Setelah Tepuk Tangan Terakhir

Penulis: I Ketut Angga Wijaya

 TEPUK TANGAN panjang bergema di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Bali, tepat ketika jarum jam menunjuk pukul 23.00 Wita. Para penari membungkukkan badan memberi hormat untuk terakhir kalinya sebelum menghilang di balik panggung. Irama gamelan berhenti. Lampu sorot yang sejak sore menyinari pertunjukan perlahan dipadamkan satu per satu.

Tribun mulai kosong. Seorang ayah menggendong anaknya yang tertidur pulas setelah menikmati pertunjukan. Sekelompok remaja masih sibuk berfoto di depan panggung. Beberapa wisatawan berjalan santai menuju area parkir sambil sesekali menoleh ke arah Ardha Candra yang perlahan kembali sunyi.

Di sisi lain, para pedagang mulai melipat meja dagangan. Kru pertunjukan membongkar tata lampu dan perangkat suara. Sebuah truk logistik perlahan masuk ke belakang panggung, membawa perlengkapan yang akan digunakan pada pertunjukan esok hari.

Bagi sebagian besar pengunjung Pesta Kesenian Bali (PKB), malam itu telah berakhir. Namun, bagi I Putu Richard, malam baru saja dimulai. Handy talkie di pinggang anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Provinsi Bali itu berderak pelan. “Posko, patroli sisi timur.”

Richard menjawab singkat, lalu melangkah menyusuri pelataran Taman Budaya. Pandangannya menyapu deretan kursi tribun, lorong menuju panggung, hingga kawasan pameran yang mulai lengang. Sesekali ia berhenti, memperhatikan setiap sudut yang beberapa menit sebelumnya dipenuhi ribuan orang.

Di bawah salah satu kursi tribun, sebuah botol minum anak masih tertinggal. Tak jauh dari sana, seorang perempuan menghampiri posko informasi untuk melaporkan dompetnya yang belum ditemukan. Situasi seperti itu hampir selalu dijumpai setiap malam selama penyelenggaraan Pesta Kesenian Bali (PKB).

Ketika para penonton pulang membawa kenangan tentang tari, tabuh, dan pertunjukan seni, Richard bersama puluhan petugas lain justru memastikan tak ada persoalan yang tertinggal.

Menurut Kepala Satpol PP Provinsi Bali, I Dewa Nyoman Rai Dharmadi, pengamanan PKB tidak pernah dilakukan dengan pola yang sama dari tahun ke tahun. Setiap penyelenggaraan selalu dievaluasi untuk melihat kebutuhan di lapangan.

“Pengamanan PKB setiap tahun selalu kami evaluasi. Polanya kami tingkatkan. Personel tidak hanya ditempatkan di pintu-pintu masuk, tetapi juga bergerak melalui patroli terpadu di seluruh kawasan Taman Budaya. Kami bekerja bersama kepolisian, TNI, pecalang, Satpol PP Kota Denpasar, Dinas Perhubungan, BPBD, sampai Damkar. Jadi pengamanan ini memang dilakukan secara bersama-sama,” katanya.

Sekitar 100 personel diterjunkan setiap hari dan dibagi ke dalam dua shift. Sejak pagi mereka mengatur arus pengunjung, membantu memberikan informasi, hingga mengawasi berbagai titik keramaian. Ketika pertunjukan berakhir sekitar pukul 23.00 Wita, sebagian besar orang mengira pekerjaan mereka juga selesai. Anggapan itu keliru.

“Tentu setelah acara selesai kami tetap melaksanakan patroli. Kami memastikan tidak ada kehilangan, tidak ada pencurian, termasuk mengawasi barang milik pedagang maupun perlengkapan pertunjukan yang sudah dipersiapkan untuk agenda berikutnya,” ujar Rai Dharmadi.

Patroli malam menjadi pekerjaan yang jarang diketahui pengunjung. Di belakang panggung, aktivitas justru masih berlangsung. Kru produksi membongkar tata suara, pekerja mengangkut properti pertunjukan, sementara kendaraan logistik mulai berdatangan membawa perlengkapan baru.

“Setiap selesai agenda malam, masih ada perlengkapan yang masuk untuk persiapan pertunjukan berikutnya. Barang-barang milik pedagang juga masih ada yang ditinggalkan. Itu semua menjadi perhatian kami sampai malam agar tetap aman,” kata Rai Dharmadi.

