Saya tidak sedang membuka buku puisinya. Tidak pula sedang mencari kutipan melalui telepon genggam. Puisi itu datang begitu saja, seolah keluar dari ruang tunggu sebuah Puskesmas yang sedang saya duduki.
Oleh Angga Wijaya
PAGI itu saya datang ke sebuah Puskesmas di Denpasar bukan sebagai pasien yang sedang kesakitan. Saya hanya hendak mengurus surat rujukan ke rumah sakit. Sebuah urusan administratif yang mungkin tampak sederhana, tetapi tetap mengharuskan saya mengambil nomor antrean dan menunggu giliran dipanggil.
Ruang tunggu belum terlalu penuh ketika saya tiba. Seorang ibu muda duduk sambil menggendong bayinya yang sesekali menangis. Di dekat pintu masuk, seorang lelaki tua menopang tubuhnya dengan tongkat.
Seorang perempuan paruh baya memegang map berisi dokumen kesehatan. Di sudut lain, seorang anak kecil tampak gelisah, berkali-kali bertanya kepada ibunya kapan mereka boleh pulang.
Saya duduk di antara mereka. Tidak ada yang saling mengenal. Namun suasana ruang tunggu memiliki caranya sendiri untuk mencairkan jarak. Orang-orang saling memandang, sesekali tersenyum, lalu kembali tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Sesekali terdengar batuk.
Sesekali nama seseorang dipanggil melalui pengeras suara. Selebihnya adalah kesunyian yang dipenuhi harapan agar tubuh segera membaik.
Ruang tunggu Puskesmas selalu menghadirkan pemandangan yang menarik. Ia bukan hanya tempat orang menunggu diperiksa dokter, melainkan juga tempat berbagai lapisan masyarakat bertemu tanpa direncanakan.
Buruh duduk di samping pegawai negeri. Pedagang pasar berbagi bangku dengan mahasiswa. Pengemudi ojek daring menunggu bersama pensiunan. Penyakit tidak pernah bertanya tentang pekerjaan, agama, pilihan politik, ataupun isi rekening seseorang.
Di hadapan rasa sakit, manusia kembali menjadi manusia. Entah mengapa, di tengah suasana pagi itu, ingatan saya melayang pada sebuah puisi yang sudah lama saya baca. Judulnya sederhana, tetapi sulit dilupakan: Reportase dari Puskesmas, karya Wiji Thukul.
Saya tidak sedang membuka buku puisinya. Tidak pula sedang mencari kutipan melalui telepon genggam. Puisi itu datang begitu saja, seolah keluar dari ruang tunggu yang sedang saya duduki.
Barangkali memang demikian cara sastra bekerja. Ia berdiam di dalam ingatan, lalu muncul kembali ketika kenyataan menghadirkan suasana yang serupa.
Puisi itu ditulis pada 1986, empat puluh tahun yang lalu. Indonesia ketika itu masih berada di bawah pemerintahan Orde Baru. Pembangunan menjadi mantra yang terus diulang, tetapi tidak semua orang menikmati hasilnya secara merata. Layanan kesehatan dasar memang terus diperluas, namun fasilitasnya masih sangat terbatas, terutama bagi masyarakat kecil.
Di situlah Puskesmas memainkan peran penting. Banyak orang mengenal Puskesmas hanya sebagai tempat berobat. Padahal, sejak awal pendiriannya, Puskesmas dirancang sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan masyarakat.
Gagasan ini mulai berkembang pada akhir 1960-an ketika pemerintah menyadari bahwa rumah sakit tidak mungkin menjangkau seluruh penduduk Indonesia yang tersebar di ribuan pulau.
Maka dibangunlah Pusat Kesehatan Masyarakat, yang kemudian lebih akrab disebut Puskesmas. Nama itu terasa sederhana, tetapi cita-citanya besar. Negara ingin hadir sedekat mungkin dengan warganya.
Di sanalah bayi memperoleh imunisasi. Balita ditimbang setiap bulan. Ibu hamil memeriksakan kandungannya. Penyakit menular dicegah. Penyuluhan kesehatan dilakukan. Orang-orang yang tidak mampu membayar dokter praktik tetap memiliki tempat untuk mencari pertolongan.
