INI kisah sangat personal, yang ingin saya bagikan kepada pembaca. Bukan untuk membuka atau memamerkan aib sendiri, melainkan sebagai sebuah refleksi yang datang terlambat, setelah beberapa kejadian yang membuat saya mengerti sesuatu yang sebelumnya luput saya pahami.
oleh: A Rakasiwi
SEBAGAI seorang penyintas skizofrenia, ada fase-fase tertentu dalam hidup saya ketika realitas terasa bergeser. Dalam kondisi relapse, saya tidak selalu kehilangan arah, tetapi sering kali justru merasa menemukan sesuatu yang sangat berharga. Dalam momen seperti itu, saya terdorong untuk berbagi. Dan entah mengapa, bentuk berbagi yang paling sering saya lakukan adalah memberi buku.
Saya pernah memberi tetangga buku, juga sahabat. Bagi yang beragama Islam, saya berikan buku-buku keislaman. Bagi yang beragama Kristen, saya berikan buku-buku spiritualitas, terutama karya Anand Krishna yang saya anggap relevan. Saat itu, saya benar-benar percaya bahwa buku adalah hadiah terbaik.
Belakangan saya menyadari, keyakinan itu tidak sepenuhnya tepat. Saya hidup di lingkungan yang tidak selalu melihat buku sebagai sesuatu yang penting. Tidak seperti bayangan saya tentang masyarakat di luar negeri, di mana buku menjadi bagian dari gaya hidup, di sini memberi buku justru bisa terasa janggal. Di kalangan akademis mungkin dianggap wajar, tetapi di masyarakat sehari-hari, kebiasaan itu belum tentu dipahami.
Masalahnya bukan pada tingkat pendidikan. Hampir semua orang pernah sekolah. Namun kebiasaan membaca tidak otomatis tumbuh dari sana. Buku sering kali hanya berumur selama masa sekolah, setelah itu hilang. Dijual ke tukang loak, dibuang, atau sekadar dilupakan. Jarang ada yang menyimpannya, apalagi membangun perpustakaan kecil di rumah.
Di titik itulah saya mulai mengingat sebuah ungkapan lama, jangan memberi mutiara pada babi. Ungkapan ini berasal dari ajaran Yesus Kristus dalam Injil Matius, bagian dari Khotbah di Bukit. Dalam ayat itu, Yesus mengingatkan agar tidak memberikan sesuatu yang kudus kepada anjing dan tidak melemparkan mutiara kepada babi, karena bukan hanya tidak dihargai, tetapi juga bisa diinjak-injak, bahkan membuat pemberinya diserang balik.
Ajaran ini muncul setelah nasihat untuk tidak mudah menghakimi, seolah ingin menegaskan bahwa selain tidak menghakimi orang lain, manusia juga perlu bijak dalam memberi.
Saya pertama kali memahami penjelasan ungkapan itu melalui tafsir Anand Krishna. Ia tidak memaknai babi sebagai hinaan terhadap manusia, melainkan sebagai simbol kondisi kesadaran yang belum siap menerima sesuatu yang bernilai.
Jika mutiara dimaknai sebagai kebenaran, saya merasa buku juga termasuk di dalamnya. Buku menyimpan gagasan, pengalaman, juga pengetahuan yang tidak semua orang anggap penting. Dan di situlah letak kekeliruan saya.
Saya pernah memberi sesuatu yang menurut saya berharga, kepada orang yang sebenarnya sedang membutuhkan hal lain. Seseorang yang lebih butuh makanan, saya beri buku. Mereka yang sedang kesulitan ekonomi, saya beri bacaan. Hasilnya mudah ditebak, buku itu tidak dibaca. Ia hanya berpindah tempat, dari tangan saya ke meja, lalu ke lemari, atau mungkin ke tangan orang lain lagi.
Sejak itu saya mulai melihat persoalan ini dengan lebih jernih. Memberi ternyata bukan soal apa yang menurut kita baik, tetapi apa yang benar-benar dibutuhkan oleh orang lain.
Kita sering mengira rendahnya minat baca berkaitan dengan kemiskinan. Faktanya tidak sesederhana itu. Daerah seperti Nusa Tenggara Timur yang sering dianggap tertinggal justru menunjukkan minat baca yang cukup baik. Ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan semata ekonomi, tetapi kebiasaan, lingkungan, dan cara seseorang memaknai pengetahuan.
Ada orang yang melihat buku sebagai jendela dunia. Ada pula yang melihatnya sebagai benda asing yang tidak punya kaitan langsung dengan hidupnya. Dalam kondisi seperti itu, memberi buku bisa menjadi tindakan yang salah alamat.
Saya tidak sepenuhnya menyalahkan mereka yang tidak membaca buku yang saya berikan. Hidup menuntut prioritas. Ketika seseorang sedang berjuang memenuhi kebutuhan dasar, membaca bukan hal yang mendesak.
Yang keliru justru ada pada diri saya sendiri. Saya terlalu cepat menyimpulkan bahwa apa yang saya anggap baik juga akan dianggap baik oleh orang lain. Saya merasa sedang membantu, padahal bisa jadi saya hanya sedang memaksakan sudut pandang saya.
Beberapa pengalaman bahkan terasa menyakitkan. Ada yang menanggapi dengan dingin, ada yang mengabaikan, bahkan ada yang kemudian membicarakan kondisi saya di belakang. Buku yang saya berikan tidak menjadi jembatan, justru menjadi jarak. Dari situlah saya belajar bahwa tidak semua niat baik akan diterima sebagai kebaikan.
Ada waktunya seseorang siap menerima nasihat, ada waktunya tidak. Ada situasi di mana sebuah buku bisa mengubah hidup seseorang, tetapi ada juga situasi di mana yang dibutuhkan hanyalah sepiring nasi.
Memberi makanan kepada orang lapar jauh lebih berarti daripada memberi buku motivasi. Memberi perhatian kepada orang yang gelisah jauh lebih penting daripada memberi ceramah panjang tentang kehidupan.
Kebenaran memiliki waktunya sendiri. Ia tidak bisa dipaksakan. Sesuatu yang berharga pun bisa menjadi tidak berarti jika diberikan pada saat yang tidak tepat.
Pengalaman ini membuat saya lebih berhati-hati. Saya belajar untuk tidak terburu-buru memberi nasihat. Saya belajar untuk bertanya sebelum memberi. Apa yang sebenarnya mereka butuhkan? Pertanyaan itu sederhana, tetapi sering terlewat. Kita terlalu sibuk merasa tahu, terlalu cepat ingin membantu, tanpa benar-benar memahami.
Kini saya mulai mengerti, memberi bukan hanya soal niat baik, tetapi juga soal kepekaan. Tentang kemampuan membaca situasi, kesediaan menahan diri, dan keberanian untuk tidak selalu merasa benar.
Barangkali, di masa lalu, saya terlalu sering melempar mutiara tanpa melihat ke mana ia jatuh. Dan kini saya tahu, tidak semua mutiara perlu dilempar. Tidak semua orang harus menerima apa yang kita anggap berharga. Kadang, yang paling bijak adalah menunggu. Menunggu sampai seseorang benar-benar siap.***
A Rakasiwi adalah penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.


