Lelahnya Menjadi Generasi Layar

Ilustrasi - Generasi Layar - IST
Ilustrasi - Generasi Layar - IST

Kita hidup di masa ketika layar telah menjadi bagian dari tubuh manusia modern. Ponsel tidak lagi sekadar alat komunikasi, melainkan teman tidur, teman makan, teman bekerja, bahkan teman kesepian.

Penulis: Angga Wijaya *

PAGI di sebuah warung di Tibubeneng, Badung, Bali. Wilayah ini lebih dikenal dengan nama Canggu, meski sebenarnya dua kawasan yang berlainan. Jalan-jalan di sana hampir tak pernah benar-benar sepi. Motor lalu-lalang, turis asing berjalan santai, musik dari kafe terdengar samar-samar, dan aroma kopi bercampur asap rokok memenuhi udara pagi.

Di sebelah saya duduk seorang gadis muda. Teman kerja tunangan saya pada sebuah toko ritel. Sejak tadi matanya tertuju pada layar ponsel. Jarinya bergerak cepat menggulir video demi video. Sesekali ia tertawa kecil sendiri.

Saya menyapanya pelan. “Sedang apa?” Ia menjawab singkat. “Main TikTok.” Jawaban itu terdengar biasa saja. Bahkan sangat biasa untuk zaman sekarang. Tidak ada yang aneh ketika seseorang menghabiskan pagi dengan menonton TikTok, Instagram Reels, atau video YouTube Shorts.

Kita hidup di masa ketika layar telah menjadi bagian dari tubuh manusia modern. Ponsel tidak lagi sekadar alat komunikasi, melainkan teman tidur, teman makan, teman bekerja, bahkan teman kesepian.

 Bagi generasi Z seperti dirinya, ponsel pintar dan media sosial bukan lagi pelengkap hidup. Ia sudah berubah menjadi kebutuhan utama. Sama pentingnya dengan dompet, motor, atau bahkan pakaian. Banyak anak muda sekarang lebih panik ketika ponselnya tertinggal daripada ketika uang di dompet habis.

 Tiap ada waktu luang, tangan akan otomatis mencari ponsel. Ketika bangun tidur, yang pertama dilihat bukan jendela atau gelas minum, melainkan notifikasi. Sebelum tidur pun, layar menjadi cahaya terakhir yang menempel di mata. Instagram, Facebook, X, Threads, TikTok, YouTube, Telegram, dan WhatsApp. Semua seperti lorong tanpa ujung yang terus menghisap perhatian manusia.

 Berisiknya Generasi Sekarang

Kadang saya membayangkan, betapa berisiknya kepala generasi sekarang. Begitu banyak informasi masuk dalam waktu bersamaan. Berita perang, gosip artis, video lucu, iklan skincare, motivasi hidup, resep masakan, berita kriminal, diskon toko online, semua bercampur menjadi satu di dalam kepala manusia modern. Kita tidak pernah benar-benar diam. Bahkan saat sendirian pun, otak tetap dipenuhi suara-suara dari layar.

Hal itulah yang mungkin membedakan generasi sekarang dengan generasi sebelumnya. Orang tua kita dulu hidup dengan ritme yang berbeda. Mereka masih mengalami masa ketika komunikasi dilakukan dengan bertatap muka. Ketika surat ditulis dengan tangan, atau orang datang langsung ke rumah hanya untuk menanyakan kabar.

Kini semuanya berubah cepat. Komunikasi verbal perlahan mulai kehilangan tempat. Orang lebih nyaman mengirim pesan daripada berbicara langsung. Bahkan dalam hubungan asmara pun, pertengkaran sering terjadi lewat chat. Kata maaf dikirim lewat emoji. Rasa rindu diwakili stiker lucu. Kehangatan manusia perlahan berubah menjadi simbol-simbol digital.

Saya sendiri berasal dari generasi milenial. Generasi yang mengalami masa peralihan. Kami masih sempat merasakan hidup tanpa internet cepat, media sosial, dan notifikasi yang terus berbunyi. Kami pernah bermain di luar rumah sampai sore tanpa perlu mengunggah apa pun ke internet.

Namun kini, saya juga ikut terseret menjadi bagian dari generasi layar. Pekerjaan saya sebagai wartawan membuat hampir seluruh aktivitas berlangsung lewat ponsel. Grup WhatsApp tidak pernah benar-benar tidur. Rilis berita datang dini hari. Narasumber menghubungi lewat telepon. Editor mengirim revisi lewat chat. Belum lagi media sosial yang seolah menuntut kita untuk selalu aktif.