Bagi banyak orang Indonesia, terutama mereka yang tinggal jauh dari kota besar, Puskesmas adalah wajah pertama negara. Kita mungkin mengenal negara melalui bendera, sekolah, kantor desa, atau kepolisian.
Namun bagi seorang ibu yang membawa anaknya demam, bagi seorang petani yang terluka karena sabit, atau bagi seorang nelayan yang terkena infeksi, negara hadir dalam wujud yang lebih konkret, yakni seorang dokter, seorang perawat, seorang bidan, dan sebuah bangunan sederhana bernama Puskesmas.
Karena itu, ruang tunggu Puskesmas sesungguhnya menyimpan begitu banyak cerita. Sayangnya, cerita-cerita itu jarang dicatat. Ia menguap bersama antrean yang selesai setiap sore.
Barangkali itulah yang membedakan Wiji Thukul. Ia melihat sesuatu yang luput dari perhatian banyak orang.
Ketika orang lain melihat Puskesmas sebagai tempat berobat, Thukul melihatnya sebagai panggung kehidupan. Ia mendengar percakapan-percakapan kecil yang dianggap tidak penting.
Ia memperhatikan wajah-wajah lelah yang biasanya hanya menjadi bagian dari keramaian. Ia menyadari bahwa ruang tunggu adalah tempat di mana Indonesia memperlihatkan dirinya apa adanya.
Tidak mengherankan jika puisinya diberi judul Reportase dari Puskesmas. Bukan Puisi tentang Puskesmas, bukan pula Orang-orang Sakit. Ia memilih kata reportase, istilah yang lazim digunakan dalam dunia jurnalistik.
Pilihan itu terasa sangat tepat. Thukul bekerja seperti seorang reporter. Ia mengamati. Ia mendengar. Ia mencatat. Ia tidak sibuk menghias kenyataan dengan metafora yang rumit. Yang ia lakukan justru menghadirkan kenyataan itu sendiri ke hadapan pembaca.
Mungkin karena saya juga bekerja sebagai wartawan, pilihan kata itu selalu terasa akrab. Saya tahu bahwa reportase yang baik tidak lahir dari meja kerja. Ia lahir dari kesediaan untuk berada di tengah kehidupan, mendengar orang lain berbicara, dan membiarkan kenyataan menunjukkan dirinya sendiri.
Itulah yang dilakukan Wiji Thukul melalui puisinya. Ia melaporkan kehidupan, bukan kehidupan para pejabat, dan bukan pula kehidupan orang-orang terkenal. Ia melaporkan kehidupan mereka yang setiap hari mengantre di ruang tunggu Puskesmas.
Dan pagi itu, ketika saya duduk menunggu surat rujukan di sebuah Puskesmas di Denpasar, saya merasa reportase itu belum benar-benar selesai ditulis. Empat puluh tahun telah berlalu. Gedung Puskesmas berubah.
Pelayanannya jauh lebih baik. Sistem kesehatannya berkembang. Namun ruang tunggunya masih menyimpan kisah-kisah yang sama: tentang tubuh yang rapuh, tentang harapan untuk sembuh, dan tentang manusia-manusia biasa yang menjalani hidup dengan tabah.
Saya menunggu nomor antrean dipanggil. Sementara itu, puisi Wiji Thukul perlahan membuka halaman pertamanya kembali. Pernah saya berpikir, mengapa Wiji Thukul memilih kata reportase? Mengapa bukan catatan, potret, atau kisah dari Puskesmas?.
Semakin lama saya membaca puisinya, semakin saya merasa bahwa pilihan itu bukan sekadar permainan judul. Thukul memang sedang melakukan reportase.
Ia datang sebagai orang biasa, mengambil nomor antrean, menunggu, mengobrol dengan pasien lain, lalu mencatat apa yang didengar dan dilihatnya. Tidak ada narasumber penting. Tidak ada konferensi pers. Tidak ada data statistik, tidak ada kutipan pejabat.
Yang ada hanyalah percakapan. “Sakit apa, Pak?” Pertanyaan itu sederhana sekali. Begitu sederhana hingga hampir tidak memiliki nilai berita. Namun justru dari pertanyaan sesederhana itulah sebuah dunia perlahan terbuka.
