Segelas Es Temulawak di Warung Om Gang (1)

Ilustrasi warung tradisional di Bali. Foto: Heri Susilo/Unsplash
Ilustrasi warung tradisional di Bali. Foto: Heri Susilo/Unsplash

 Warung-warung kecil menjadi penanda sebuah kota. Bagi setiap orang selalu ada kenangan berharga yang tertinggal di dalamnya. Tapi warung itu juga bisa jadi adalah oase untuk melihat dunia yang lebih luas dan melampaui cakrawala pengetahuannya.

Oleh Angga Wijaya

SETIAP sore, seorang siswa sekolah dasar berjalan kaki menuju sebuah warung tradisional yang tak jauh dari rumahnya. Di balik etalase kaca, seorang lelaki tua hampir selalu duduk mengenakan kemeja yang mulai pudar warnanya dimakan usia.

Di matanya bertengger sepasang kacamata baca. Wajahnya ramah. Senyumnya mudah mengembang kepada siapa saja yang datang.

Namanya Sugeng Sideh. Namun hampir tak seorang pun memanggilnya dengan nama itu. Semua orang mengenalnya sebagai Om Gang. Pria keturunan Tionghoa asal Banyuwangi itu telah lama menetap di Negara, kota kecil di Kabupaten Jembrana, Bali.

Bersama putrinya, Cik Ing, ia mengelola sebuah warung sederhana tanpa papan nama. Orang mengenalnya bukan karena papan reklame atau spanduk, melainkan dari cerita yang berpindah dari satu pelanggan ke pelanggan lain.

Warung Om Gang menjual beragam minuman. Ada kopi, teh, soda gembira, Coca-Cola, Fanta, Sprite, es campur, hingga es temulawak. Namun menu yang paling dicari adalah bubur kacang hijau.

Bubur itu diracik oleh para karyawannya, tetapi Om Gang sendirilah yang memasaknya. Mungkin karena itu rasanya nyaris tak pernah berubah. Kacangnya empuk tanpa kehilangan teksturnya. Kuahnya manis secukupnya. Ditambah sesendok susu kental manis, semangkuk bubur itu menjadi alasan banyak orang kembali.

Warung itu sesungguhnya menjual sesuatu yang tak pernah tertulis dalam daftar menu, yakni, waktu. Orang datang bukan hanya untuk makan dan minum. Mereka mengobrol, merokok, bercanda, membaca koran yang disediakan Om Gang, atau sekadar menikmati sore yang berjalan lambat.

BACA JUGA: Segelas Es Temulawak di Warung Om Gang (2)

Duduk satu atau dua jam bukan persoalan. Tak ada pelayan yang menunjukkan wajah tak sabar karena sebuah meja ditempati terlalu lama. Di warung itu, waktu seolah bergerak lebih ramah.

Di atas meja tersusun toples-toples berisi aneka kue. Poster-poster lama menempel di dinding yang mulai kusam. Kursi dan meja kayunya sederhana, tetapi menghadirkan rasa akrab yang kini sulit ditemukan di banyak tempat.

Om Gang hafal kebiasaan para pelanggan tetap. Tanpa perlu bertanya, ia sudah tahu siapa yang memesan kopi, siapa yang lebih menyukai bubur kacang hijau, dan siapa yang hampir setiap sore memilih segelas es temulawak.

Ia berbicara kepada semua orang dengan keramahan yang sama. Tidak peduli apakah pelanggannya pegawai negeri, sopir, pedagang pasar, guru, pelajar, atau petani. Barangkali begitulah watak banyak orang tua di kota-kota kecil pada masa itu. Mereka tidak sekadar berdagang, tetapi juga memelihara hubungan antarmanusia.

Saya sering memperhatikan Om Gang dari balik meja. Sesekali ia membuka koran, lalu meletakkannya kembali ketika pelanggan datang. Lebih sering ia mengamati orang-orang yang keluar masuk warungnya.

