Diaspora Indonesia di Berlin, Jerman, Nelden Djakababa Gericke tampil pada Festival “Dealing in Distance” di Bali. Dia mengisahkan persahabatan seorang perempuan Filipina dengan seekor rubah di kota tempat tinggalnya itu.
Penulis: Rofiqi Hasan
Suatu kali Thelma jatuh pingsan saat hendak membuang sampah. Ia terjerembab ke jalanan dekat bak tempat pemilahan sampah di belakang apartemennya. Sebelumnya, wanita asal Filipina yang tinggal di Berlin itu itu mengalami rangkaian pendarahan sebagai penanda akan memasuki masa menopause.
Saat ia membuka mata, seekor rubah betina atau Vixen dalam bahasa Jerman, muncul di hadapannya. Dia mulai menjilati wajah Thelma. Sejenak kemudian dia pun mulai membuka percakapan yang membuka rahasia kehidupan si rubah.
Kisah itu menjadi bagian penting dari pementasan cerita Thelma and the Vixen karya Nelden Djakababa Gericke pada Sabtu (24/1/2026) di Masa-masa Gallery, Gianyar, serangkaian Festival Dealing in Distance di Bali.
Nelden sendiri yang memerankan figur Thelma. Ia dibantu oleh Putri Minangsari yang memainkan tokoh rubah dan sekaligus sebagai Choncita, teman bicara Thelma.
Dalam percakapan itu si rubah mengungkap, sudah lama belajar mengenai bahasa manusia. Tujuannya, supaya lebih mengerti perilaku manusia dan menghindari bahaya yang sering terjadi dalam hubungan itu.
Hebatnya, rubah pun mengaku sudah mengamati kehidupan Thelma sejak lama. Termasuk kesedihan Thelma setelah ditinggal mati oleh suaminya. “Aku melihat ketika mereka membawa pergi tubuhnya (janazah suami Thelma-red) memakai tempat tidur beroda dan mobil berwarna oranye” katanya.

Si rubah bahkan tahu masalah pendarahan Thelma di masa menjelang menopause. Ia lalu memberi nasehat, bahwa situasi itu pada akhirnya akan memerdekakan dirinya dari masalah siklus masalah kesuburan dan pendarahan.
Thelma awalnya tak percaya. Ia merasa hanya sedang bermimpi. Tapi kemudian di lain waktu dia melihat rubah muncul kembali dan bercengkerama lebih lama. Belakangan binatang itu menunjukkan kemampuan berubah wujud menjadi seorang perempuan.
Begini Tips Lebih Produktif di Masa Pandemi
Kemudian, keduanya berjalan-jalan dan menumpang jalur Ringbhan S41, kereta commuter yang tersedia di Berlin. Saat itulah, Thelma melihat hampir seluruh penumpangnya adalah hewan yang berubah menjadi manusia.
***
Kisah ini sebenarnya merupakan bagian dari buku berjudul “Hundekopf Chroniken” atau Kronika Kepala Anjing yang sedang ditulis oleh Nelden. Targetnya nanti akan ada tujuh cerita dalam buku itu dan saat ini sudah ada lima yang siap.
“Semoga siap diterbitkan tahun depan,” ujarnya yang mendapatkan dukungan dari Pemerintah Kota Berlin setelah usulannya memenangkan kompetisi sebagai penulis dalam bahasa Non Jerman.
Materi yang diangkat adalah pengalaman sehari-hari pekerja-pekerja perempuan dari berbagai negara di Asia Tenggara yang hidup di Berlin, Jerman. Lebih spesifik lagi adalah mereka yang menggunakan trem ringbhan rute S42 dan S41. Ini adalah lintasan rel melingkar atau berusia lebih dari 150 tahun yang menurut Nenden membentuk siluet kepala anjing.
Meski seluruh cerita bersifat fiksi, dia ingin meramunya dengan pengalaman nyata. Karena itu sebelum menulis cerita dia berusaha melakukan wawancara mendalam dengan wanita dari negara yang ditulisnya. Sebagian adalah kenalannya sendiri, sebagian lagi melalui perantaraan orang lain.
“Biasanya kalau sudah kenalan langsung saya jelaskan soal proyek ini dan umumnya mereka tak keberatan,” katanya.

Pembicaraan pun tak selalu menyangkut hal-hal yang serius. Misalnya, soal hobi dan makanan yang justru menjadi cara paling cepat untuk saling mengenal.
