Magic in the Waves, Cara Piping Berbagi Keajaiban Ombak

Pererenan, 2006
Pererenan, 2006

Di Bali, ombak bukan hanya permainan alam. Bagi banyak orang, ombak adalah ruang hidup, tempat karakter dibentuk, dan identitas lahir.

Dari kultur pantai itulah muncul Bagus Made Irawan, sosok yang lebih kita kenal dengan panggilan “Piping”.

Sebagai seorang surfer, dia tidak hanya menghabiskan hidup di laut. Ia menorehkan jejak penting dalam sejarah surfing Bali melalui media cetak “Surf Time” pada 1999 dan kemudian “Magic Wave” yang didirikannya.

Ia ingin berbagi keajaiban surfing yang bukan hanya sekedar sebuah olahraga. Sutfing adalah sarana bermeditasi, menemukan identitas diri dan menemukan pencerahan sejati.

Saat mendirikan media-media itu, informasi tentang surfing masih terbatas, belum ada Instagram, belum ada kanal digital yang bisa menampilkan aksi surfer dalam hitungan detik. Surfing adalah dunia yang hidup di pantai—dan kisahnya sering lenyap begitu saja bersama hempasan ombak.

Kuta Karnivall 2005, foto olah Wayan Grandong - IST
Kuta Karnivall 2005, foto olah Wayan Grandong – IST

Magic Wave hadir sebagai tabloid yang menempatkan surfer lokal sebagai tokoh utama. Isinya beragam: mulai dari liputan kompetisi surfing, profil surfer Bali, ulasan spot ombak, tren papan selancar, hingga budaya pantai yang menjadi roh dari dunia surfing itu sendiri.

Foto-foto ombak, gaya hidup pesisir, dan cerita perjalanan surfer menjadi materi penting yang menjadikan tabloid ini bukan sekadar media informasi, melainkan arsip budaya.

Melalui Magic Wave, Piping menangkap nilai-nilai itu. Ia menyuarakan cerita-cerita kecil yang jarang masuk media arus utama: kisah surfer lokal yang tumbuh dari pantai sederhana, perjalanan mencari ombak di sudut Bali yang terpencil, hingga geliat kompetisi yang menjadi mimpi banyak anak muda pulau ini.

Sayangnya, di masa pandemi COVID-19, media ini ikut terhempas dan mati suri. Komunitas surfing Bali terpaksa kehilangan salah-satu urat nadinya.

Pameran foto ini adalah sebuah langkah kecil untuk membangkitkannya kembali.Kenangan dan percakapan, setelahnya diharapkan berujung pada gagasan. Selanjutnya, dieksekusi dalam tindakan dengan melibatkan semua pihak yang menanti “Keajaiban di dalam Ombak”. ( kanalbali/IST )

  • Tulisan ini adalah narasi pameran “Magic in the Waves” di Warung Kubukopi, Denpasar, Bali, 18-28 Februari 2026

 

 

Apa Komentar Anda?