Jadilah Bijak dalam Bersosial Media, Ingat Etika dan Resikonya

TELUK BINTUNI – Hampir semua orang di era digitalisasi ini mengetahui apa itu media sosial dan internet. Namun, bijak tidaknya seseorang memanfaatkan digitalisasi ini tergantung kepada masing-masing individu.

Menurut Melanie Subono, tidak semua orang memiliki rasa empati, etika, dan kesadaran untuk menggunakan media sosial dengan baik. Orang-orang tersebut yang menciptakan keributan dan kegaduhan di media sosial.

“Begitu banyak hal positif, persatuan, pertemanan, dan persaudaraan yang terbentuk dari media sosial. Tidak selamanya kita harus berantem di medsos,” ujar Melanie di acara Webinar wilayah Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, Kamis (17/6/2021)

Melanie mengatakan, media sosial itu penuh dengan perbedaan. Terdapat ratusan juta bahkan triliunan orang yang kita kenal hanya dari foto. Kalau tidak ingin hidup dalam perbedaan, disarankan untuk tidak bermain media sosial.

“Punya pilihan berbeda bukan berarti harus bermusuhan. Jutaan orang yang tidak saling kenal bisa bersatu dan bikin hal yang baik. Itu demokrasi, toleransi, dan bantuan,” ujar Melanie.

Ungkap Melanie, perbedaan itu akan selalu ada. Dalam menggunakan media sosial secara bijak, setiap orang bisa memberikan kalimat kebaikan ke seluruh dunia.

ilustrasi media sosial – pixabay

“Daripada menjadi sumber masalah untuk orang lain. Kita punya power untuk menciptakan perdamaian dunia di media sosial lewat kebaikan, toleransi, dan demokrasi,” tutur Melanie.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, Kamis (17/6/2021) ini juga menghadirkan pembicara Barkah Alkhaliq (Account Director Weber Shandwick), Harianto Mumua (Kepala SMA Muhammadiyah dan Sekretaris PGRI Kabupaten Teluk Bintuni), Sukojo Efendi (Bendahara 2 PDM), dan Adelita.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. (kanalbali/RLS)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.