Lelaki yang ditanya ternyata penjual pakaian rombeng di Pasar Johar. Ia batuk, pilek, pusing, dan sesak napas sekaligus. Tak lama kemudian seorang ibu menyela percakapan dengan rasa lega karena ternyata bukan hanya dirinya yang sedang menderita. Di sudut lain ada seorang tukang kayu yang sudah tiga hari tidak bekerja akibat menginjak paku.
Tidak ada tokoh utama, semua orang adalah tokoh utama. Begitulah reportase yang baik bekerja. Ia tidak mencari sensasi, ttidak memaksakan drama. Ia cukup membiarkan kenyataan berbicara.
Sebagai wartawan, saya sering merasa bahwa pelajaran terbesar tentang reportase justru datang dari karya sastra. Seorang reporter yang baik harus memiliki kemampuan mengamati, tetapi seorang penyair menambahkan satu hal yang kadang luput dari dunia jurnalistik, yaitu, empati.
Reporter mencatat apa yang terjadi, sementara penyair merasakan mengapa peristiwa itu penting.
Dalam diri Wiji Thukul, keduanya bertemu. Ia tidak mengubah ruang tunggu Puskesmas menjadi panggung retorika. Ia juga tidak menjadikannya tempat mengasihani orang miskin. Ia hanya duduk bersama mereka. Sikap itu terasa penting.
Sebab sering kali orang berbicara tentang kemiskinan dari kejauhan. Mereka mengolah angka, membuat grafik, menyusun laporan tahunan. Semua itu penting, tetapi ada sesuatu yang tidak dapat ditangkap oleh statistik, yakni wajah manusia.
Puisi Thukul mengembalikan wajah-wajah itu. Kita mengenal penjual pakaian bekas, tukang kayu, atau ibu yang sedang cemas. Mereka tidak mempunyai nama. Namun justru karena itulah mereka dapat menjadi siapa saja. Mereka bisa menjadi tetangga kita, saudara kita, atau bahkan diri kita sendiri.
Di sinilah saya melihat perbedaan mendasar antara puisi ini dengan banyak puisi sosial lainnya. Thukul tidak berteriak sejak awal, ia tidak langsung menunjuk siapa yang salah. Ia memulai semuanya dengan tubuh yang gatal, barangkali karena ikan laut yang dimakan. Kalimat pembuka itu hampir terasa lucu.
Pembaca diajak masuk melalui pengalaman yang sangat biasa. Tidak ada tanda-tanda bahwa puisi ini akan berubah menjadi kritik sosial yang tajam. Tetapi justru dari pengalaman sehari-hari itulah kritik perlahan tumbuh.
Kita diajak masuk ke ruang tunggu, berdiri bersama orang-orang yang tidak memperoleh kursi, mendengar batuk mereka. Kita ikut menunggu, lalu muncullah bait yang paling sering dikutip dari puisi tersebut. “Puskesmas itu demokratis sekali.” Kalimat itu terdengar seperti pujian. Padahal bukan. Ia adalah ironi. Satire.
Demokratis yang dimaksud bukan karena pelayanan kesehatannya sempurna, melainkan karena semua penyakit diperlakukan hampir sama; sakit gigi, demam, kurap, mencret, sulit tidur. Semuanya memperoleh suntikan yang sama.
Tentu kita memahami bahwa Wiji Thukul sedang melebih-lebihkan keadaan untuk menajamkan kritiknya. Namun satire hanya akan berhasil apabila berangkat dari kenyataan yang dikenali pembaca. Itulah sebabnya bait tersebut begitu kuat. Ia mengandung pengalaman kolektif masyarakat pada zamannya.
Empat puluh tahun kemudian, bait itu dibaca dengan cara yang berbeda. Bukan lagi sebagai gambaran harfiah mengenai pelayanan Puskesmas, melainkan sebagai dokumen sejarah. Ia mengingatkan kita bahwa pelayanan kesehatan Indonesia pernah berada pada fase yang sangat terbatas.
Kemajuan yang kita lihat hari ini tidak muncul begitu saja. Ia lahir melalui perjalanan panjang. Melalui pembangunan fasilitas, pendidikan tenaga kesehatan, melalui berbagai kebijakan yang terus diperbaiki.
Karena itu, membaca Reportase dari Puskesmas hari ini bukan berarti kita sedang menertawakan masa lalu. Justru sebaliknya. Kita sedang diingatkan betapa pentingnya menjaga agar pelayanan publik tidak kembali mundur.
