- Kasus Bullying dan kekerasan berbasis gender online kini marak terjadi akibat perkembangan teknologi digital
- Para pelajar dan warga dibekali kemampuan untuk mendeteksi dan melakukan penanganan kasus
- Warga diajak berkomitmen untuk mewujudkan Desa yang aman, nyaman, dan peduli terhadap anak serta perempuan dimulai dari keluarga, sekolah, dan masyarakat.
BADUNG, kanalbali.id – Di tengah maraknya kasus perundungan dan kekerasan berbasis gender online (KBGO) yang menyasar anak dan remaja, sekelompok mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) Unit Belok ke Pelaga tahun 2026 di Bali mengambil langkah nyata.
Melalui program kerja bertajuk “Literasi Gender dan Digital: Cegah Bullying, Lindungi Semua”, mereka menyasar dua kelompok sasaran sekaligus, yakni pelajar SMP Negeri 2 Petang dan warga Desa Pelaga serta Belok Sidan, Kabupaten Badung.
Program ini digagas atas hasil koordinasi bersama Keluarga Alumni Gadjah Mada (Kagama) Bali dan pihak sekolah, serta dipimpin oleh dua mahasiswa dari program studi Antropologi Budaya yakni Dahayu Sasmita Dharma dan Dehya Bisma Rifani.
Jejak Digital Bisa Memengaruhi Masa Depan
Program ini merespons data yang menunjukkan tren peningkatan kasus perundungan di lingkungan pendidikan. Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mencatat lonjakan dari 91 kasus pada 2020 menjadi 573 kasus pada 2024, dengan separuh dari kasus yang tercatat Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) pada 2023 terjadi di jenjang SMP.
Sesi pertama digelar di aula SMP Negeri 2 Petang, menyasar sekitar 220 siswa dalam format tatap muka sekali jalan berdurasi 30 menit. Meski waktunya singkat, mahasiswa KKN merancang sesi ini agar tetap interaktif.
Mulai dari ice breaking, studi kasus yang relevan dengan keseharian remaja, hingga sesi refleksi diri sebelum membahas topik yang lebih sensitif seperti kekerasan seksual dan consent.
Materi disusun berdasarkan hasil koordinasi dengan Guru Bimbingan Konseling (BK) SMP Negeri 2 Petang, yang mengidentifikasi sejumlah isu nyata di lapangan: siswa yang masih ragu melapor saat mengalami atau menyaksikan perundungan, kesenjangan pemahaman gender, hingga meningkatnya kepemilikan gawai pribadi di kalangan siswa yang membuka ruang baru bagi KBGO.
“Kasus yang kerap ditemui di SMP Negeri 2 Petang adalah siswa yang cenderung melakukan perundungan (bullying) dan candaan yang berpotensi menyakiti teman, serta isu terkait kesetaraan gender.”
Sesi ini menekankan pesan sederhana namun mendasar: perbedaan itu wajar, dan yang tidak boleh dibiarkan adalah tindakan merundung, mengejek, atau melecehkan orang lain karena perbedaan tersebut.
Siswa juga diperkenalkan pada konsep consent, batasan tubuh, serta jalur pelaporan yang tersedia — mulai dari Guru BK di sekolah hingga layanan Sahabat Perempuan dan Anak (SAPA 129) dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA).
Dari Ruang Kelas ke Talkshow Komunitas
Beberapa waktu setelah sesi di sekolah, program ini berlanjut ke skala yang lebih luas yakni sebuah talkshow kegiatan Festival Growtopia di Badung Agro Techno Park yang mengajak SD Negeri 5 Belok, SMP Negeri 3 Petang, serta warga Desa Pelaga dan Belok/Sidan.
Berbeda dari sesi di sekolah, talk show ini membuka pembahasan dengan pembedaan konsep yang lebih mendasar: jenis kelamin sebagai kodrat biologis yang tidak berubah, dan gender sebagai konstruksi sosial yang bersifat dinamis serta dapat berbeda antarwaktu dan antartempat.
Materi ini turut menyinggung bagaimana konstruksi sosial yang timpang dapat melahirkan relasi kuasa, yang pada akhirnya bermanifestasi dalam lima bentuk ketidakadilan gender: stereotip, marginalisasi, subordinasi, kekerasan, dan beban kerja ganda.
Sesi kemudian menyambungkan isu ini dengan konteks digital, menyoroti bagaimana kemajuan teknologi turut memperluas ruang terjadinya kekerasan berbasis gender, termasuk KBGO yang menurut Catatan Tahunan Komnas Perempuan 2023 telah mencatat 1.272 kasus yang dilaporkan secara nasional.
Angka yang diyakini jauh lebih kecil dari kejadian sesungguhnya karena banyak korban tidak melapor. Pesan kunci yang ditekankan dalam sesi ini adalah bahwa kendali penuh atas dampak dunia digital sesungguhnya ada pada penggunanya sendiri.
Talkshow ini juga memperkenalkan jejaring dukungan yang lebih berlapis dibandingkan dengan sesi sekolah, mencakup keluarga, sekolah, hingga layanan resmi Pemerintah Daerah seperti Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) Kabupaten Badung, selain SAPA 129 di tingkat nasional.
Format talkshow yang lebih santai memungkinkan sesi tanya-jawab dan dinamika berbagi cerita dari peserta yang hadir
Satu Pesan, Dua Panggung
Meski disampaikan dengan pendekatan dan kedalaman yang berbeda untuk audiens yang berbeda, kedua sesi ini membawa pesan inti yang sama, bahwa literasi gender dan literasi digital adalah dua kemampuan yang saling melengkapi untuk melindungi diri sendiri maupun orang lain dari bullying dan kekerasan.
Sesi di SMP Negeri 2 Petang ditutup dengan ajakan sederhana bagi siswa untuk menghormati keberagaman, bijak bermedia sosial, dan berani melapor. Sementara talkshow di Badung Agro Techno Park diakhiri dengan komitmen bersama seluruh warga yang hadir untuk mewujudkan Desa Pelaga dan Belok/Sidan yang aman, nyaman, dan peduli terhadap anak serta perempuan — dimulai dari keluarga, sekolah, dan masyarakat secara bersama-sama.
Program ini menjadi salah satu wujud kontribusi mahasiswa KKN-PPM UGM dalam menjawab isu sosial yang kian mendesak di era digital, sekaligus menunjukkan bahwa edukasi mengenai gender dan keamanan digital dapat disampaikan secara relevan lintas generasi — dari bangku sekolah hingga ruang publik komunitas.
*Artikel ini merupakan bagian dari dokumentasi program kerja KKN-PPM UGM Belok ke Pelaga Tahun 2026, bekerja sama dengan Kagama Bali, SMP Negeri 2 Petang, dan warga Desa Pelaga serta Belok/Sidan, Kabupaten Badung.


