DENPASAR, kanalballi.id Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Bali bekerja sama dengan SMA Negeri 2 Kuta Utara menggelar Puncak Malam Renungan AIDS Nusantara (MRAN) 2025, Selasa (27/5), bertempat di Ballroom SMAN 2 Kuta Utara, Jalan Raya Kerobokan No.11, Kerobokan Kaja, Badung.
Pada acara itu, Kepala Sekretariat KPA Provinsi Bali, AA Ngr Patria Nugraha, menjelaskan bahwa tema MRAN tahun ini adalah “Kita Mengenang, Bangkit dan Berjuang, Satukan Visi Menuju Ending AIDS 2030.”
Ia menyoroti bahwa tantangan besar masih dihadapi, khususnya terkait stigma dan diskriminasi terhadap ODHA. “Kami terus melakukan sosialisasi. Tapi stigma itu tetap ada, bahkan masih ada warga yang tidak diterima di lingkungan karena status HIV-nya,” ungkapnya.
BACA JUGA: Malam Renungan AIDS Nusantara 2025 Digelar di Desa Dauh Puri Klod
Sementara itu, Kepala SMAN 2 Kuta Utara, I Ketut Supardanayasa, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa pihak sekolah telah membentuk Kelompok Siswa Peduli AIDS dan Narkoba (KSPAN) dengan sekitar 50 anggota.
BI Bali Gelar Festival Harmoni Imlek 2026
“KSPAN ini baru kami bentuk empat tahun lalu. Tahun ini anak-anak mulai bergerak melakukan edukasi dan sosialisasi. Mereka menjadi pionir dan embrio komunitas peduli HIV dan narkoba. Kami berharap mereka bisa menularkan kepedulian ke teman-teman sebayanya,” ujarnya.
Kemudian, dia menambahkan bahwa pemilihan SMAN 2 Kuta Utara sebagai lokasi MRAN didasari oleh kesiapan fasilitas serta letaknya yang strategis. “Kami berada di tengah kawasan dengan mobilitas tinggi dan pergaulan yang dinamis, jadi ini tempat yang tepat untuk sosialisasi,” jelasnya.
Kegiatan ini diikuti sekitar 100 peserta dari berbagai elemen, mulai dari anggota DPRD Provinsi Bali Komisi IV, DPRD Badung, LSM, forum KSPAN, siswa-siswi, hingga para aktivis kesehatan.
Awas Penipuan Skema Ponzi, Kenali Cirinya
Sebagai penutup, seluruh peserta menyalakan lilin bersama yang menjadi sebuah simbol harapan, penghormatan, dan komitmen untuk terus berjuang mengakhiri AIDS.
Di bagian lain, salah satu momen paling menyentuh dalam kegiatan ini datang dari Ni Wayan Ika Ayu Rayni, seorang ODHA, yang membagikan kisah hidupnya di hadapan peserta.
Ia mengaku terinfeksi HIV dari suaminya. “Kami dulu kurang edukasi. Saya tahu suami saya positif HIV setelah kami sudah berhubungan seks. Tapi saya tidak menyalahkan dia, karena kami sama-sama tidak tahu. Sekarang saya fokus berjuang ke depan,” tuturnya.
Kisah Ika Ayu Rayni mendapat perhatian besar. Para peserta mendengarkan dengan antusias karena menurut mereka ini adalah hal yang baru. Salah satu peserta bahkan mengaku terkejut karena penampilannya tidak menunjukkan ciri sebagai penderita HIV-AIDS.
Data Kasus HIV AIDS di Bali
Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Dr. I Gusti Ayu Raka Susanti, memaparkan bahwa sejak 1987 hingga April 2025, tercatat sebanyak 32.497 kasus HIV-AIDS di Bali.
Saat ini tercatat 14.029 orang yang aktif menjalani pengobatan di fasilitas layanan kesehatan di Bali.
“Pasien yang berobat di Bali tidak semua berdomisili di Bali. Banyak dari luar provinsi yang datang karena layanan kami baik dan gratis. Semua pengobatan, tes laboratorium, hingga pemeriksaan HIV bagi masyarakat yang sadar ingin tahu statusnya, itu gratis,” jelasnya usai kegiatan, Selasa 27 Mei 2025.
Ia menegaskan pentingnya deteksi dini, terutama bagi ibu hamil. “Kami wajibkan semua ibu hamil, termasuk yang memeriksakan diri ke fasilitas swasta, untuk tes HIV,” tegasnya.
Menurut Raka Susanti, MRAN bukan sekadar seremoni, tetapi menjadi momentum evaluasi dan refleksi.
“Ini momen untuk menghapus stigma. Masih banyak yang datang berobat jauh dari alamatnya demi menghindari stigma. Harapan kami, HIV-AIDS bisa dikendalikan bersama. Generasi muda harus berperan, termasuk siswa SMA, agar tidak ada lagi stigma dan masyarakat yang terinfeksi bisa tetap bekerja dan hidup normal,” imbuhnya.
( kanalbali/RLS/RFH )



Be the first to comment