Puisi yang baik memang bekerja seperti penanda zaman. Ia tidak membekukan waktu, tetapi mengajak pembacanya berdialog dengan waktu. Saya membayangkan apabila Wiji Thukul masih hidup dan kembali duduk di ruang tunggu sebuah Puskesmas hari ini.
Barangkali ia tidak lagi menulis tentang semua pasien yang memperoleh suntikan yang sama. Barangkali ia akan mencatat hal-hal lain, misalnya seorang petugas yang sabar menghadapi antrean panjang, seorang dokter muda yang memeriksa pasien satu per satu, atau seorang lansia yang kini bisa berobat menggunakan BPJS tanpa harus memikirkan biaya seperti dahulu.
Namun saya yakin ada satu hal yang tidak akan berubah. Ia tetap akan memilih duduk di antara orang-orang biasa. Sebab di sanalah Indonesia selalu memperlihatkan wajahnya yang paling jujur.
Di ruang tunggu. Di sela-sela batuk. Di antara nomor antrean yang terus berganti. Dan di dalam percakapan-percakapan kecil yang hampir tak pernah masuk ke dalam berita, tetapi justru menyimpan denyut kehidupan yang sesungguhnya.
Nomor antrean saya akhirnya dipanggil. Saya menuju ruang pemeriksaan. Petugas memeriksa berkas, mengajukan beberapa pertanyaan singkat, lalu menyiapkan surat rujukan yang saya perlukan. Prosesnya tidak lama. Semuanya berlangsung tertib. Saya mengucapkan terima kasih sebelum meninggalkan ruangan.
Ketika berjalan keluar, saya kembali melewati ruang tunggu. Orang-orang yang tadi saya lihat sebagian sudah pulang. Kursi mereka kini ditempati wajah-wajah baru. Seorang ayah menggendong anaknya yang tertidur. Seorang perempuan muda sibuk mengisi formulir. Seorang lansia berbincang pelan dengan istrinya. Di layar elektronik, nomor antrean terus berganti.
Ruang tunggu tidak pernah benar-benar kosong. Ia seperti sungai. Orang datang dan pergi, tetapi arusnya terus mengalir. Saya membayangkan Wiji Thukul pernah menyaksikan pemandangan yang hampir sama empat puluh tahun silam.
Barangkali bangunannya berbeda. Cat temboknya berbeda. Kursinya berbeda. Sistem pelayanannya pun berbeda. Namun wajah-wajah yang datang ke sana mungkin tidak jauh berbeda dari hari ini. Mereka tetap datang dengan tubuh yang rapuh dan harapan untuk kembali sehat.
Di situlah saya merasa puisi Reportase dari Puskesmas masih menemukan relevansinya. Bukan karena kondisi pelayanan kesehatan kita tidak berubah. Justru sebaliknya. Banyak hal telah berubah menjadi lebih baik.
Di banyak daerah, Puskesmas kini memiliki gedung yang layak, tenaga kesehatan yang profesional, pelayanan ibu dan anak yang semakin baik, laboratorium, apotek, hingga sistem rujukan yang lebih tertata. Kehadiran BPJS Kesehatan juga membuat jutaan orang dapat mengakses layanan kesehatan yang dahulu sulit mereka jangkau.
Semua itu patut diakui sebagai kemajuan. Mengatakan bahwa Puskesmas hari ini sama persis dengan Puskesmas yang direkam Wiji Thukul pada 1986 tentu tidak adil. Waktu telah membawa perubahan. Banyak tenaga kesehatan bekerja dengan dedikasi tinggi dalam keterbatasan yang masih mereka hadapi.
Mereka adalah wajah lain dari pelayanan publik yang sering luput mendapatkan apresiasi.
Namun kemajuan fasilitas tidak menghapus kenyataan bahwa Puskesmas tetap menjadi ruang perjumpaan yang paling jujur. Di sana kita melihat Indonesia tanpa riasan. Tidak ada panggung. Tidak ada protokoler. Tidak ada pidato.
Yang ada hanyalah manusia. Seorang ibu yang cemas karena anaknya demam. Seorang buruh yang berharap segera sembuh agar besok bisa kembali bekerja. Seorang lansia yang setiap bulan mengambil obat untuk menjaga tekanan darahnya. Seorang mahasiswa yang menunggu hasil pemeriksaan.
