Menjual Luka di Media Sosial

Foto ilustrasi: Олег Мороз/Unsplash
Foto ilustrasi: Олег Мороз/Unsplash

Belasan atau puluhan tahun lalu, orang-orang menyembunyikan gangguan jiwanya rapat-rapat. Keluarga menutup pintu rumah lebih cepat ketika ada anggota keluarga yang dianggap “tidak waras”. Beda dengan situasi hari ini dimana gangguan jiwa dibicarakan secara terbuka termasuk di media sosial.

Oleh Angga Wijaya

PADA masa lalu nama seseorang perlahan hilang dari percakapan banjar. Ada yang dipasung, dikurung di kamar belakang, atau dibawa diam-diam ke orang pintar. Juga ada pula yang sekadar dibiarkan berjalan sendiri tanpa arah di pinggir jalan.

Gangguan jiwa adalah aib. Setidaknya begitu yang saya lihat sejak kecil. Namun sekarang,, pemandangannya perlahan berubah. Di media sosial, sebagian orang justru menampilkan gangguan mentalnya dengan terbuka. Diagnosis ditulis di bio akun. Episode depresi dijadikan konten video. Tangisan direkam, dan luka dipamerkan. Bahkan ada yang menjadikan sakitnya seperti identitas utama dirinya.

Saya tidak tahu kapan persisnya perubahan itu terjadi. Sebagai orang yang didiagnosis skizofrenia paranoid sejak 2009, saya sering merasa bingung melihat fenomena ini. Di satu sisi, saya bersyukur karena kesehatan mental mulai dibicarakan secara terbuka. Orang-orang tidak lagi terlalu takut pergi ke psikolog atau psikiater. Generasi muda mulai berani mengakui dirinya sedang tidak baik-baik saja. Itu tentu kemajuan.

Tetapi di sisi lain, saya juga melihat sesuatu yang mengganggu. Ada kecenderungan untuk menjadikan penderitaan sebagai pertunjukan. Seolah-olah luka harus selalu diperlihatkan agar keberadaannya dianggap nyata.

Fenomena Media Sosial

Di media sosial, kesedihan tampaknya lebih mudah mendapat perhatian dibanding ketenangan. Orang yang menangis lebih cepat viral dibanding orang yang diam-diam bertahan hidup. Kemarahan lebih ramai dibanding proses pemulihan yang sunyi. Algoritma tampaknya memang menyukai emosi yang meledak-ledak. Saya sering berpikir, jangan-jangan media sosial diam-diam sedang membentuk budaya baru tentang cara manusia memahami dirinya sendiri.

Dalam kajian antropologi psikologi, identitas manusia tidak lahir begitu saja dari dalam diri. Cara seseorang memahami emosi, rasa sakit, bahkan dirinya sendiri, dibentuk oleh lingkungan budaya tempat ia hidup. Kesedihan bukan sekadar urusan biologis. Trauma bukan hanya persoalan medis. Semua itu juga dipengaruhi bahasa, simbol, relasi sosial, dan ruang tempat manusia berinteraksi. Pada masa sekarang, ruang itu bernama media sosial.

Dulu, manusia mencari pengakuan lewat keluarga, tetangga, komunitas, atau kelompok sosial di dunia nyata. Kini, pengakuan itu berpindah ke layar telepon genggam. Orang mencari validasi melalui tanda suka, komentar, jumlah penonton, dan algoritma. Masalahnya, algoritma lebih menyukai sesuatu yang ekstrem. Kesembuhan terlalu tenang untuk menjadi viral. Karena itu, luka akhirnya menemukan pasarnya sendiri.

Saya melihat banyak konten tentang gangguan mental yang awalnya mungkin dibuat sebagai bentuk kejujuran atau keberanian bercerita. Namun perlahan berubah menjadi persona digital. Ada semacam kebanggaan tersembunyi ketika seseorang dianggap paling terluka, paling hancur, atau paling kacau.

