Bu Thomas, Menjaga Rasa Pisang Bali dari Pujungan

Ni Wayan Simpen, 70 tahun, atau yang akrab dipanggil Bu Thomas, adalah perempuan asal Karangasem yang telah puluhan tahun menetap di Denpasar. Di usia 70 tahun, ia masih menjalankan usaha berjualan buah, terutama pisang Bali yang didatangkan langsung dari kebun di kawasan Pujungan, Tabanan.

Penulis: Angga Wijaya

SELAMA sekitar 15 tahun menekuni usaha pisang, Bu Thomas mempertahankan satu prinsip, yakni memilih barang dengan baik dan menjaga kualitas rasa.

Bu Thomas berasal dari Karangasem, kabupaten yang berada di ujung timur Pulau Bali. Sudah puluhan tahun ia menetap di Denpasar. Di kota inilah kemudian ia menjalani kehidupan sekaligus mengembangkan usaha kecilnya sebagai pedagang buah.

Usaha tersebut telah dijalaninya cukup lama. Khusus untuk pisang, ia mengaku sudah sekitar 15 tahun menekuninya.

Meski telah lama menjadi pedagang buah, Bu Thomas tidak mengambil barang dagangan secara sembarangan. Ia justru cukup selektif dalam memilih buah, terutama pisang yang menjadi dagangan utamanya.

“Kalau buah sudah agak lama. Tapi saya memilih barang itu, bukanlah saya sembarangan cari barang. Kalau saya banyak barangnya, barang Bali langsung dari kebun,” ujarnya.

Memilih Pisang Langsung dari Kebun

Salah satu sumber pisang yang dipilih Bu Thomas adalah kawasan Pujungan, Tabanan. Pisang tersebut berasal dari daerah pegunungan dan kemudian dibawa untuk dipasarkan.

Bagi Bu Thomas, asal-usul buah merupakan bagian penting dari kualitas. Ia memilih pisang yang berasal langsung dari kebun karena ingin mempertahankan rasa dan kondisi buah.

“Biar rasa tetap, biar manis. Tidak lembek. Biar bagus barangnya itu,” katanya.

Menurutnya, buah yang berasal dari kebun dan dipilih dengan baik akan memiliki kualitas yang lebih bisa diandalkan. Karena itu, ia tidak sekadar mencari buah yang tersedia, tetapi mempertimbangkan jenis dan kondisinya sebelum dijual kepada konsumen.

Pisang Menjadi Dagangan Utama

Dari berbagai jenis buah, pisang tetap menjadi dagangan utama Bu Thomas. Buah lain biasanya hanya ia jual ketika sedang musim atau ketika mendapatkan hasil panen dengan kualitas yang bagus.

“ Sebenarnya tetapnya, ya, pisang. Sebenarnya, nanti kalau lain-lain bisa ada. Pas ada durian yang bagus, bisa juga ambil. Pepaya juga,” ujarnya.

Ia juga sesekali menjual jambu jika sedang ada panenan.

Untuk pisang sendiri, jenis yang tersedia cukup beragam. Di antaranya pisang raja, pisang kayu, pisang ambon, pisang lumut, pisang kepok Karangasem, pisang kepok merah, dan pisang kepok kuning.

Keberagaman jenis tersebut memberi pilihan kepada pembeli. Namun, bagi Bu Thomas, kualitas tetap menjadi pertimbangan utama.

Pembeli Ada, tetapi Modal Menjadi Kendala

Selama berjualan, Bu Thomas mengaku tetap memiliki pembeli. Ia merasa pembeli cukup lumayan karena dirinya tidak mengambil keuntungan terlalu besar.

“Kalau orang beli sih ada saja, Pak. Soalnya kadang-kadang ambil keuntungan nggak begitu banyak. Jadi pembeli itu agak lumayan,” katanya.

Namun, usaha tersebut belum berkembang hingga mampu melayani kebutuhan hotel. Salah satu kendalanya adalah modal.

Bu Thomas sebenarnya terbuka jika ada hotel yang ingin membeli pisang secara kontan. Namun, ia tidak bisa mengikuti sistem pembayaran secara bon karena akan mengganggu perputaran modal usahanya.

“Soalnya saya tidak meladeni hotel-hotel. Kalau kontan, nggak apa-apa. Kalau bon-bon itu nggak. Soalnya modal nggak ada,” ujarnya.

Karena keterbatasan modal tersebut, ia memilih menjalankan usaha sesuai kemampuan. Ia juga tidak mencari pinjaman atau kredit untuk menambah modal.

Ketika ditanya apakah pernah mencari kur sebagai tambahan modal, jawabannya singkat.

“Nggak, Pak.”

Permintaan Meningkat Saat Upacara

Pisang yang dijual Bu Thomas digunakan untuk berbagai kebutuhan. Selain dikonsumsi oleh keluarga, pisang juga banyak dicari untuk keperluan upacara.

Menurutnya, ketika ada upacara, penjualan pisang biasanya meningkat.

“Dikonsumsi ada juga. Karena agak lumayan juga orang belanja. Kalau untuk upacara juga ada. Permintaan meningkat menjelang rahinan atau hari suci umat Hindu,” katanya.

Hari-hari suci dan berbagai kegiatan upacara di Bali menjadi salah satu momentum meningkatnya permintaan. Bagi masyarakat yang membutuhkan sarana upacara, pisang menjadi salah satu buah yang dicari.

Namun, pisang yang dijualnya juga tetap dikonsumsi sebagai makanan sehari-hari oleh keluarga.