Ia tidak banyak bicara, tetapi tahu kapan harus menyapa dan kapan membiarkan seseorang menikmati kesendiriannya. Keramahan seperti itu terasa alamiah. Tidak dibuat-buat, tidak pula dipelajari dari buku pelayanan pelanggan.

Saya mengenal Warung Om Gang sejak masih duduk di bangku sekolah dasar, sekitar awal 1990-an. Hampir setiap sore saya berjalan ke sana.

Segelas es temulawak menjadi teman setia, sementara Jawa Pos yang disediakan Om Gang saya baca lembar demi lembar. Berita politik, ekonomi, budaya, olahraga, hingga halaman Bali saya lahap tanpa merasa sedang belajar.

Kebiasaan itu bertahan lama. Ketika bersekolah di SMP, saya masih menjadi pelanggan tetap. Bahkan setelah sempat bersekolah di Singaraja pada tahun pertama SMA, lalu kembali ke Negara saat kelas II SMA, saya kembali menemukan jalan menuju warung itu.

Hingga lulus SMA pada 2002, Warung Om Gang tetap menjadi salah satu tempat yang paling sering saya datangi sebelum akhirnya pindah ke Denpasar untuk kuliah.

Ketika meninggalkan Negara untuk kuliah di Denpasar, saya tidak pernah berpikir bahwa suatu hari Warung Om Gang hanya akan tinggal dalam ingatan.

Saat itu saya mengira warung itu akan selalu ada, sebagaimana saya mengira masa muda tidak akan pernah benar-benar berakhir. Ternyata sebuah kota juga bisa kehilangan tempat-tempat yang selama ini kita anggap abadi.

Baru bertahun-tahun kemudian saya menyadari bahwa warung itu adalah sekolah kecil yang tak pernah menyebut dirinya sekolah. Dari halaman-halaman Jawa Pos yang saya baca di sana, saya mengenal dunia yang jauh lebih luas daripada Kota Negara.

Dari percakapan para pelanggan saya belajar mendengarkan orang lain. Dari Om Gang saya belajar bahwa keramahan tidak membutuhkan pelatihan layanan pelanggan. Ia tumbuh dari kebiasaan menghargai sesama.

Om Gang barangkali tidak pernah tahu bahwa koran-koran yang ia sediakan sedang membentuk masa depan seorang anak. Barangkali ia hanya ingin memberi bacaan bagi pelanggan. Namun dari meja sederhana di warung itulah saya mulai jatuh cinta kepada koran, buku, dan dunia yang terbentang di balik halaman-halamannya.

Kota Negara tentu tidak berhenti berubah. Dalam beberapa tahun terakhir, warung-warung bergaya angkringan tumbuh di berbagai sudut kota. Coffee shop pun bermunculan dengan konsep yang semakin beragam.

Anak-anak muda memenuhi ruang-ruang baru itu. Mereka menikmati kopi, mengerjakan tugas, berbincang, atau sekadar mengabadikan suasana untuk dibagikan di media sosial. Para pelaku usaha tentu jeli membaca perubahan selera dan peluang. Setiap zaman memang melahirkan ruang pergaulannya sendiri.

Saya sesekali mampir ke beberapa tempat itu ketika pulang ke Negara. Saya menikmatinya sebagaimana orang lain. Tidak ada yang salah dengan angkringan ataupun coffee shop. Kehadiran mereka memberi warna baru bagi kota yang terus bertumbuh.

Namun, bersamaan dengan itu, saya juga menyaksikan warung-warung tradisional perlahan semakin terpinggirkan. Bersama mereka ikut memudar kebiasaan yang dahulu terasa begitu lumrah: duduk berlama-lama tanpa merasa harus segera pergi, membaca koran yang telah berpindah dari satu tangan ke tangan lain, atau mengobrol dengan pemilik warung yang mengenal pelanggannya bukan melalui data, melainkan melalui ingatan.

Warung Om Gang akhirnya menjadi bagian dari perubahan itu.

  • Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan esais. Sejak 2018 ia telah menulis 20 buku, kumpulan puisi dan buku kumpulan esai. Ia dapat dijumpai di akun Instagram: @anggawijaya548.

 

Apa Komentar Anda?