunung Batur

Ingatan kolektif itulah yang menjadi perekat masyarakat Batur. Ia hidup dalam cerita para pengelingsir, dalam nama-nama tempat yang masih diingat, dalam tata upacara yang tetap dipertahankan, hingga dalam penghormatan kepada Gunung Batur sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan mereka.

Menurut Eriadi, ada dua nilai utama yang diwariskan dari peristiwa Rarud Batur. Yang pertama adalah bakti. Di tengah kehilangan ladang, rumah, bahkan sumber penghidupan, masyarakat tetap memegang teguh keyakinan kepada Ida Batari yang dipuja di Pura Ulun Danu Batur.

“Kita mungkin tidak bisa membayangkan kehilangan ladang, kehilangan harta benda, kehilangan sumber daya. Tetapi masyarakat tetap bertahan atas dasar bakti kepada Ida Batari,” ujarnya.

Nilai kedua adalah solidaritas. Sebuah masyarakat, katanya, tidak akan mampu bangkit hanya dengan mengandalkan kekuatan individu. Mereka bertahan karena saling menopang.

Pelajaran itu terasa sangat relevan hingga hari ini. Di tengah kehidupan modern yang semakin individualistis, Rarud Batur justru mengingatkan bahwa dalam situasi paling sulit, manusia selalu membutuhkan manusia lain.

Setelah letusan mereda, tantangan berikutnya tidak kalah berat. Masyarakat memang berhasil menyelamatkan diri, tetapi mereka belum memiliki tempat untuk memulai kembali kehidupan.

Selama sekitar dua tahun mereka hidup dalam masa transisi. Sebagian menetap sementara di kawasan Toyomampu, sebagian lainnya tersebar di wilayah yang relatif aman seperti Songan dan Toya Bungkah. Kawasan-kawasan itu tidak dilalui aliran lava sehingga menjadi tempat berlindung sebelum permukiman baru selesai dibangun.

Di sisi lain, pemerintah kolonial Belanda mulai menyusun rencana relokasi. Eriadi menuturkan bahwa dari berbagai penelusuran arsip yang dilakukan masyarakat Batur, ditemukan catatan menarik dalam surat kabar Belanda Het Nieuws van den Dag edisi 10 Agustus 1926. Di sana disebutkan pemerintah kolonial telah menyiapkan material untuk membangun permukiman baru bagi warga yang kehilangan tempat tinggal.

Temuan itu menunjukkan bahwa relokasi masyarakat Batur bukan keputusan yang diambil secara tergesa-gesa. Ada proses perencanaan yang dilakukan, meskipun pelaksanaannya membutuhkan waktu. Baru pada 1928 masyarakat mulai menempati Desa Batur yang sekarang.

Dari sanalah kehidupan dibangun kembali. Bukan tanpa persoalan. Setiap keluarga memperoleh lahan yang relatif kecil, sekitar tiga are. Sementara keluarga yang berstatus duda atau janda memperoleh sekitar satu setengah are.

“Kalau sekarang pekarangan kami kecil-kecil sekali. Sudah empat generasi, habis sudah,” kata Eriadi sambil tersenyum.

Kalimat itu terdengar ringan, tetapi sesungguhnya menyimpan sejarah panjang tentang bagaimana sebuah komunitas belajar hidup dalam ruang yang terbatas.

Empat generasi telah lahir setelah letusan 1926. Rumah-rumah terus bertambah, anggota keluarga terus berkembang, tetapi luas tanah tidak pernah berubah.

Namun, keterbatasan itu tidak membuat masyarakat Batur kehilangan akar budayanya. Justru di atas lahan-lahan kecil itulah tradisi terus diwariskan.

Anak-anak tumbuh dengan cerita tentang desa lama yang telah tertimbun lava. Mereka belajar bahwa kampung halaman leluhurnya tidak hilang karena dilupakan, melainkan tetap hidup melalui kisah yang diceritakan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dan setiap kali mereka memandang hamparan batu hitam di Batur Let, mereka tidak hanya melihat sisa letusan gunung. Membangun rumah-rumah baru ternyata bukan pekerjaan yang paling sulit setelah letusan 1926. Yang jauh lebih berat adalah memulihkan pusat spiritual masyarakat.

