Mendekati Tuhan, Menjauhi Manusia

oleh Angga Wijaya*

DUPA saya hidupkan lagi untuk kali kedua, beberapa hari lalu. Saya membelinya dari warung dekat kos. Aromanya pelan-pelan memenuhi ruang kerja saya, kamar sempit di kontrakan yang lebih sering dipakai menulis daripada berdoa.

Tiba-tiba saja saya ingin berdoa hari itu. Perasaan yang jarang datang belakangan ini. Saya merasa telah jauh dari Tuhan, dan ingin mendekati-Nya lagi.

Dulu, saya pemuda yang religius. Empat tahun menetap dan belajar di sebuah ashram di Denpasar membekali saya dengan laku dan gaya hidup spiritual. Hari-hari saya diisi meditasi, sembahyang, dan disiplin yang, saat itu, saya yakini sebagai jalan menuju kedekatan dengan Yang Ilahi.

Namun setelah keluar dari ashram, hidup berjalan seperti kebanyakan orang. Ritme berubah. Doa tidak lagi menjadi pusat, melainkan sisipan. Terlebih, saya menjalin hubungan dengan seseorang yang berbeda agama. Pelan-pelan, spiritualitas seperti berubah menjadi fase, sesuatu yang pernah saya jalani dengan sungguh-sungguh, lalu tertinggal di belakang.

Saya larut dalam pekerjaan, dalam rutinitas, dan dalam hal-hal yang lebih duniawi. Anehnya, justru dalam kelarutan itu, saya mulai merindukan diri saya yang dulu. Yang tekun bermeditasi, yang khusyuk sembahyang, yang merasa hidupnya memiliki arah yang jelas.

Namun, semakin saya mengingat masa itu, semakin saya sadar bahwa hidup agamis pun tidak sepenuhnya utuh. Dulu, ketika saya begitu serius belajar agama, saya seperti hidup dalam pecahan-pecahan. Ada jarak yang tak kasatmata antara saya dan orang lain. Seolah-olah, semakin saya merasa dekat dengan Tuhan, semakin saya menjauh dari manusia.

Perasaan itu halus, tetapi nyata. Saya mulai merasa lebih tahu, lebih paham, bahkan tanpa sadar, lebih tinggi. Ada semacam kebanggaan yang diam-diam tumbuh, bahwa saya sedang berjalan di jalan yang benar, sementara yang lain tidak.

Dan mungkin, di situlah sesuatu mulai retak.  Retakan itu tidak langsung terasa sebagai masalah. Justru ia datang dengan cara yang nyaris meyakinkan. Saya merasa sedang bertumbuh, smemperbaiki diri, dan  berjalan ke arah yang lebih benar. Namun, di saat yang sama, ada sesuatu yang perlahan menjauh dari saya, yaitu manusia lain.

Percakapan menjadi berbeda. Saya lebih sering mendengar untuk mengoreksi, bukan untuk memahami. Saya lebih cepat menilai daripada merasakan. Dalam diam, saya seperti menempatkan diri di posisi yang sedikit lebih tinggi, meskipun tidak pernah saya akui secara terang-terangan.

Mungkin, tanpa saya sadari, kedekatan yang saya bangun dengan Tuhan telah menciptakan jarak dengan manusia. Pengalaman itu tidak unik. Ia bukan semata-mata milik saya. Dalam Antropologi Agama, agama tidak hanya dilihat sebagai hubungan antara manusia dan Tuhan, tetapi juga sebagai cara manusia membentuk batas, membedakan siapa yang dianggap dekat dan siapa yang dianggap jauh.

Batas itu kadang tidak terlihat, tetapi bekerja dalam sikap sehari-hari. Dalam cara kita berbicara, dalam cara kita memandang orang lain, bahkan dalam cara kita diam. Ada yang dianggap lebih suci, ada yang dianggap kurang. Ada yang berada di dalam lingkaran, ada yang di luar.

Di titik ini, spiritualitas tidak lagi sekadar soal pencarian makna, tetapi juga soal posisi. Saya mulai melihat kembali diri saya yang dulu, dan bertanya, apakah yang saya sebut sebagai kedekatan dengan Tuhan benar-benar mendekatkan saya pada kehidupan, atau justru membuat saya berjarak darinya?

Pertanyaan itu tidak mudah dijawab. Sebab, ada sisi lain yang juga tidak bisa saya abaikan. Spiritualitas pernah memberi saya ketenangan. Ia memberi arah, pegangan, dan rasa bahwa hidup ini tidak semata-mata tentang rutinitas dan pekerjaan.

Namun, ketenangan itu datang bersama sesuatu yang lain. Sebuah kecenderungan untuk menarik diri, untuk menyederhanakan dunia menjadi hitam dan putih, benar dan salah, suci dan tidak.

Di sinilah saya mulai melihat ambiguitas itu dengan lebih jernih. Bahwa mendekati Tuhan tidak selalu berarti mendekati manusia. Bahkan, dalam beberapa keadaan, keduanya justru bergerak ke arah yang berlawanan.

Kini, ketika saya kembali menyalakan dupa di kamar sempit ini, saya tidak lagi sepenuhnya yakin apa yang sedang saya cari. Apakah saya ingin kembali menjadi diri saya yang dulu, yang tekun dan disiplin, atau saya hanya sedang merindukan perasaan memiliki arah.

Atau mungkin, saya sedang mencoba mencari cara lain, sebuah jalan yang tidak mengharuskan saya memilih antara Tuhan dan manusia. Mungkin selama ini saya keliru memahami arah.

Saya pernah mengira bahwa untuk mendekati Tuhan, saya harus menjaga jarak dari banyak hal, termasuk dari manusia. Bahwa kesunyian adalah jalan, bahwa menjauh adalah bentuk kesungguhan. Namun semakin saya menjalani hidup, semakin saya melihat bahwa manusia bukanlah gangguan dalam perjalanan spiritual, melainkan bagian darinya.

Barangkali, yang membuat saya berjarak dulu bukanlah Tuhan, melainkan cara saya memaknai-Nya. Saya membayangkan Tuhan sebagai sesuatu yang tinggi, jauh, dan hanya bisa didekati dengan meninggalkan yang lain. Padahal, bisa jadi Ia justru hadir dalam hal-hal yang paling dekat, dalam percakapan sederhana, dalam perbedaan yang tidak selalu bisa disatukan, dalam upaya memahami orang lain yang tidak selalu sejalan.

Saya tidak lagi ingin menjadi seseorang yang merasa lebih dekat dengan Tuhan, tetapi kehilangan kemampuan untuk dekat dengan manusia.

Jika ada yang ingin saya pelajari kembali hari ini, mungkin bukan soal bagaimana berdoa lebih lama atau bermeditasi lebih dalam. Melainkan bagaimana tetap terbuka, tetap mendengar, tetap merasa, tanpa tergesa-gesa menilai. Sebab, bisa jadi, jalan menuju Tuhan tidak selalu menjauh dari manusia. Bisa jadi, justru dimulai dari sana. (*)

 

Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Apa Komentar Anda?