- Piala Dunia sepak bola merubah perilaku dan pergaulan umat manusia di seluruh dunia.
- Bangsa-bangsa yang negaranya tak terwakili di piala dunia turut terlibat secara emosional berbagai kegembiraan dan kesedihan.
- Piala dunia memberi kesempatan orang-orang untuk memiliki harapan
Oleh Angga Wijaya
Saya tidak pernah benar-benar akrab dengan sepak bola. Waktu masih duduk di bangku sekolah dasar, saya pernah bermain di sebuah lapangan dekat rumah seorang teman.
Saya tidak ingat siapa yang menang sore itu. Saya juga tidak ingat apakah sempat mencetak gol atau tidak.
Yang masih saya ingat justru rasa nyeri ketika kaki saya keseleo saat berebut bola. Cedera itu memang tidak terlalu parah.
Beberapa hari kemudian saya sudah kembali bersekolah seperti biasa. Namun, sejak sore itulah saya kehilangan minat bermain sepak bola.
Saya lebih sering menjadi penonton daripada pemain.
Namun, setiap empat tahun sekali, saya selalu menunggu Piala Dunia. Bukan karena saya tiba-tiba berubah menjadi penggemar sepak bola, melainkan karena saya menikmati sesuatu yang berlangsung di luar lapangan.
Saya menikmati cara sebuah pertandingan mengubah perilaku manusia.
Warung kopi yang biasanya memperbincangkan harga beras atau politik mendadak dipenuhi diskusi tentang keputusan wasit.
Grup WhatsApp keluarga yang sehari-hari sunyi tiba-tiba ramai oleh cuplikan gol dan saling menggoda antarpendukung.
Orang-orang yang sepanjang tahun tidak pernah membicarakan Uruguay, Kroasia, atau Maroko, mendadak hafal nama para pemainnya.
Piala Dunia mengubah percakapan. Bahkan lebih dari itu, ia mengubah identitas. Selama sembilan puluh menit, seseorang di Denpasar dapat merasa menjadi warga Argentina.
Seorang pedagang di Jembrana tiba-tiba merasa kecewa ketika Brasil tersingkir. Seorang mahasiswa di Yogyakarta ikut bangga bila Maroko mengalahkan Portugal.
Padahal mereka tidak lahir di negara-negara itu. Mereka bahkan mungkin belum pernah menginjakkan kaki di sana.
Saya selalu merasa ada sesuatu yang menarik di balik fenomena tersebut. Indonesia belum pernah benar-benar menjadi peserta Piala Dunia.
Kita tumbuh sebagai penonton. Kita mengenal sejarah turnamen itu melalui kisah bangsa lain.
Meminjam Kegembiraan dan Kesedihan
Kita meminjam kegembiraan, meminjam kesedihan, bahkan meminjam rasa bangga dari negara-negara yang sesungguhnya jauh dari kehidupan kita.
Dari sudut pandang antropologi, Piala Dunia tidak hanya mempertemukan tim-tim nasional, tapi juga mempertemukan ritual.
Cobalah perhatikan apa yang terjadi setiap empat tahun sekali; orang-orang rela mengubah jam tidurnya. Mereka berkumpul di warung kopi, balai banjar, pos ronda, atau ruang keluarga.
Ada yang mengenakan jersey yang sama setiap kali tim favoritnya bermain karena merasa itu membawa keberuntungan. Ada yang memilih duduk di kursi yang sama.
Ada yang menolak diganggu ketika pertandingan dimulai. Bahkan tidak sedikit yang menganggap kekalahan tim favoritnya mampu merusak suasana hati sepanjang hari.
Semua itu, dalam bahasa antropologi, adalah ritual. Ritual tidak selalu berkaitan dengan agama Ritual adalah tindakan yang dilakukan bersama-sama, berulang-ulang, sehingga menciptakan rasa memiliki terhadap sebuah komunitas.
Piala Dunia melakukan hal itu dalam skala yang nyaris mustahil dibayangkan. Selama sebulan, miliaran manusia membentuk komunitas yang tidak pernah saling bertemu, tetapi mengalami emosi yang sama pada waktu yang sama.
Mereka tertawa bersama, kecewa bersama, dan berharap bersama. Di situlah saya mulai memahami mengapa sepak bola sering disebut sebagai bahasa universal.
Bukan karena semua orang memahami aturan permainannya, melainkan karena semua orang memahami harapan.
Ironi Indonesia
Namun, ada satu ironi yang selalu saya rasakan sebagai orang Indonesia. Kita adalah bangsa yang sangat berisik ketika Piala Dunia berlangsung, tetapi suara kita tidak pernah terdengar di lapangan.
Kita ikut mengibarkan bendera negara lain, hafal warna jersey mereka, atau hafal sejarah kemenangan mereka.
Namun, kita belum memiliki sejarah kita sendiri. Mungkin karena itulah kita begitu mudah meminjam harapan dari bangsa lain.