Bagi warga Batur, kehidupan tidak akan benar-benar pulih sebelum Pura Ulun Danu Batur kembali berdiri. Pura itu bukan sekadar tempat persembahyangan. Sejak berabad-abad lalu, Pura Ulun Danu Batur menjadi salah satu simpul penting dalam sistem religius masyarakat Bali. Dari sana mengalir penghormatan kepada Ida Batari Dewi Danu, simbol kesuburan dan sumber air yang menghidupi sawah-sawah di berbagai penjuru pulau.

Dalam kebudayaan Bali, air tidak hanya dimaknai sebagai kebutuhan biologis. Air adalah kehidupan. Ia menghubungkan gunung, danau, sungai, sawah, hingga manusia dalam satu mata rantai yang saling bergantung. Karena itu, hilangnya Pura Ulun Danu Batur bukan hanya kehilangan sebuah bangunan suci, melainkan juga terganggunya sebuah tatanan kosmologis yang telah diwariskan turun-temurun.

Pembangunan kembali pura berlangsung bertahap. Membutuhkan tenaga, biaya, dan terutama kesabaran. Berdasarkan catatan Raja Purana, upacara Mepedudusan Agung baru dapat dilaksanakan pada April 1935, hampir sembilan tahun setelah letusan.

Jarak waktu itu menunjukkan bahwa memulihkan kehidupan tidak pernah berlangsung secepat membangun dinding rumah. Ada luka batin yang harus disembuhkan. Ada kepercayaan yang harus diteguhkan kembali. Dan ada keyakinan yang terus dirawat agar masyarakat tetap memiliki arah.

Barangkali di situlah makna terdalam sebuah pura bagi masyarakat Bali. Ia bukan sekadar arsitektur yang indah, melainkan penanda bahwa kehidupan kembali menemukan keseimbangannya.

Jro Penyarikan Duuran Batur menjelaskan kepada Gubernur Koster dokumentasi Rarud Batur - IST
Jro Penyarikan Duuran Batur menjelaskan kepada Gubernur Koster dokumentasi Rarud Batur – IST

Kini, jika seseorang berjalan menyusuri kawasan Batur Let, yang terlihat hanyalah bentangan lava hitam yang mengeras. Di beberapa bagian tumbuh ilalang dan pepohonan kecil yang perlahan merebut kembali ruang yang pernah diluluhlantakkan api.

Sulit membayangkan bahwa di bawah hamparan batu itu pernah berdiri sebuah desa. Namun, masyarakat Batur tidak pernah memandang kawasan tersebut sebagai ruang kematian. Sebaliknya, Batur Let adalah ruang ingatan.

Setiap bongkah batu menyimpan kisah tentang rumah yang hilang. Setiap lekuk tanah mengingatkan pada ladang yang pernah memberi kehidupan. Dan setiap langkah di atasnya seolah membawa seseorang berjalan di atas sejarah yang tidak lagi tampak oleh mata.

“Kalau orang luar melihatnya mungkin hanya batu. Tetapi bagi kami, itu adalah tempat asal leluhur,” ujar seorang warga Batur yang ditemui dalam peringatan menuju seabad Rarud Batur.

Pandangan seperti itu memperlihatkan bahwa sebuah lanskap tidak pernah benar-benar netral. Alam selalu dibentuk oleh pengalaman manusia. Sebuah gunung dapat menjadi objek wisata bagi sebagian orang, tetapi menjadi ruang penuh kenangan bagi mereka yang pernah kehilangan di sana.

Karena itulah, memahami Batur tidak cukup hanya melalui ilmu geologi. Kawasan ini juga harus dibaca melalui sejarah, kebudayaan, dan ingatan kolektif masyarakatnya. Kesadaran itulah yang mendorong generasi muda Batur mulai menggali kembali sejarah Rarud Batur sekitar tahun 2008.

Menurut Eriadi Ariana, pekerjaan itu tidak mudah. Banyak saksi mata telah berpulang. Bersama mereka, hilang pula sebagian kisah yang tak pernah sempat dituliskan.

