Joker, Kesehatan Mental dan Orang-Orang di Sekitar Kita

Film Joker yang dibintangi oleh Joaquin Phoenix. FOTO/© 2018 Warner Bros. Entertainment Inc. All Rights Reserved
Film Joker yang dibintangi oleh Joaquin Phoenix. FOTO/© 2018 Warner Bros. Entertainment Inc. All Rights Reserved
  • Film Joker bicara tentang masalah kesehatan mental yang bisa terjadi karena berbagai penyebab
  • Figur utamanya memberi gambaran gangguan kesehatan mental bisa muncul dalam perilaku yang berbeda
  • Masyarakat kita masih cenderung mengabaikan kesehatan mental hingga muncul gangguan jiwa 

Oleh Angga Wijaya

 SEKITAR empat bulan lalu, seorang teman mengirimkan tautan film Joker. Pesannya singkat; “tonton film ini.” Saya sebenarnya sudah membaca berbagai ulasan tentang film itu, tetapi belum juga meluangkan waktu untuk menontonnya.

Baru beberapa hari kemudian saya membuka tautan yang dikirimnya. Hampir dua jam saya duduk di depan layar, mengikuti kehidupan Arthur Fleck yang perlahan berubah menjadi Joker.

 Usai film berakhir, saya tidak langsung mematikannya. Saya membiarkan layar laptop tetap menyala, sementara pikiran saya terus berputar. Banyak orang melihat Joker sebagai film tentang seorang penjahat. Saya justru melihatnya sebagai cerita tentang seorang manusia yang terlalu lama hidup bersama luka.

 Arthur Fleck tidak lahir sebagai Joker. Ia dibentuk oleh masa kecil yang penuh kekerasan, relasi keluarga yang rapuh, kemiskinan, penolakan sosial, dan gangguan mental yang tidak pernah benar-benar memperoleh penanganan yang layak.

Tak ada manusia yang tiba-tiba menjadi rusak. Selalu ada cerita yang mendahuluinya. Beberapa hari kemudian saya kembali bertemu teman yang mengirimkan film itu. Semula saya mengira ia hanya ingin berbagi tontonan yang bagus. Dugaan saya ternyata keliru.

 Semakin sering kami berbincang, semakin saya memahami bahwa ketertarikannya pada Joker bukan sekadar karena film itu memenangkan berbagai penghargaan. Ada bagian dari dirinya yang merasa terwakili.

 Sebagai penyintas skizofrenia yang pernah cukup lama bergiat di Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Bali, saya terbiasa mendengarkan kisah orang-orang yang membawa luka batin. Saya tidak berbicara dengannya sebagai psikolog ataupun psikiater, melainkan hanya mendengarkan sebagai seorang teman.

 Percakapan kami berlangsung berkali-kali. Sedikit demi sedikit ia membuka kisah masa kecilnya. Tentang hubungan dengan keluarga yang tidak selalu hangat, pengalaman hidup yang hingga kini masih meninggalkan bekas, kecemasan yang kerap datang tanpa diundang. Tentang malam-malam yang terasa lebih panjang daripada siang hari.

 Saya menyarankannya menemui tenaga profesional kesehatan jiwa.Ia mengangguk, namun sampai hari ini ia belum juga datang. Saya tidak memaksanya. Saya hanya berharap ia tidak menunggu sampai luka-luka itu menjadi semakin dalam.

 Pengalaman itu kembali mengingatkan saya bahwa gangguan mental sesungguhnya jauh lebih dekat daripada yang kita bayangkan. Ia tidak selalu tampak. Tidak selalu membuat seseorang berteriak di jalan, atau membuat seseorang kehilangan kemampuan membedakan kenyataan.

 Sering kali ia bersembunyi di balik wajah yang tampak baik-baik saja. Gangguan mental bisa hidup serumah dengan kita. Ia bisa menjadi ayah yang setiap pagi mengantar anak ke sekolah, ibu yang setiap hari memasak untuk keluarganya, mahasiswa yang duduk di sebelah kita.

Atau, bisa menjadi rekan kerja yang tak pernah absen. Juga, menjadi sahabat yang selalu terlihat ceria.

 Atau, bisa juga menjadi diri kita sendiri. Karena itu saya selalu merasa ada sesuatu yang kurang tepat ketika masyarakat menyamakan seluruh persoalan kesehatan mental dengan orang yang hidup terlantar di jalan.

 Gangguan mental jauh lebih luas daripada gambaran yang selama ini kita lihat. 

* Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan esais. Sejak 2018 ia telah menulis 20 buku, kumpulan puisi dan buku kumpulan esai. Ia dapat dijumpai di akun Instagram: @anggawijaya548. 

Apa Komentar Anda?