Penulis: Angga Wijaya
KALIMAT itu kerap muncul dalam obrolan santai, di warung kopi, di pinggir jalan setelah upacara, atau lewat pesan singkat yang dikirim dengan nada setengah mengeluh. “Orang Bali sekarang lebihan itungan”.
Tidak selalu diucapkan dengan marah, lebih sering dengan rasa heran, bahkan kecewa. Seolah ada sesuatu yang bergeser, tetapi sulit ditunjuk letaknya.
Yang dimaksud tentu bukan sekadar hitung-hitungan uang receh. Lebihan itungan di sini adalah perasaan bahwa bantuan, terutama ketika menyangkut kesusahan finansial, tidak lagi mengalir spontan.
Ada jeda. Ada pertimbangan. Ada jarak emosional yang terasa dingin. Padahal, sejak lama Bali dikenal dengan nilai menyama braya, hidup sebagai saudara, saling menopang, saling menguatkan.
Pertanyaannya kemudian, apakah benar orang Bali kini menjadi terlalu perhitungan? Ataukah sebenarnya kita sedang menghadapi sesuatu yang lain yakni kuangan empati (kurangnya empati) dalam lanskap sosial yang berubah cepat?
Dalam kebudayaan Bali, tolong menolong tidak pernah berdiri sendirian.
Ia selalu hadir bersama struktur. Banjar, desa adat, awig awig, urunan, ayahan, semua itu bukan sekadar institusi sosial, melainkan cara kebudayaan ini mengelola solidaritas.
Bantuan bukan perkara simpati personal semata, melainkan bagian dari mekanisme kolektif yang menjaga keseimbangan. Siapa memberi, siapa dibantu, kapan, dan dalam bentuk apa, semuanya terikat pada ingatan sosial bersama.
Karena itu, sejak awal, solidaritas Bali bukan solidaritas yang meledak ledak. Ia tidak lahir dari dorongan emosional spontan seperti yang sering dibayangkan dalam logika filantropi modern. Ia bekerja pelan, tertib, dan berjangka panjang.
Dalam logika ini, itungan bukan sesuatu yang tabu, melainkan perlu. Ia berfungsi sebagai penanda keadilan, agar beban tidak jatuh pada satu orang saja, agar relasi tetap seimbang, agar tidak ada yang merasa dimanfaatkan atau ditinggalkan.
Masalahnya, zaman berubah. Dan perubahan itu datang membawa jenis kesusahan yang tidak selalu bisa ditangani oleh struktur lama.
Hari ini, seseorang bisa jatuh miskin bukan karena malas ngayah atau abai pada banjar, melainkan karena cicilan, pinjaman daring, biaya pendidikan, biaya kesehatan, atau pekerjaan yang tiba-tiba hilang.
Kesusahan seperti ini bersifat personal, sunyi, dan sering kali memalukan. Ia tidak selalu punya panggung sosial seperti kematian atau upacara besar.
Tidak ada kentongan. Tidak ada jadwal urunan. Tidak ada mekanisme kolektif yang siap menampungnya.
Di titik inilah empati diuji.
Ketika seseorang datang dengan kesusahan finansial yang personal, respons masyarakat sering kali terasa dingin. Bukan karena tidak peduli, tetapi karena tidak tahu harus menempatkan bantuan itu di mana.
Memberi uang secara personal dianggap berisiko. Ada rasa takut menciptakan ketergantungan. Takut dianggap pilih kasih. Takut membuka preseden. Takut, pada akhirnya, merusak harmoni yang selama ini dijaga dengan rapi.
Uang, dalam kebudayaan Bali, bukan benda netral. Ia berat secara moral. Memberi uang bukan hanya soal nominal, tetapi soal relasi.
Ada konsekuensi jangka panjang yang mengikutinya. Karena itu, orang Bali jauh lebih nyaman membantu lewat skema kolektif, urunan, iuran, atau bantuan berbasis banjar.
Di sana, beban dipikul bersama, dan rasa tidak enak dapat dibagi rata.
