
DENPASAR, kanalbali -Event tahunan ART Bali kembali digelar di Nusa Dua dengan melibatkan 32 perupa. Mereka diminta menafsir tema ‘Speculative Memori’ sesuai dengan genre dan gaya mereka sendiri.
Menurut kurator pameran Rifky Effendi, pemilihan tema itu karena melihat realitas masyarakat yang mengalami paradoks. Di satu sisi, kenyataaan ditafsirkan tanpa mengacu pada latar sejarah tertentu. Tetapi kemudian dihadirkan kembali secara kontradiktif seperti pada munculnya militansi dalam beragama.
“Disini para seniman menangkap fenomena itu sesuai dengan tafsiran mereka, dengan simbol dan tehnik yang berbeda-beda,” tegasnya.
Salah-satu yang menarik adalah karya Arramaini yang menampilkan, aneka bendera sebagai lambang dialog peradaban. Karya ini adalah proses kreatif yang sudah dijalankan sejak tahun 2006 dan mengandung misi untuk menyebarkan toleransi.
Tak Cuma Seminar, Konferwil AMSI III Juga Sediakan Cek Kesehatan oleh KIinik Utama Kasih Ibu Dalung

Ada juga karya yang menggunakan semacam kaligrafi sebagai tulisan yang indah namun bila diamati ternyata dilatarbelakangnya terlihat munculnya alat perang. Sementara karya Fransizka Fennert dari Jerman mensimbolisasikan cara pandang terhadap bangsa barat dengan dua buah patung. Satu sisi adalah barat sebagai simbol modernitas, satu lainnya adalah barat yang kolonial.
5 Langkah Menjadi UMKM di Era Pandemi
Sementara perupa Wayan Sujana Suklu yang turut serta dalam pameran menyebut, dirinya akan membuat instalasi seni dari bambu sebagai tafsir eksistensial terhadap tubuh dan kehidupannya. “Tema ini membuat saya merenungi keberadaan sebagai wujud fisik yang hidup dalam aneka konsep fisika,” sebutnya. Tapi dia menyebut, karyanya juga akan membuka ruang apresiasi bagi semua penonton dalam interaksi yang terbuka dengan kondisi sekitarnya.

Yang menarik, bakal ada juga karya-karya yang menafsir ulang peristiwa tahun 1965. Salah-satunya adalah penampilan artefak berupa baju ayah dari sang seniman yang menjadi korban peristiwa tragis itu.
Pada pembukaan pameran nanti, ART • BALI 2019 juga berkolaborasi dengan Fashion Council Western Australia yang setiap tahunnya menggelar Perth Fashion Festival (PFF). Mereka menampilkan fashion show dari dua brand Indonesia (Ali Charisma dan Quarzia) serta dua brand Australia (33 POETS dan RIGN The Label). Selain fashion show,melalui tema “Fashion: a discussion about selfie in the art exhibition”, mereka juga akan menampilkan sebuah performance dengan membawakan konsep tentang pengaruh selfie (swafoto) .(kanalbali/RFH)