Harga Berdasarkan Ukuran dan Jumlah

Harga pisang yang dijual Bu Thomas disesuaikan dengan ukuran. Untuk pisang berukuran paling besar atau kategori super, harganya bisa mencapai Rp2.000 per biji.

“Yang paling besar paling dua ribu. Yang super,” katanya.

Sementara pisang dengan ukuran lebih kecil berada di kisaran seribuan. Pisang dapat dijual berdasarkan biji maupun sisir.

Untuk pisang Bali, Bu Thomas menghitung jumlah buah terlebih dahulu. Setelah itu, jumlah tersebut menjadi dasar untuk menentukan harga satu sisir.

Harga juga bisa berbeda ketika pembeli mengambil dalam jumlah banyak. Jika hanya membeli satu sisir, harga tetap pada harga normal. Tetapi apabila jumlah pesanannya banyak, ia bersedia memberikan harga lebih rendah.

“Kalau orang orderan banyak yang nyari barang, saya turunin harganya. Kalau nyari satu sisir, harganya Rp2 ribu,” ujarnya.

Menurutnya, semakin banyak jumlah pesanan, semakin memungkinkan harga diturunkan.

“Kalau seharinya orang nyari banyak, harganya turun gitu dia. Kalau dalam jumlah banyak, ya. Saya turunin harganya,” katanya.

Pembeli Mengenali Rasa dan Kualitas

Bu Thomas melihat konsumen yang sudah terbiasa membeli pisang akan mampu membedakan kualitas buah. Mereka mengetahui rasa, tekstur, dan kondisi pisang yang dibeli.

“Karena pisangnya kan dia juga tahu rasa dan kualitas dia beda,” ujarnya.

Ia mengatakan pisang pilihannya memiliki tekstur yang lebih padat dan tidak mudah lembek.

“Kalau kualitas itu kan pisang saya kan memang nggak bagus gitu lah. Nggak ada lembeknya, dia bagus,” katanya.

Menurut Bu Thomas, konsumen juga bisa mengenali kualitas berdasarkan asal buah. Ketika pembeli mengetahui dari mana sebuah buah berasal, mereka dapat memperkirakan kualitas dan harganya.

“Dari mana asalnya, kena tahu dia. Kalau tahu dia asalnya, barang itu kan memang ada yang mahalan, ada yang murahan,” ujarnya.

Pisang Lokal dan Pisang dari Luar Bali

Bu Thomas juga merasakan adanya perbedaan antara pisang lokal yang dipilihnya dengan sebagian pisang yang dijual di toko buah dan berasal dari luar Bali.

“Kalau toko-toko buah yang dari luar Bali? Banyak, beda. Ada yang agak kecut, pisangnya. Ada yang lembek dia,” katanya.

Menurutnya, ada pisang yang kualitasnya kurang baik, sementara pisang yang ia pilih memiliki tekstur lebih padat.

“Kalau saya, pisangnya padat,” ujarnya.

Ia bahkan berani menjamin kualitas rasa pisang yang dijualnya.

“Kalau pisang, saya berani jamin barang. Barang saya berani jamin rasa,” katanya.

Bagi Bu Thomas, jaminan rasa tersebut menjadi bagian penting dari kepercayaan antara penjual dan pembeli.

Bertahan dengan Modal Sendiri

Selama sekitar 15 tahun berjualan pisang, Bu Thomas memilih menjalankan usaha dengan modal yang tersedia. Ia tidak mengambil pinjaman untuk mengembangkan dagangan.

Pilihan tersebut membuat skala usahanya masih terbatas. Ia belum bisa melayani hotel dengan sistem pembayaran bon, meskipun bersedia memenuhi permintaan dalam jumlah besar jika pembayaran dilakukan secara kontan.

Bagi Bu Thomas, jumlah pesanan juga menentukan harga. Jika pembeli mengambil banyak, harga bisa diturunkan. Sebaliknya, jika hanya membeli satu sisir, harga mengikuti harga normal.

Cara tersebut menjadi bagian dari strategi sederhana yang ia jalankan untuk menjaga usaha tetap berjalan.

 Setelah sekitar 15 tahun menekuni bisnis pisang, Bu Thomas tidak memiliki ambisi yang muluk-muluk. Harapannya sederhana, yakni, usaha terus berjalan lancar dan ia tetap bisa melayani pembeli yang membutuhkan pisang.

“Semoga lancar, Pak. Siapa tahu nanti setelah saya ini ada orang pesan atau bagaimana. Nanti kalau saya pesan berapa, saya ladenin,” ujarnya.

Jika suatu hari ada pembeli yang memesan dalam jumlah besar, ia siap menyediakan sesuai kemampuan. Jumlah pesanan yang banyak juga akan membuatnya dapat memberikan harga yang lebih murah.

Dari Karangasem hingga Denpasar, Bu Thomas telah melewati puluhan tahun kehidupan sebagai perantau di kota. Di usianya yang kini 70 tahun, ia masih mempertahankan usaha sederhana yang telah dijalaninya sekitar 15 tahun.

Pisang-pisang dari Pujungan, Tabanan, menjadi bagian dari kesehariannya. Ia memilih buah dari kebun, memperhatikan kualitas, mengenali jenisnya, menghitung harga berdasarkan ukuran dan jumlah, lalu menyerahkannya kepada pembeli.

Di tengah persaingan dengan buah dari luar Bali dan keterbatasan modal, Bu Thomas bertahan dengan cara yang sederhana, yakni, memilih barang yang baik, menjaga rasa, dan membangun kepercayaan pembeli.

Bagi seorang pedagang kecil seperti Bu Thomas, mungkin itulah modal yang paling penting. ***

 

Apa Komentar Anda?