Di Jembrana, Bali Barat, sudah dikenal luas adanya Kampung Loloan, sebuah kampung yang sebagian besar penghuninya beragama Islam.
Penulis: Angga Wijaya
Sejarah panjang telah dilalui kampung ini dan menjadi bagian dari keberagaman yang ada di Bali. Penulis sejarah I Wayan Reken mengabadikannya dalam sebuah buku berjudul Sejarah Perkembangan Islam di Bali, Khususnya di Jembrana.
Sumbernya adalah sejarah lisan dari para tokoh yang ditemuinya di desa itu.
Dua Gelombang Besar
Reken menulis tentang dua gelombang besar masuknya Islam ke Jembrana.
Pertama, pada abad ke-17, ketika pelaut Bugis-Makassar melarikan diri dari konflik dengan VOC.
Kedua, pada abad ke-18, saat para mubalig dan bangsawan Melayu datang bersama rombongan Sultan Pontianak, Syarif Abdullah bin Yahya Al Qodery.
Mereka datang bukan sebagai penjajah, tetapi sebagai tamu yang kemudian menjadi mitra dagang dan pertahanan kerajaan Jembrana.
Dalam catatannya, Reken menyebut bahwa Loloan telah menjadi pusat perdagangan jauh sebelum Kota Negara resmi berdiri.
Rumah-rumah panggung bergaya Bugis berdiri di sepanjang sungai, dan masjid menjadi pusat pembelajaran agama sekaligus budaya.

Pembangunan Masjid Jami’ Loloan
Salah satu catatan penting Reken adalah tentang pembangunan Masjid Jami’ di Loloan Timur tahun 1848.
Tanahnya diwakafkan oleh Encik Ya’qub dari Trengganu dan peristiwa ini disaksikan oleh tokoh-tokoh penting Muslim seperti Syarif Abdullah dan Panglima Tahal.
Papan kayu bertuliskan Arab Pegon yang mencatat peristiwa itu masih tergantung di masjid hingga hari ini.
Hubungan dengan Kerajaan Jembrana
Lebih dari sekadar catatan kronologis, tulisan Reken menunjukkan betapa eratnya hubungan antara Muslim pendatang dan masyarakat Bali lokal.
Ia mencatat bahwa pasukan Bugis-Makassar bahkan pernah ikut membela Jembrana dari serangan kerajaan tetangga seperti Buleleng dan Tabanan. Mereka mengenakan destar hitam, ahli menembak meriam, dan bertempur sejajar dengan pasukan Bali Hindu. Bukti bahwa akulturasi budaya sudah terjadi sejak berabad lalu.

Khasanah Seni Budaya
Reken menolak pandangan sempit tentang sejarah. Ia menulis, “Sejarah bukan sekadar kisah heroik, tapi tentang perjuangan untuk hidup—dari segi budaya, agama, ekonomi, maupun politik.”
Baginya, Islam di Jembrana bukanlah entitas terpisah dari Bali, tetapi bagian utuh dari dinamika sejarah pulau ini.
Tak hanya soal agama, Reken juga menulis soal seni, seperti Joget Janturan, perpaduan antara tari joged Bali dan pencak silat Bugis.
Ia juga mencatat tentang sistem pertanian, pemerintahan desa, dan pertumbuhan komunitas Muslim di daerah-daerah seperti Cupel, Air Kuning, hingga Banyubiru.
Syarif Tua, salah satu tokoh yang dikutip dalam buku itu, pernah berkata bahwa perjuangan tidak selalu dengan senjata. Kadang, yang paling kuat justru datang dari pena—dari cerita yang diwariskan ke generasi berikutnya.
Reken membuktikan bahwa sejarah tak harus ditulis dari menara gading. Ia menulis dari lorong kampung, dari dengar-dengaran di surau, dari napas komunitas kecil yang kadang luput dari perhatian. Tapi justru di sanalah denyut sejarah paling jujur ditemukan.
Hari ini, ketika Loloan makin dikenal sebagai simbol keragaman di Bali Barat, nama I Wayan Reken pantas kita tempatkan sebagai tokoh kunci.
Ia bukan hanya menulis sejarah Islam, tetap menjaga warisan pluralisme Bali dengan kesetiaan dan ketekunan yang sunyi. ***
*) Penulis adalah seorang penyair, esais, dan wartawan lepas di Denpasar-Bali


