Begini Prinsip Kebaikan dan Kehati-hatian Diterapkan di Ruang Digital

pixabay by TheDigitalArtist

JIKA KITA  ingin diperlakukan baik oleh orang lain, maka berbuat baiklah pada sesama. Prinsip tersebut yang selayaknya dipegang bila kita tidak ingin diperlakukan buruk oleh orang lain.

Yakobus Fahik, yang berprofesi sebagai dosen, saat berbicara dalam Webinar Literasi Digital wilayah Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, Jumat 26 November 2021 mengatakan hal tersebut sejalan dengan karma. Hal ini juga berlaku saat berinteraksi di ruang digital.

“Di dunia digital kita harus menyadari bahwa kita berinteraksi juga dengan manusia sehingga kita perlu menerapkan etika dan prinsip kebaikan tersebut,” katanya.

Bila merujuk pada pandangan ahli, K. Bertens, etika bisa dipahami dalam dua arah yaitu aras praktis dan aras reflektif. Dalam arah praktis etika disebutnya etika praktis dan dalam arah reflektif etika disebutnya etika reflektif (ilmu).

Implementasi etika yang baik dan benar juga sudah ditetapkan oleh undang-undang. Saat ini, undang-undang ITE merupakan aturan terkuat yang mengatur keamanan dan ketertiban umum di ruang digital.

“Sudah ada garis tegasnya. Kalau kita benar-benar membaca, dalam UU ITE tertuang mengenai batasan kebebasan, apa yang menjadi acuan bagi kita untuk bisa mengunggah atau sekadar beropini,” katanya lagi.

Oleh karena itu, kita harus punya prinsip kehati-hatian dalam beraktivitas di ruang digital. Lebih dari itu, netizen perlu menyaring segala perilaku dan informasi dengan mengandalkan hati nurani kita.

“Ketika kita bergerak di dunia maya di dunia digital itu kita sudah bergerak di dunia publik. Jadi bukan lagi privasi, tapi sudah menjadi konsumsi bersama,” katanya.

BACA JUGA:

Hati-Hati Berita Hoaks

Sehingga kita juga harus mengandalkan hati nurani kita dan hati nurani ini untuk menjadi kuat itu dia harus sama beratnya dengan norma yang lain.

Jadi kita juga tidak bisa memahami kebebasan kita itu sebagai sesuatu yang kemauan kita saja. Tapi di sini kita harus ada tanggung jawab harus ada kehati-hatian. Kita harus melakukan etika di ruang digital sama dengan seperti di dunia nyata.

Dan satu yang juga jadi dasar adalah bahwa hati nurani bisa diandalkan dalam implementasi etika digital.

Hati nurani merupakan hal yang khas manusia. Hati nurani ada pada manusia yang baik yang beragama maupun yang tidak beragama. Tetapi pertanyaannya adalah apakah hati nurani bisa diandalkan dalam dunia digital?

Selain Yakous juga hadir pembicara lainnya yaitu Chyntia Andarinie, Founder Mom Influencer.ID, Rizky Rahmawati, SH, LLM, Advokat dan Managing Partner Law Office Amali and Ass dan Fotriyani sebagai Key Opinion Leader.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital. (KANALBALI/RLS)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.