Catatan Piala Dunia: Mengapa Kita Menyukai Kuda Hitam?  

Vozinha, Kiper Cape Verde. (Foto: Kiri - Instagram @433 & Kanan - Instagram @fifaworldcup)
Vozinha, Kiper Cape Verde. (Foto: Kiri - Instagram @433 & Kanan - Instagram @fifaworldcup)

Cape Verde  atau Tanjung Verde, negara dimanakah itu?. Sebelum Piala Dunia 2026, mungkin kita di Indonesia tak banyak yang mengenalnya. Negara kepulauan di lepas Pantai Afrika itu hanyalah negara yang lebih kecil dari Bali dengan 600 ribu penduduk.

oleh Angga Wijaya

PENAMPILAN mereka merebut hati penduduk dunia. Terutama setelah di babak 32 besar mampu mengimbangi raksasa sepakbola Argentina dan nyaris menumbangkannya.

Pimpinan Redaksi di media saya bekerja sampai menyadur kata-kata dari Pramoedya Ananta Toer dalam novel “Bumi Manusia”,  untuk menggambarkan perlawanan Vozinha dkk. “Anda sudah melawan, melawan dengan dengan sebaik-baiknya”.

Begitulah dia berharap, tim ini akan menjadi kuda hitam dia ajang pertarungan akbar sepakbola ini bersama Maroko, Mesir dan sejumlah negara lainnya.

Pilihan dukungan kita saat Piala Dunia kadang memang terasa aneh. Kita tidak selalu memilih negara yang paling kuat. Justru sebaliknya, hampir setiap Piala Dunia, simpati publik mengalir kepada tim yang tidak diunggulkan.

Ketika Kamerun mengalahkan Argentina pada pembukaan Piala Dunia 1990, dunia bersorak. Ketika Kroasia melaju hingga final pada 2018, banyak orang berharap negara kecil itu mampu menaklukkan Prancis. Ketika Maroko mencapai semifinal pada 2022, dukungan datang dari berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia.

Mengapa? Mengapa kita begitu mudah jatuh hati kepada mereka yang tidak diperkirakan akan menang? Bukankah mendukung tim besar jauh lebih aman? Pertanyaan itu lama mengendap dalam pikiran saya.

Jawabannya baru saya temukan bukan dari buku tentang sepak bola, melainkan dari penjelasan seorang psikiater. Dalam sebuah materi edukasi, dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ (K), psikiater di Bali Mental Health Clinic, Denpasar, menjelaskan bahwa manusia memiliki kecenderungan berempati kepada pihak yang memulai perjuangan dari posisi yang lebih sulit.

Ketika melihat seseorang atau sekelompok orang menghadapi peluang yang kecil, kita lebih mudah membangun ikatan emosional dengan mereka. Kemenangan mereka terasa lebih memuaskan karena menghadirkan kemungkinan bahwa keterbatasan tidak selalu menentukan hasil akhir.

Penjelasan itu membuat saya berhenti melihat Piala Dunia semata-mata sebagai pertandingan sepak bola. Yang sedang dipertandingkan memang sebuah bola. Namun, yang sesungguhnya dipertaruhkan adalah harapan.

Harapan bahwa nama besar bukan jaminan kemenangan, harapan bahwa sejarah masih dapat ditulis ulang, dan harapan bahwa mereka yang datang tanpa banyak diperhitungkan masih memiliki ruang untuk mengejutkan dunia.

Mungkin karena itulah kita selalu menunggu hadirnya tim yang disebut kuda hitam. Mereka mengingatkan kita pada sesuatu yang sangat akrab dengan kehidupan. Tidak semua orang lahir sebagai unggulan, atau memulai hidup dari garis depan.

Sebagian besar dari kita justru tumbuh sebagai orang-orang biasa yang berkali-kali harus membuktikan diri. Dan mungkin, tanpa kita sadari, setiap kali mendukung sebuah tim yang tidak diunggulkan, kita sedang mendukung bagian kecil dari diri kita sendiri.