 Hidup yang Tak Berhenti

Kadang saya merasa lelah sekali. Belum selesai membalas satu pesan, muncul pesan lain. Belum selesai membaca berita, sudah muncul notifikasi baru. Hidup seperti tidak pernah benar-benar berhenti. Tubuh boleh diam, tetapi pikiran terus bekerja mengikuti arus layar.

 Ironisnya, teknologi yang katanya diciptakan untuk memudahkan hidup manusia justru sering membuat manusia kehilangan waktu istirahat. Kita menjadi mudah dihubungi kapan saja. Jam kerja dan jam pribadi bercampur. Banyak orang bahkan tidak sadar bahwa dirinya sedang kelelahan mental akibat terlalu lama terpapar layar.

 Belakangan istilah doomscrolling mulai populer. Kebiasaan menggulir layar tanpa tujuan sambil terus mengonsumsi informasi negatif. Orang sadar dirinya lelah, tetapi tetap tidak bisa berhenti menatap ponsel. Seperti ada candu yang membuat manusia terus ingin melihat hal baru di layar.

 Fenomena ini bukan hanya terjadi di kota besar. Di Bali pun gejalanya terlihat jelas. Di warung kopi, di pantai, di tempat nongkrong, bahkan di pura atau acara keluarga, orang-orang sibuk dengan ponselnya masing-masing. Duduk bersama, tetapi tidak benar-benar bersama.

 Kadang saya melihat satu meja berisi empat orang, tetapi semuanya diam menatap layar. Tidak ada percakapan dan cerita. Yang terdengar hanya suara video dari TikTok bercampur denting notifikasi.

 Terkoneksi tapi Kesepian

Kita semakin terkoneksi, tetapi sekaligus semakin kesepian. Ada sesuatu yang perlahan hilang dari kehidupan manusia modern, yakni kemampuan menikmati momen tanpa harus mendokumentasikannya. Banyak orang lebih sibuk merekam konser daripada menikmati musiknya. Lebih sibuk memotret makanan daripada merasakan rasanya. Bahkan liburan pun kadang terasa seperti proyek konten.

 Segala hal seperti harus diunggah agar dianggap nyata. Media sosial akhirnya melahirkan budaya perbandingan tanpa henti. Orang melihat hidup orang lain yang tampak bahagia, kaya, cantik, sukses, lalu diam-diam merasa hidupnya sendiri kurang. Padahal yang terlihat di layar sering kali hanyalah potongan terbaik dari kehidupan seseorang.

 Tidak sedikit anak muda yang mengalami kecemasan, gangguan tidur, hingga depresi akibat tekanan media sosial. Tubuh mereka berada di dunia nyata, tetapi pikiran mereka hidup di dunia digital yang bergerak terlalu cepat.

 Meski begitu, saya juga tidak ingin menjadi orang yang sepenuhnya menyalahkan teknologi. Ponsel pintar telah membantu banyak hal. Informasi menjadi mudah diakses. Orang bisa bekerja dari mana saja. Hubungan jarak jauh terasa lebih dekat. Banyak anak muda kreatif lahir dari media sosial.

 Teknologi bukan musuh. Persoalannya mungkin terletak pada cara manusia menggunakannya. Namun tetap saja, ada rasa lelah yang sulit dijelaskan ketika hidup terlalu lama di depan layar. Mata terasa panas. Pikiran penuh. Emosi mudah berubah. Kita seperti terus dituntut hadir di dunia digital setiap waktu.

 Mungkin karena itu, banyak orang mulai merindukan hal-hal sederhana. Mengobrol tanpa terganggu notifikasi. Membaca buku kertas. Mendengar suara hujan tanpa sambil membuka TikTok. Duduk di warung sambil benar-benar memperhatikan sekitar.

Wajah Masa Depan 

Saya kadang membayangkan bagaimana wajah peradaban manusia beberapa puluh tahun mendatang. Apakah nanti manusia masih bisa berbincang panjang tanpa melihat ponsel? Apakah anak-anak masih bermain di luar rumah tanpa sibuk membuat konten? Ataukah layar akan sepenuhnya mengambil alih hidup manusia?

 Saya tidak tahu jawabannya. Yang jelas, pagi di warung kecil di Tibubeneng itu memberi saya satu kesadaran sederhana. Bahwa manusia modern ternyata bukan hanya sibuk bekerja mencari uang, tetapi juga sibuk melawan kesunyian lewat layar kecil di tangannya.

 Dan , tanpa benar-benar kita sadari, kita semua perlahan sedang menjadi generasi yang kelelahan karena terlalu lama menatap dunia dari balik layar. (*)

 * Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Apa Komentar Anda?