Ketika Argentina menang, sebagian dari kita merasa ikut menang. Ketika Brasil kalah, sebagian lagi merasa ikut kehilangan.
Pun juga Maroko melaju ke semifinal, kita ikut percaya bahwa negara yang tidak diperhitungkan pun dapat mengubah sejarah.
Sesungguhnya, yang sedang kita pinjam bukan identitas mereka, melainkan harapan mereka. Dan saya kira, tidak ada yang salah dengan itu. Sebab setiap bangsa membutuhkan harapan.
Begitu pula setiap manusia. Harapan membuat orang tua tetap bekerja meskipun hasil panennya belum tentu baik.
Harapan membuat mahasiswa bertahan menyelesaikan skripsinya. Atau juga, harapan membuat seorang penulis terus mengirim naskah, meskipun berkali-kali ditolak.
Harapan pula yang membuat jutaan orang tetap duduk di depan televisi, menunggu peluit panjang berbunyi, sambil percaya bahwa malam itu akan lahir sebuah kejutan.
Saya akhirnya sampai pada satu kesimpulan yang sederhana, bahwa barangkali saya memang tidak pernah menjadi pemain sepak bola.
Cedera kecil yang saya alami ketika masih duduk di bangku sekolah dasar telah membuat saya memilih jalan yang berbeda.
Saya lebih sering berdiri di pinggir lapangan daripada berlari di atas rumput. Saya tumbuh tanpa hafal formasi, tanpa mengoleksi jersey klub, tanpa menghabiskan setiap akhir pekan untuk mengikuti liga-liga Eropa.
Namun, justru dari pinggir lapangan itu saya melihat sesuatu yang mungkin tidak selalu tampak oleh mereka yang sibuk mengejar bola.
Yang paling menarik dari sepak bola ternyata bukan sepak bolanya, melainkan manusia. Saya melihat bagaimana sebuah pertandingan mampu mempertemukan orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal.
Saya melihat warung kopi berubah menjadi ruang percakapan yang hangat.
Pun juga saya melihat seorang ayah dan anak yang biasanya sibuk dengan urusan masing-masing, malam itu duduk berdampingan menatap layar televisi.
Saya melihat orang-orang yang berbeda pekerjaan, berbeda usia, bahkan berbeda pilihan politik, tiba-tiba menemukan satu topik yang membuat mereka tertawa bersama.
Sepak bola menghadirkan sesuatu yang semakin langka pada zaman ini. Ia menghadirkan kebersamaan.
Mungkin kebersamaan itu hanya berlangsung sembilan puluh menit. Namun, bukankah banyak kenangan baik dalam hidup juga tidak berlangsung lama?
Indonesia mungkin masih menjadi penonton di panggung terbesar sepak bola dunia. Kita belum pernah menyanyikan “Indonesia Raya” sebelum pertandingan Piala Dunia dimulai.
Kita belum pernah merasakan ketegangan ketika tim nasional kita memasuki lapangan bersama tiga puluh satu atau empat puluh tujuh negara lain.
Namun, barangkali menjadi penonton juga mempunyai pelajarannya sendiri. Menonton membuat kita belajar membaca orang, membuat kita memahami bahwa kemenangan tidak selalu lahir dari mereka yang paling dijagokan.
Menonton membuat kita percaya bahwa kejutan masih mungkin terjadi.
Dan bukankah hidup juga bekerja dengan cara seperti itu?.Tidak semua orang yang diperkirakan berhasil benar-benar berhasil.
Tidak semua orang yang diremehkan akan terus berada di belakang. Dan, tidak semua cerita berakhir seperti ramalan.
Saya teringat kembali kepada anak kecil yang suatu sore pulang dengan kaki keseleo dari sebuah lapangan sederhana.
Ia mungkin tidak menyangka bahwa puluhan tahun kemudian ia masih akan menulis tentang sepak bola, bukan sebagai pemain, bukan sebagai pelatih, bahkan bukan sebagai penggemar fanatik.
Ia menulis sebagai seseorang yang berdiri di pinggir lapangan, mengamati wajah-wajah para penonton.
Sebab pada akhirnya, yang paling menarik dari Piala Dunia bukanlah siapa yang mengangkat trofi, melainkan bagaimana selama sembilan puluh menit, manusia dari berbagai bangsa bersedia meminjam harapan, meminjam kegembiraan, bahkan meminjam kesedihan dari bangsa lain.
Lalu, ketika peluit panjang berbunyi dan televisi dimatikan, mereka kembali menjadi diri sendiri. Mungkin hanya membawa satu hal pulang.
Harapan bahwa dalam kehidupan yang mereka jalani, selalu ada ruang bagi kejutan. Bahwa nasib tidak pernah selesai ditentukan oleh prediksi. Dan bahwa mereka yang hari ini dianggap tidak diunggulkan, suatu hari nanti dapat mengubah jalan cerita. ***
Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis puluhan buku puisi serta buku kumpulan esai.