Nenden tertarik memilih topik Asia Tenggara karena saat mulai menjalani diaspora sebagai perantau ke Eropa dan Amerika, seringkali muncul perasaan bahwa mereka memiliki kesamaan saat bertemu secara sengaja atau pun tidak. Seperti ketika sedang berada di kereta yang sama saat di Berlin, otomatis dia akan tertarik mengamati bila ada orang Asia yang ditemuinya.
“Apakah dia berasal dari Indonesia atau Filipina,” sebutnya. Dengan mudah pula kemudian akan terjadi perkenalan dan persahabatan.
Seringkali dia menemukan kedekatan itu dalam bentuk yang lain. Yakni dalam aneka bumbu masakan dari negara-negara Asia Tenggara itu dipajang dalam rak yang sama di toko-toko makanan di Amerika atau negara Eropa.
Anehnya, saat berada di Indonesia, dia merasa sangat sedikit mengenal kehidupan orang-orang, dan khususnya perempuan, dari negara-negara yang bertetangga ini. Padahal ia sendiri dibesarkan dalam keluarga campuran dimana ibunya berasal dari Filipina.
Situasi itu, menurut dia, tak lepas dari segregasi psikologis yang tercipta karena setiap negara memiliki pengalaman sebagai negara jajahan. Pemerintahan kolonial di masa lalu tentunya memiliki kepentingan untuk menciptakan pemisahan antara negara yang berdekatan ini.
Melalui buku ini, dia berharap akan menjembatani keterhubungan psikologis maupun emosional antar bangsa dengan melihat pengalaman-pengalaman perempuan yang hidup dan bertualang jauh dari negaranya.
Sejauh proses yang dilaluinya, kisah mereka mengungkapkan banyak hal meski pintu masuknya adalah persoalan perempuan. “Latar belakang mereka pun beragam, seperti misalnya dari Vietnam yang generasi awalnya pindah ke Jerman karena persoalan ideologi,” katanya.
Mereka juga membawa kisah-kisah senang maupun pahit yang dialami di negaranya. Karena itu dia tertarik untuk mengangkat kisah dari Myanmar sebagai negara yang cenderung tertutup dan ada banyak berita tentang kekerasan disana.
Hal lain yang juga menyatukan, kata dia, adalah aspek spiritual atau dunia gaib dalam kisah kisah itu. “Hantu-hantu ternyata ikut bermigrasi,” sebut Nelden. Ide tentang rubah yang bisa berbicara dengan manusia adalah salah-satu diantaranya.
Menariknya, Nelden mengembangkannya pengalaman nyata yang dialamnya dimana dia menemukan seekor rubah yang hidup di kebun liar di dekat apartemennya di Berlin. rubah itu pun tinggal di dekat tempat sampah.
Tema perempuan juga menjadi Batasan dalam buku ini, khususnya hal-hal yang bersifat pribadi dan masih jarang diangkat. Seperi topik menopause yang menjadi inti cerita itu belum banyak dieksplorasi oleh penulis lain.
Padahal masa-masa itu adalah saat yang kritis dan berat bagi kehidupan perempuan baik secara fikik maupun psikologis. “Kebetulan saya sendiri sedang berada dalam masa itu,” sebut Nelden yang di tahun 2009 terpilih sebagai salah-satu Emerging Writers di Ubud Writers Festival.
Mengenai penampilannya di Festival di Bali, Nelden mengaku cukup puas. Terutama karena teman lamanya Putri Minangsari berhasil mengeksplorasi peran sebagai serigala. Sebelumnya, dia sudah membawakan cerita itu saat event di Hanoi tapi terpaksa tampil sendirian. “Jadi rasanya garing,” sebutnya.
Dia mengakui, karena durasi waktu yang hanya 35 menit, maka terpaksa ceritanya diperpendek. Akibatnya, nuansa diaspora Filipina kurang kelihatan dalam penampilan itu dan fokusnya lebih ke problem perempuan tentang menopause.
Toh demikian, dia sempat menyelipkan sepenggal cerita mengenai diaspora Indonesia di Berlin yang dikisahkan menjadi tetangga Thelma. Selain suka mengirimkan nasi goreng terasi, tetangga bernama Dewi selalu saja berisik setiap waktu bersama suaminya Fredrik. “Baik saat bertengkat, maupun kala sedang bercinta,” sebut Thelma dalam cerita itu. (kanalbali/RHS)