Barangkali setiap manusia memang menyimpan sedikit kisah tentang menjadi “kuda hitam”. Kita pernah menjadi murid yang tidak diperhitungkan di kelas. Pernah menjadi pelamar yang tidak dipanggil setelah wawancara.

Pernah mengirim tulisan yang kembali dengan surat penolakan. Pernah berdiri di sebuah ruangan sambil merasa semua orang tampak lebih pintar, lebih berpengalaman, atau lebih berbakat daripada diri kita.

Pengalaman seperti itu membekas lebih lama daripada yang kita sadari. Ia membentuk cara kita melihat dunia. Karena itu, ketika sebuah negara yang nyaris tidak masuk hitungan tiba-tiba mengalahkan salah satu raksasa sepak bola dunia, kita tidak hanya melihat sebuah kejutan olahraga. Kita melihat kemungkinan. Kemungkinan bahwa hidup tidak selalu tunduk kepada ramalan.

Pandangan inilah yang, menurut saya, menarik dari penjelasan dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ (K). Dalam materi edukasinya, beliau menjelaskan bahwa manusia cenderung memberikan simpati kepada pihak yang menghadapi tantangan lebih berat.

 Kemenangan mereka menghasilkan kepuasan emosional yang berbeda karena membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah vonis. Dalam psikologi sosial, kecenderungan itu dikenal sebagai underdog effect.

Saya menyukai penjelasan itu bukan karena menjawab rasa penasaran saya tentang sepak bola, melainkan karena ia menjelaskan sesuatu yang jauh lebih luas. Ia menjelaskan manusia. Saya kemudian teringat bahwa sebelum menjadi wartawan, saya belajar antropologi. Barangkali kebiasaan melihat peristiwa sebagai gejala budaya masih tertinggal hingga sekarang.

Di situlah saya kembali mengingat penjelasan dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ (K). Kecenderungan manusia mendukung pihak yang tidak diunggulkan bukan sekadar soal olahraga. Ia lahir dari kemampuan kita mengenali diri sendiri di dalam perjuangan orang lain. Kita ikut berharap karena kita pernah berharap.

Kita ikut takut kalah karena kita pun pernah berada di ambang kegagalan. Dan ketika mereka berhasil, ada bagian kecil dalam diri kita yang merasa ikut diselamatkan. Barangkali itu sebabnya Piala Dunia tidak pernah hanya menghasilkan juara. Ia juga menghasilkan cerita. Cerita-cerita itulah yang bertahan jauh lebih lama daripada medali.

 Kita masih mengingat tarian Roger Milla. Kita masih mengingat wajah Luka Modrić yang berjalan sambil menahan kecewa setelah final 2018. Kita masih mengingat para pemain Maroko yang memeluk ibu mereka setelah pertandingan usai. Ingatan kita ternyata lebih setia kepada kisah daripada kepada angka-angka statistik.

Sebagai wartawan, saya sering percaya bahwa berita adalah tentang apa yang terjadi. Sebagai penulis esai, saya belajar bahwa yang lebih penting adalah mengapa peristiwa itu menyentuh manusia. Piala Dunia mengajarkan keduanya. Ia memberi kita fakta berupa skor pertandingan. Tetapi ia juga memberi kita cerita tentang harapan, kegagalan, keberanian, dan martabat.

Saya juga mulai memahami mengapa setiap Piala Dunia selalu melahirkan tim yang dicintai publik, meskipun tidak selalu menjadi juara. Kita tidak sedang mencari kesempurnaan kita edang mencari keberanian.

Keberanian untuk tetap bermain ketika semua orang meragukan. Untuk tetap percaya ketika peluang tampak begitu kecil. Juga, keberanian untuk menulis sejarah baru ketika sejarah lama terasa terlalu berat untuk diubah.

 * Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis puluhan buku puisi serta buku kumpulan esai.

 

Apa Komentar Anda?