Medsos dan AI Jadi Tantangan Baru Buat Seniman, Bisa Tumbang Bila Tak Beradaptasi

Seniman Bali Made Kaek - Dok.Koleksi Pribadi
Seniman Bali Made Kaek - Dok.Koleksi Pribadi

DENPASAR, Kanalbali.id  – Perkembangan teknologi digital seperti media sosial dan kecerdasan buatan (AI) kini menjadi tantangan besar bagi para seniman.

Fenomena ini diungkapkan oleh seniman asal Bali, I Made Kaek, yang menilai bahwa dunia kesenian saat ini telah memasuki fase baru yang menuntut bukan hanya keterampilan teknis, tetapi juga kecerdasan emosional dan adaptasi sosial yang tinggi.

“Sekarang tidak cukup hanya bisa menggambar bagus atau punya teknik mumpuni. Seorang seniman harus punya nilai lebih: dia harus paham kondisi sosial, punya kecerdasan emosional, dan bisa menyampaikan gagasan dengan konten yang kuat,” ujar Kaek pada Kamis (12/6/2025).

Menurutnya, media sosial adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, ia mengakui bahwa platform seperti Instagram, TikTok, atau Facebook membuka peluang promosi yang sangat luas.

Seniman bisa langsung memamerkan karyanya ke khalayak tanpa harus bergantung pada pameran fisik atau galeri. Namun di sisi lain, media sosial juga menghadirkan tekanan baru—terutama tekanan algoritma dan tuntutan viralitas yang bisa menggerus keaslian dan kedalaman karya.

“Media sosial bisa bantu kita dikenal. Tapi juga bisa membunuh proses. Sekarang orang cenderung cari yang instan, yang laku. Karya yang dalam kadang kalah cepat dengan karya yang lucu atau sensasional,” jelasnya.

Salah-satu karya Made Kaek - IST
Salah-satu karya Made Kaek – IST

Yang lebih mengkhawatirkan bagi Kaek adalah kehadiran kecerdasan buatan (AI) dalam dunia seni. Ia melihat bahwa AI mampu menghasilkan visual yang memukau hanya dalam hitungan detik. Tetapi justru karena itulah, peran seniman manusia menjadi semakin penting untuk menampilkan sisi yang tak tergantikan yakni jiwa dan pemikiran.

“Karya AI bisa canggih, bisa indah. Tapi orang tetap akan mencari yang otentik—yang lahir dari tangan, dari perenungan, dari pengalaman hidup,” katanya. Ia menegaskan bahwa orisinalitas tidak bisa digantikan oleh mesin.

Kaek bukanlah sosok yang anti-teknologi. Ia bahkan menyebut bahwa teknologi adalah bagian dari kehidupan kreatif itu sendiri. Namun menurutnya, teknologi hanya akan memperkuat seorang seniman jika ia sudah memiliki fondasi yang kokoh.

“Kita harus adaptif. Jangan anti teknologi. Tapi kita juga harus punya karakter, ideologi, dan narasi yang kuat. Kalau tidak, kita akan tersapu arus,” tuturnya.

Dalam pengamatannya, banyak seniman muda terlalu terjebak pada estetika dan lupa membangun konsep serta nilai dalam karya mereka. “Seniman sekarang bisa jadi viral dengan cepat, tapi apakah dia punya daya tahan? Itu pertanyaannya,” ujarnya.

Salah-satu karya Made Kaek - IST
Salah-satu karya Made Kaek – IST

Kaek juga menyinggung perubahan peran galeri seni dalam era digital. Menurutnya, meskipun kini banyak karya dipamerkan secara online, galeri fisik tetap memiliki tempat penting dalam ekosistem seni. Ia melihat galeri sebagai ruang interaksi yang memungkinkan pertemuan antar seniman, kurator, kolektor, dan publik seni.

“Galeri dan media sosial itu harus saling melengkapi, bukan saling menggantikan. Di galeri, ada proses kurasi, ada ruang apresiasi yang tidak bisa digantikan layar ponsel,” tegasnya.

Ia menyadari bahwa kompetisi semakin ketat di era ini. Namun ia percaya bahwa seniman yang terus belajar, membangun jaringan, dan menjaga kualitas karya, akan tetap bertahan bahkan di tengah perubahan zaman.

“Yang penting jangan cepat puas. Jangan terlalu terbuai oleh likes dan followers. Proses itu jauh lebih penting. Karena hanya lewat proses kita bisa berkembang,” ujarnya.

Kaek juga berbicara tentang pentingnya nyali dan daya lentur dalam menghadapi zaman. Ia mengaku bahwa dirinya banyak belajar dari pengalaman dan pergaulan yang luas, baik ketika ia masih menjadi mahasiswa hukum di Yogyakarta maupun saat aktif di komunitas seni seperti Sanggar Dewata Indonesia (SDI).

“Bergaul itu penting. Kita harus paham di mana kita berada, bagaimana medan kita, dan siapa audiens kita. Dunia seni itu bukan hanya soal kanvas, tapi juga ruang sosial,” katanya.

Di akhir perbincangan, Kaek menekankan bahwa seniman masa kini harus menjadi pribadi yang utuh, secara teknikal, intelektual, dan emosional. “Kalau tidak, kita akan mudah terhempas. Karena sekarang bukan cuma manusia yang berkarya, tapi juga algoritma,” ujarnya sambil tersenyum. (KanalBali/Angga Wijaya)

 

Apa Komentar Anda?