Sesekali handy talkie di pinggang Richard kembali berbunyi. Informasi berpindah dari satu titik ke titik lain. Ada laporan pintu sisi utara sudah steril, ada juga pemberitahuan kendaraan logistik yang baru memasuki kawasan. Koordinasi berlangsung singkat, tanpa suara yang meninggi.

Menurut Rai Dharmadi, tantangan pengamanan biasanya muncul ketika agenda tertentu mampu menarik pengunjung dalam jumlah besar, seperti lomba baleganjur atau pementasan barong.

“Kalau ada lomba baleganjur, barong, atau pertunjukan tertentu, jumlah pengunjung memang meningkat cukup banyak. Tetapi kami bersyukur masyarakat yang datang mengikuti Pesta Kesenian Bali cukup tertib dan patuh terhadap ketentuan yang berlaku,” ujarnya.

Ketertiban itulah yang paling dirasakan Richard selama bertugas. “Masyarakat Bali pintar-pintar. Mereka patuh dan disiplin,” katanya. Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, di baliknya tersimpan perubahan yang dibangun melalui proses panjang.

Menurut Rai Dharmadi, pendekatan yang dilakukan selama ini lebih mengedepankan edukasi daripada penindakan. Pengunjung terus diingatkan melalui pengeras suara agar mematuhi tata tertib, menjaga kebersihan, dan menghormati kawasan pertunjukan.

Salah satu perhatian utama adalah pengurangan sampah plastik sekali pakai. “Kami terus melakukan sosialisasi mengenai pembatasan sampah plastik sekali pakai. Kecenderungannya terus menurun setiap hari. Artinya kesadaran masyarakat menjaga kebersihan Taman Budaya semakin baik dari tahun ke tahun,” katanya.

Suara pengumuman beberapa kali terdengar hingga menjelang penutupan kawasan. Pengunjung diimbau membuang sampah pada tempatnya dan tidak merokok di sekitar lokasi pertunjukan.

“Kawasan tanpa rokok memang belum bisa diterapkan sepenuhnya. Tetapi di lokasi pertunjukan kami terus memberikan imbauan melalui pengeras suara. Di sana banyak anak-anak dan keluarga sehingga kami ingin semua orang bisa menikmati pertunjukan dengan nyaman,” jelas Rai Dharmadi.

Pendekatan persuasif itu, menurutnya, mulai memperlihatkan hasil. Kesadaran masyarakat tumbuh dari tahun ke tahun sehingga suasana PKB menjadi semakin tertib.

“Masyarakat sekarang jauh lebih tertib. Ini bukan proses satu tahun. Edukasi sudah kami lakukan sejak penyelenggaraan PKB tahun-tahun sebelumnya. Kami berharap budaya tertib ini terus terjaga,” katanya.

Setiap pergantian shift, seluruh personel berkumpul untuk mengikuti apel singkat. Laporan kejadian selama bertugas dicatat dalam buku jaga, mulai dari barang yang tertinggal, anak yang sempat terpisah dari orang tuanya, hingga berbagai informasi lain yang perlu ditindaklanjuti.

“Semua kejadian kami catat dalam buku jaga, mulai dari kehilangan kunci, dompet, sampai anak yang terpisah dari orang tuanya. Itu semua menjadi perhatian kami,” ujar Rai Dharmadi.

Menjelang tengah malam, Richard menyelesaikan patroli terakhirnya. Pintu-pintu akses mulai ditutup. Lampu di sebagian kawasan dipadamkan. Pelataran yang beberapa jam sebelumnya dipenuhi ribuan orang kini hanya menyisakan beberapa pekerja panggung dan petugas keamanan.

Ia berhenti sejenak menatap Panggung Terbuka Ardha Candra yang telah kembali sunyi. Esok sore, ribuan orang akan datang lagi. Mereka akan menikmati tari, tabuh, seni rupa, dan berbagai pertunjukan yang menjadi denyut Pesta Kesenian Bali.

Mungkin tak banyak yang mengenali Richard atau petugas lain yang berjaga di setiap sudut kawasan. Mereka tak pernah berdiri di atas panggung, tak pernah menerima tepuk tangan, dan nama mereka jarang disebut dalam rangkaian acara.

Namun, sebelum penonton pertama memasuki gerbang, mereka sudah lebih dulu mengambil posisi. Dan ketika tepuk tangan terakhir kembali berhenti, merekalah yang memastikan malam benar-benar berakhir dengan aman. ***

Apa Komentar Anda?