“Kami tidak bisa merekam semua orang tua yang menjadi saksi sejarah karena mereka sudah lebih dahulu meninggal ke tanah wayah. Informasinya tercerai-berai dan kami mengumpulkannya dengan susah payah,” tuturnya.

Karena itu, penelusuran sejarah dilakukan dengan cara yang nyaris seperti menyusun kepingan mozaik. Cerita dari satu keluarga dicocokkan dengan keluarga lain. Tuturan para pengelingsir dipadukan dengan arsip kolonial Belanda, lontar, hingga Raja Purana Pura Ulun Danu Batur.

Setiap potongan informasi menjadi penting. Sebab sejarah tidak selalu hadir dalam dokumen resmi. Ia sering bersembunyi dalam percakapan di bale banjar, dalam cerita yang disampaikan seorang kakek kepada cucunya menjelang tidur, atau dalam sebuah upacara yang terus dilaksanakan tanpa banyak orang mengetahui asal-usulnya.

Di situlah tradisi lisan menemukan perannya. Ia menjadi arsip hidup yang menjaga agar masa lalu tidak benar-benar hilang.

Hari ini, kawasan Batur dikenal dunia sebagai bagian dari UNESCO Global Geopark. Ribuan wisatawan datang setiap tahun untuk menyaksikan keindahan kaldera, mendaki gunung sebelum matahari terbit, atau menikmati panorama Danau Batur.

Pengakuan itu tentu penting. Namun, ada hal yang sering luput dari perhatian. Sebuah geopark tidak hanya berbicara tentang batuan, lapisan bumi, atau proses vulkanik yang berlangsung selama ribuan tahun. Ia juga berbicara tentang manusia yang hidup bersama bentang alam itu.

BACA JUGA: Suwinih, Hasil Bumi Petani untuk Penjaga Air di Danau Batur

Tentang bagaimana sebuah komunitas membaca tanda-tanda alam, bagaimana mereka belajar beradaptasi setelah bencana, dan bagaimana pengetahuan lokal diwariskan agar generasi berikutnya memahami bahwa hidup berdampingan dengan alam jauh lebih penting daripada berusaha menaklukkannya.

Bagi masyarakat Batur, gunung bukan musuh. Gunung adalah bagian dari kehidupan. Ia memberi tanah yang subur, menyediakan air, sekaligus mengingatkan manusia bahwa alam memiliki kuasa yang tak selalu dapat diprediksi.

Kesadaran itu melahirkan sikap hormat, bukan rasa ingin menguasai. Di tengah perubahan iklim, tekanan pembangunan, dan semakin besarnya eksploitasi sumber daya alam, pelajaran dari Rarud Batur terasa semakin relevan. Bencana memang tidak selalu dapat dicegah. Namun, cara manusia memaknai dan merespons bencana akan menentukan apakah sebuah masyarakat mampu bertahan atau justru kehilangan arah.

Seratus tahun telah berlalu sejak lava menenggelamkan Desa Batur lama. Tetapi ingatan tentangnya masih hidup. Ia hidup dalam doa-doa yang dipanjatkan di Pura Ulun Danu Batur. Ia hidup dalam cerita yang terus disampaikan para pengelingsir kepada anak-cucu mereka.

Dan ia hidup dalam kesadaran bahwa sebuah peradaban tidak hanya dibangun oleh rumah-rumah yang berdiri kokoh, melainkan oleh manusia yang terus menjaga nilai, ingatan, dan kebersamaan.

Di situlah Rarud Batur menemukan maknanya. Bukan semata kisah tentang gunung yang meletus, melainkan kisah tentang sebuah masyarakat yang kehilangan tempat tinggal, tetapi tidak pernah kehilangan jati dirinya.

Sebab, sebagaimana diyakini masyarakat Batur, desa boleh saja tenggelam oleh lava, tetapi ingatan tidak pernah ikut terkubur. Ia akan selalu menemukan jalan untuk pulang, dari satu generasi ke generasi berikutnya. ***

 

*) Jurnalis Kanalbali.id yang dikenal juga sebagai esais, cerpenis, dan penyair. Sejak 2018 ia telah menulis 20 buku, kumpulan esai dan kumpulan artikel.

Apa Komentar Anda?