DENPASAR, kanalbali.id – Gubernur Bali, Wayan Koster menerangkan, kunci utama dalam menyelesaikan persoalan sampah di Bali bukan lagi berfokus di hilir atau Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Melainkan, harus diselesaikan langsung sejak dari hulu atau sumbernya.
Hal tersebut, Gubernur Koster sampaikan saat Apel Siaga Pilah Sampah di Lapangan Niti Mandala, Renon, Kota Denpasar, Bali, Selasa (7/7) sore.
“Kita bersama-sama dapat hadir hari ini, dalam agenda yang sangat penting bagi masa depan bumi kita, yaitu apel siaga pilah sampah dalam rangka mewujudkan Bali
bersih dan asri,” kata Koster.
Ia menerangkan, Pulau Bali saat ini sedang bergerak secara masif dan konsisten menuju Bali bersih sampah. Karena, keindahan alam, kelestarian lingkungan, bahkan ketahanan pangan lokal untuk Bali sangat bergantung pada bagaimana memberlakukan lingkungan, terutama dalam hal pengelolaan sampah.
Kabar Duka dari Bali tentang Si Mola-mola
“Kunci utama untuk menjadikan Bali bersih sampah, tidak lagi bertumpu pada penyelesaian di hilir atau di tempat pembuangan akhir. Melainkan melalui pengolahan sampah sejak dari sumbernya,” katanya.
“Kita ingin memastikan, bahwa sampah selesai di tempatnya, baik itu yang dihasilkan di rumah tangga di desa atau kelurahan, di Desa Adat, pasar, hotel, restoran, kafe, rumah ibadah, sekolah dan perkantoran,” ujarnya.
Upaya itu, telah diimplementasikan dengan Peraturan Gubernur (Pergub) Bali, nomor 47 tahun 2019, yang ditindaklanjuti dengan Surat Edaran (SE) Gubernur Bali nomor 9, tahun 2025 tentang gerakan Bali bersih sampah. Kemudian, langkah paling awal dan paling menentukan dari rangkai pengolahan tersebut adalah pilah sampah dari sumber.
“Pilah sampah, bukan sekadar memisahkan organik dan non-organik Ini adalah wujud nyata dari kesadaran tanggung jawab dan budaya baru bagi krama Bali, dalam rangka menjaga kesucian serta keharmonisan alam beserta isinya,” ujarnya.
“Melalui apel siaga pilah sampah ini, kita jadikan pemilihan sampah sebagai gerakan harian yang melekat di setiap rumah tangga di Bali. Pilah sampah yang dilakukan secara konsisten akan memberi manfaat yang besar bagi alam Bali, small actions, global impact,” ujar Koster.
Sementara, Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq mengapresiasi sebesar-besarnya kepada seluruh jajaran Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali dan seluruh masyarakatnya.
“Karena berdasarkan angka kerentanan pangan nasional yang dikeluarkan Badan Pangan Nasional, maka Provinsi Bali menjadi provinsi tiga terbaik memiliki ketahan pangan yang palingtangguh di seluruh Indonesia,” kata dia.
“Dengan nilai 79,89 indeks. Tentu ini dimaknai kerja keras yang serius dari Bapak Gubernur, jajaran, wali kota, dan para bupati untuk menghadirkan ketersediaan
pangan, keterjangkauan pangan, dan pemanfaatan pangan,” lanjutnya.
Menurutnya, tiga hal penting yang kemudian menjadikan Bali nomor tiga terbaik setelah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur. Kemudian, yang paling membanggakan Kabupaten Badung menjadi kabupaten terbaik ketahanan pangan nasional di Bali.
“Secara keseluruhan, Bali memiliki ketahanan pangan menyeluruh pada delapan kabupaten dan satu kota-nya. Upaya menghadirkan kedaulatan pangan yang demikian masif, kemudian mampu dihadirkan di tengah-tengah kita,” ujarnya.
Ia juga mengatakan, tentu ketahanan pangan tidak juga terlepas dari masalah utama yang muncul beririsan dengan ketahanan pangan, yaitu pengelolaan sampah di Provinsi Bali. Dan Bali dengan jumlah penduduk 4,5 juta jiwa, maka menimbulkan sampah setiap harinya mencapai 3.500 ton per hari.
“Jumlah yang cukup sangat banyak yang kemudian memaksa kita semua untuk melakukan langkah-langkah sistematis dalam penanganan pengelolaan sampah,” ujarnya.
Kemudian di hari ini, telah mendeklarasikan gerakan pilah sampah se-Bali dan berdasarkan data bahwa kabupaten dan kota di Pulau Bali merupakan pemilahan sampah terbesar di Indonesia
“Berdasarkan data yang kami miliki secara kabupaten per kabupaten, secara provinsi dan provinsi. Maka sejujurnya Provinsi Bali ini merupakan provinsi yang melakukan aksi pilah sampah paling besar di nasional kita. tTerutama untuk Kota Denpasar dan Kabupaten Badung,” ujarnya. (kanalbali/KAD)


