DENPASAR, kanalbali.id – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno mengatakan, bahwa untuk menghadapi pengaruh resesi global pihaknya akan menggenjot wisatawan nusantara.
Ia menerangkan, pihaknya juga sudah memetakan lima pasar utama wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia, khususnya ke Bali. Yaitu, Australia, Singapura, Malaysia, India dan juga Inggris dan tetap optimis bahwa pariwisata di Indonesia akan tetap bangkit karena berbasis budaya dan alam yang masih diminati oleh wisman.
“Jadi kita sudah memetakan lima pasar utama kita, Australia, Singapura, Malaysia India, per hari ini, sama Inggris. Apalagi Inggris, mengalami tekanan dari segi permintaan tapi kita menyakini dengan kekuatan produk wisata kita berbasis alam dan budaya, kita akan bisa menjaga ritme kebangkitan dan momentum kepulihan kita,” kata Menteri Sandi, saat menghadiri
peresmian Kampus UMKM Shopee Ekspor Bali, yang berlokasi di Sanur, Denpasar Selatan, Rabu (5/10).
Ia juga menyebutkan, untuk kunjungan wisman ke ke Indonesia di tahun depan pihaknya mentargetkan 5 juta dan tahun ini 2,5 juta. Tetapi, dengan adanya inflasi dan resesi yang akan menjadi tulang punggung ialah wisatawan nusantara atau domestik.
“Kita mentargetkan tahun depan, kita bisa mencapai angka 5 juta dan tahun ini sekitar 2,5 juta dari wisatawan mancanegara. Namun, yang akan sangat menentukan wisatawan nusantara kita. Wisatawan nusantara kita yang akan menjadi tulang punggung,” ujarnya.
“Ini yang kita genjot, karena kekuatan kita adalah pasar domestik sampai ke 1,4 miliar pergerakan, ini angka yang cukup fantastis tapi dengan kerjasama semua pihak kolaborasi, sinergi saya yakin bisa mencapai,” jelasnya.
Sementara, untuk kunjungan wisman ke Pulau Dewata pihaknya juga optimis masih banyak wisman ke Bali, karena pariwisata Bali masih banyak diminati. “Bali masih sangat diminati, kita menyikapi dengan penuh kehati-hatian, harapannya tetap akan meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penerbangan,” ujarnya.
Selain itu, pihaknya juga menyatakan
saat ini Indonesia menghadapi inflasi dan di tahun depan diprediksi akan ada resesi global. “Saya ingin menyampaikan pesan Bapak Jokowi langsung kepada saya, kepada kita semua, mari kita bergandengan tangan karena kita sekarang menghadapi inflasi tapi tahun depan ada potensi resesi,” ungkapnya.
Ia menyampaikan, untuk dampak inflasi
produk harga UMKM akan naik dan daya beli bagi masyarakat semuanya akan semakin mahal. “Itu, harus kita sikapi dengan peningkatan supply dan penguatan rantai distribusi kita agar sederhana dan berkeadilan,” imbuhnya.
Kemudian, yang kedua adalah adanya potensi resesi atau perlambatan ekonomi yang berujung kehilangan penciptaan lapangan kerja dan tambahnya pengangguran. “Bagaimana mengatasinya simpel, karena UMKM itu 97 persen lapangan kerja kita dan mari kita bersama-sama gunakan kesempatan ini untuk mampu menghadirkan solusi bagi bangsa,” ujarnya.
Kendati demikian, pihaknya sudah melakukan kajian untuk menghadapi inflasi dan resesi tersebut dengan menyiapkan beberapa program untuk menguatkan UMKM yaitu salah satunya dengan berbasis digitalisasi.
“Ini sudah melakukan kajian mendalam. Yang tahun ini, kita hadapi adalah inflasi dan meminjam istilah presiden tahun ini sulit. Karena, semua harga-harga meningkat dan untuk potensi resesi itu adalah perlambatan pertumbuhan ekonomi yang biasanya memicu pengurangan aktivitas usaha yang bisa menimbulkan PHK,” ujarnya.
“Kami, menyiapkan beberapa program-program yang mengantisipasi inflasi dan penguatan supplier dan memudahkan dan melancarkan rantai distribusi yang transparan dan juga berkeadilan berbasis digitalisasi. Tapi, untuk untuk menghadapi potensi resesi kita bertopang kepada UMKM karena UMKM ini adalah obat mujarab menghadapi resesi. Dimana UMKM ini, menciptakan 97 persen lapangan kerja,” ujarnya. (Kanalbali/kad)



Be the first to comment