Mereka datang dengan cerita yang berbeda, tetapi disatukan oleh satu hal, yakni kebutuhan akan pertolongan. Barangkali itulah sebabnya ruang tunggu Puskesmas selalu terasa begitu manusiawi. Di sana orang belajar bahwa sehat bukan sesuatu yang bisa dianggap biasa. Kita baru menyadari nilai tubuh ketika tubuh mulai memberi tanda-tanda kelelahan.
Sebagai wartawan, saya sering diajarkan bahwa berita besar biasanya lahir dari peristiwa besar. Dari gedung pemerintahan, ruang sidang, rapat kabinet, atau konferensi pers. Akan tetapi, semakin lama bekerja, saya justru semakin percaya bahwa kehidupan sering kali memperlihatkan maknanya di tempat-tempat yang sunyi.
Di pasar, terminal, warung kopi, dan di ruang tunggu Puskesmas. Di tempat-tempat seperti itulah kita mendengar bahasa yang belum dipoles. Keluhan yang belum disusun menjadi pernyataan resmi. Tawa yang muncul di tengah rasa sakit. Kesabaran yang tidak pernah menjadi berita utama.
Mungkin karena itulah saya merasa Wiji Thukul bukan hanya penyair. Dalam banyak puisinya, ia juga seorang reporter yang setia kepada kehidupan sehari-hari. Bedanya, jika berita di surat kabar hanya bertahan sehari, puisinya terus dibaca lintas generasi.
Ironisnya, kita masih terus mencari jejak penyair itu. Hingga hari ini, keberadaan Wiji Thukul setelah peristiwa 1998 tetap menjadi luka yang belum sepenuhnya terjawab dalam sejarah Indonesia.
Ia hilang, tetapi kata-katanya tetap tinggal. Puisi-puisinya masih mengajak kita melihat mereka yang sering tidak terlihat dan mendengar mereka yang suaranya kerap diabaikan.
Mungkin itulah kemenangan sastra atas waktu. Penyair dapat dibungkam. Buku dapat usang. Bangunan dapat direnovasi. Sistem pelayanan dapat berubah.Tetapi pengalaman manusia yang jujur akan selalu menemukan pembacanya.
Ketika meninggalkan Puskesmas pagi itu, saya tidak hanya membawa selembar surat rujukan. Saya juga membawa pulang sebuah ingatan yang kembali dibangunkan oleh puisi.
Saya sadar bahwa saya baru saja menyaksikan sebuah reportase yang terus berlangsung setiap hari. Bukan reportase yang ditulis wartawan untuk koran esok pagi, melainkan reportase yang ditulis kehidupan itu sendiri.
Setiap pasien yang datang membawa satu paragraf. Setiap tenaga kesehatan menambahkan satu paragraf lagi. Setiap ruang tunggu menyimpan bab baru yang mungkin tak pernah dibukukan. Wiji Thukul telah menangkap sebagian kecil dari kisah itu pada 1986.
Empat puluh tahun kemudian, kisah tersebut belum berakhir. Ia terus ditulis oleh orang-orang yang datang silih berganti ke Puskesmas di seluruh Indonesia.
Saya pun melangkah keluar. Matahari Denpasar telah meninggi. Kendaraan berlalu-lalang seperti biasa. Kehidupan kembali bergerak dengan ritmenya sendiri. Di belakang saya, pengeras suara kembali memanggil nomor antrean berikutnya. Ada pasien lain yang berdiri, dan cerita lain yang dimulai.
Dan saya percaya, selama ruang tunggu Puskesmas masih menjadi tempat orang-orang menitipkan harapan untuk sembuh, selama itu pula Reportase dari Puskesmas akan tetap menjadi puisi yang hidup.
Ia tidak hanya berbicara tentang sebuah Puskesmas di Semarang pada 1986, melainkan tentang Indonesia yang terus berusaha merawat warganya, sekaligus tentang manusia yang, di tengah segala keterbatasan dan kemajuan zaman, selalu membutuhkan satu sama lain. Barangkali, pada akhirnya, Puskesmas bukan sekadar fasilitas kesehatan.
Ia adalah ruang tunggu bernama Indonesia. ***


