Perubahan Interaksi di Era Digital Sebabkan Krisis Identitas

BOGOR – Budaya digital diartikan sebuah konsep yang menggambarkan bagaimana teknologi dan internet membentuk cara kita berinteraksi sebagai manusia. Yaitu mulai dari berperilaku, berpikir, dan berkomunikasi dalam masyarakat.

Muncul masalah baru yang sering kini terjadi pada netizen di Indonesia dengan sibuk bermain gadget yaitu menurunnya atensi atau konsentrasi, terganggunya kesehatan mental, hingga merusak kualitas hubungan, memiliki gaya hidup buruk, dan risiko tindak kejahatan.

“Saya sering mendapati anak jadi tidak terasah kemampuan motoriknya dan bullying ini bukan main-main semakin ke sini banyak anak-anak stress karena membandingkan hidupnya,” ujar Oriza Sativa, seorang Psikolog Klinis saat webinar Literasi Digital Kabupaten Bogor, Jawa Barat Senin (28/6/2021).

Berbagai permasalahan pada anak, juga menghantui di era yang serba digital seperti munculnya krisis identitas karena melihat kehidupan orang lain yang tampak sempurna. Ada juga kondisi kecanduan game maupun gadget, paparan aliran radikalisme, berbagai gangguan klinis perilaku, risiko terkait pelecehan seksual online, dan bahaya konsumtif.

Lebih jauh Oriza mengatakan, masyarakat seharusnya bisa mendapatkan manfaat dari penggunaan teknologi untuk mempermudah kehidupan. Bukan justru merugikan seperti permasalahan yang tengah terjadi pada netizen Indonesia saat ini.

“Dasarnya adalah nilai hidup, bahwa sebenarnya budaya adalah cara hidup yang berkembang dan dimiliki masyarakat,” katanya.

Dengan dasar budaya atau sikap hidup yang baik dan pentingnya anak-anak atau generasi muda untuk punya nilai hidup agar hidupnya berkualitas. Nilai-nilai seperti menyayangi sesama, hormat kepada orang tua, memaafkan, berbagi, hingga nilai kemandirian dan kedisiplinan perlu ditanamkan orang tua sebagai nilai kehidupan anak.

Begitu pun nilai hidup usia dewasa, yang harus memiliki integritas, kesetiaan, kejujuran, mau bekerja keras, memiliki ketabahan, dan harga diri. Oriza juga memberikan panduan bagi orang tua, agar bisa menjadi role model bagi anak-anak, di mana orang tua sendiri harus melek teknologi.

“Nilai hidup yang ditanamkan akan diwariskan kepada generasi, konteks budaya tidak lepas dari nilai hidup,” kata Oriza lagi.

Nilai hidup, fungsi keluarga, arti teman dan pertemanan, lakukan literasi digital serta pantau aktivitas berinternet anak. Jaga hubungan baik dengan sahabat dan teman anak anda, tetap tumbuhkan nilai-nilai kehidupan agar terciptanya literasi digital yang berkualitas.

Panduan bagi orang dewasa agar tidak terjebak pada perubahan interaksi sosial dan penggunaan teknologi adalah dengan menyelaraskan waktu antara berinternet dan bersosialisasi, budayakan mengecek fakta sebelum berbagi segala informasi. Di samping itu tumbuhkan kualitas hidup yang positif agar tidak terjebak dalam perilaku tidak sehat dalam berinternet.

Webinar Literasi Digital untuk wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat I merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi. Di webinar kali ini hadir pula nara sumber lainnya yaitu Dee Rahma seorang Digital Marketing Strategis, Siti Aminah Komisioner Komnas Perempuan, dan Benny Daniawan Dosen Sistem Informasi Universitas Buddhi Dharma. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya digital skills, digital ethics, digital safety dan digital culture untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital. (kanalbali/RLS)