Namun kehidupan modern memaksa kesusahan muncul di luar jalur jalur itu. Banyak orang tercecer, bukan karena mereka keluar dari sistem, tetapi karena sistem itu sendiri tidak cukup lentur untuk menampung kompleksitas hidup hari ini.
Mereka masih braya, tetapi kesusahannya tidak terbaca oleh mekanisme solidaritas.
Di sinilah lebihan itungan sering kali menjadi tuduhan yang terlalu sederhana.
Yang tampak sebagai perhitungan berlebihan sering kali adalah bentuk kehati-hatian sosial. Sebuah upaya menjaga keseimbangan di tengah ketidakpastian ekonomi.
Negara tidak hadir sepenuhnya sebagai penyangga. Jaring pengaman sosial rapuh. Maka banjar dan komunitas menjadi benteng terakhir.
Dalam kondisi seperti ini, setiap bantuan harus dihitung, bukan karena kikir, tetapi karena takut tidak mampu menolong semua orang.
Ironisnya, di saat yang sama, kita terus mengulang menyama braya sebagai mantra. Nilai ini diucapkan, ditulis, dipajang, dan dibanggakan.
Tetapi dalam praktik, ia sering kali bekerja secara prosedural. Selama seseorang hadir dalam sistem, ngayah, urunan, aktif di banjar, ia terlindungi.
Tetapi ketika kesusahan datang dalam bentuk yang tidak terakomodasi oleh prosedur, empati personal menjadi langka.
Di sini, mungkin persoalannya bukan orang Bali yang berubah menjadi perhitungan, melainkan empati yang makin kelelahan.
Hidup hari ini mahal, bukan hanya secara ekonomi, tetapi juga secara emosional. Orang sibuk bertahan. Menghitung bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.
Namun, tetap ada yang perlu dikritisi.
Ketika solidaritas terlalu bergantung pada struktur, ada risiko bahwa rasa kemanusiaan menjadi administratif. Bahwa membantu harus selalu menunggu mekanisme.
Bahwa empati harus antre di belakang aturan tak tertulis. Dalam kondisi tertentu, ini membuat kita lupa bahwa kesusahan manusia tidak selalu datang dengan format yang rapi.
Menyama braya sejatinya bukan hanya tentang kewajiban timbal balik, tetapi juga tentang kepekaan. Tentang kemampuan melihat yang tidak tercatat.
Mendengar yang tidak terucap. Menyadari bahwa tidak semua orang mampu hadir penuh di sistem, tetapi tetap membutuhkan uluran tangan.
Di sinilah pertanyaan lebihan itungan atau kuangan empati menjadi relevan.
Bukan untuk menghakimi, melainkan untuk bercermin. Apakah kita masih memberi ruang bagi empati di luar hitungan kolektif.
Apakah kita masih berani menolong tanpa terlalu takut pada konsekuensi sosial. Apakah kita masih bisa melihat sesama bukan hanya sebagai bagian dari struktur, tetapi sebagai manusia dengan luka yang tak selalu kasatmata.
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak mudah dijawab. Dan mungkin memang tidak perlu dijawab dengan tegas.
Yang lebih penting adalah kesediaan untuk terus merawat kegelisahan ini, agar menyama braya tidak membeku menjadi slogan.
Orang Bali tidak kehilangan solidaritas. Ia masih hidup, bekerja, dan bergerak. Tetapi ia sedang diuji oleh zaman yang menuntut perhitungan di setiap sisi kehidupan.
Jika hari ini empati terasa jarang, mungkin bukan karena hati kita mengeras, melainkan karena ia lelah menanggung beban hidup yang makin berat.
Dan barangkali, di tengah semua hitungan itu, yang kita perlukan adalah keberanian kecil. Sesekali menolong tanpa terlalu banyak kalkulasi.
Bukan untuk meniadakan sistem, tetapi untuk menghangatkannya. Agar solidaritas tidak hanya rapi, tetapi juga manusiawi.
Karena pada akhirnya, yang membuat sebuah kebudayaan bertahan bukan hanya aturan yang kokoh, tetapi kemampuan warganya untuk tetap saling merasakan, bahkan ketika hidup memaksa kita berhitung. (*)