Kita hidup di zaman ketika penderitaan bisa memiliki estetika. Foto-foto muram diberi kutipan tentang depresi. Video menangis diberi musik sendu. Gangguan mental perlahan berubah menjadi citra. Bahkan kadang tampak seperti gaya hidup. Padahal kenyataan gangguan jiwa tidak seindah itu. Gangguan jiwa tidak romantis. Ia melelahkan.

Saya tahu rasanya paranoid terhadap banyak hal. Saya tahu rasanya sulit tidur berhari-hari. Saya tahu bagaimana obat-obatan bisa membuat tubuh terasa lamban. Saya tahu bagaimana stigma bekerja diam-diam. Orang mungkin tersenyum di depan kita, tetapi diam-diam menjaga jarak. Saya tahu bagaimana rasanya mempertahankan pekerjaan sambil terus bertarung dengan isi kepala sendiri.

Tidak ada yang keren dari itu semua. Karena itu saya sering heran ketika melihat ada semacam romantisasi terhadap orang-orang yang hancur. Budaya populer ikut punya peran dalam hal ini. Film, musik, novel, dan media sosial berkali-kali menggambarkan orang yang depresi atau rusak sebagai sosok yang lebih artistik, lebih dalam, lebih menarik. Masyarakat modern tampaknya mulai jatuh cinta pada luka.

Kita lebih mudah tersentuh oleh seseorang yang tampak kacau dibanding seseorang yang diam-diam sedang berusaha pulih. Orang yang berhasil bertahan sering kali kalah menarik dibanding orang yang terus mempertontonkan kehancurannya. Mungkin karena penderitaan memang lebih dramatis.

Tetapi saya kira ada sesuatu yang lebih berbahaya dari sekadar romantisasi. Media sosial perlahan membuat sebagian orang takut kehilangan identitas lukanya sendiri. Ketika perhatian datang karena sakit yang dimiliki, kesembuhan kadang terasa seperti ancaman. Jika sembuh, siapa yang akan peduli lagi. Pertanyaan itu terdengar mengerikan, tetapi mungkin nyata.

Kondisi di Bali

Di Bali, saya tumbuh dalam budaya yang sangat menjaga keseimbangan sosial dan spiritual. Dulu keluarga sering menyembunyikan anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa karena takut dianggap mencoreng nama baik keluarga. Gangguan jiwa dibungkam. Hari ini, di media sosial, yang terjadi kadang justru sebaliknya. Luka dipamerkan terus-menerus. Keduanya sama-sama menyedihkan. Yang satu membuat manusia kehilangan suara. Yang satu lagi berisiko membuat manusia terjebak dalam identitas penderitaannya sendiri.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa orang dengan gangguan jiwa harus diam. Tidak. Saya justru percaya pengalaman tentang kesehatan mental penting dibicarakan secara terbuka. Banyak penyintas yang berhasil membantu orang lain merasa tidak sendirian lewat cerita-cerita mereka. Tetapi ada garis tipis antara berbagi pengalaman dan menjadikan luka sebagai pusat identitas diri.

Mungkin itu sebabnya saya lebih menghormati orang-orang yang diam-diam bertahan hidup. Mereka yang tetap bekerja sambil minum obat, yang tetap datang ke kantor meski isi kepalanya berisik. Mereka yang berusaha menjaga dirinya tetap waras tanpa merasa perlu mempertontonkan semuanya di media sosial. Karena perjuangan terbesar sering kali memang tidak terlihat.

Media sosial telah memberi manusia panggung yang sangat luas untuk menampilkan dirinya. Namun di saat yang sama, ia juga menciptakan godaan untuk terus mengubah pengalaman pribadi menjadi pertunjukan. Termasuk penderitaan. Dan saya kira, di situlah kita perlu mulai berhati-hati. ( kanalbali )

 

Apa Komentar Anda?