Catatan untuk event Ruang Sinema Mitologi Bali Kitapoleng Film 16-17 Juli 2026.
oleh: Tim Kitapoleng
Barangkali yang sedang hilang dari Bali bukanlah kebudayaannya.
Pura masih berdiri di hampir setiap desa. Upacara masih berlangsung nyaris tanpa jeda. Tari-tarian terus dipentaskan. Sesajen tetap dihaturkan. Kalender adat berjalan, masih sama seperti bertahun- tahun sebelumnya. Namun ada sesuatu yang diam-diam terkikis: kemampuan memahami mengapa semua itu ada.
Generasi muda Bali hari ini hidup di tengah limpahan simbol kebudayaan, tetapi sangat minim yang mampu membaca bahasa di balik simbol-simbol tersebut. Nama-nama seperti Durga, Bhatari Sri, atau Dewi Melanting masih akrab di telinga, tetapi perlahan berubah menjadi sekadar pengetahuan permukaan.
Mitologi yang dahulu menjadi pondasi cara masyarakat Bali memandang kehidupan kini semakin sering diperlakukan sebagai cerita masa lalu. Selalu indah untuk dikenang, tetapi tidak lagi penting untuk dipahami. Di titik inilah krisis kebudayaan sebenarnya bermula.
Sebuah kebudayaan tidak mati ketika ritualnya berhenti dilakukan. Ia mulai kehilangan daya hidup ketika masyarakatnya berhenti memahami makna yang dikandung ritual itu sendiri.
Kesadaran itulah yang melandasi penyelenggaraan Ruang Sinema Mitologi Bali, program pemutaran film dan diskusi budaya yang digagas KITAPOLENG FILM pada 16 17 Juli 2026 di Sub Unit Balai Pelestarian Kebudayaan Bali.
Melalui empat film pendek bertema mitologi; Durgapuja, Melanting, Bhatari Sri, dan Wong Gamang, para pelajar diajak memasuki ruang yang jarang mereka temukan di sekolah. Sebuah ruang untuk mempertanyakan, membaca ulang, dan berdialog dengan akar kebudayaannya sendiri.
Pilihan menggunakan sinema bukan sekadar strategi agar pelajar tidak bosan. Sinema diposisikan sebagai bahasa baru untuk menyampaikan pengetahuan lama. Sebab tantangan terbesar pelestarian budaya hari ini bukan lagi bagaimana membuat generasi muda datang ke museum atau menonton pertunjukan tradisi.
Tantangannya adalah bagaimana membuat mereka merasa bahwa cerita-cerita leluhur masih memiliki hubungan langsung dengan kegelisahan hidup mereka hari ini.
Empat film yang diputar menawarkan jawaban berbeda.
Durgapuja: Perempuan-perempuan yang Menggugat menghadirkan Durga bukan sebagai sosok yang menakutkan sebagaimana kerap dipahami secara populer. Film ini justru membongkar lapisan-lapisan persoalan perempuan, kuasa, luka, dan perlawanan.
Durga dibaca sebagai energi yang lahir ketika perempuan menolak terus-menerus diposisikan sebagai subjek yang pasif. Dalam konteks itu, mitologi berubah menjadi kritik sosial yang tetap relevan lintas zaman.
Sementara Melanting: Tubuh yang Dihaturkan dan Wong Gamang: The Journey of Dewi Melanting menghadirkan Dewi Melanting sebagai metafora mengenai kerja, pengabdian, dan kemakmuran.
Film ini mengingatkan bahwa kemakmuran dalam tradisi Bali tidak pernah lahir dari akumulasi materi semata, tetapi dari relasi yang selaras antara manusia, kerja, dan laku spiritual.
Adapun Bhatari Sri: Subak dan Jejak-jejak Kemuliaan mengajak penonton melihat alam melalui mata seorang anak. Kesederhanaan cerita justru membuka kesadaran bahwa subak, sawah, air, dan kehidupan bukan sekadar sistem pertanian, melainkan kosmologi.
Di tengah krisis ekologis yang semakin nyata, kisah Bhatari Sri terasa lebih aktual daripada sebelumnya. Ia mengingatkan bahwa merawat alam bukan agenda modern, melainkan pengetahuan yang sejak lama hidup dalam mitologi Bali.
Yang menarik, seluruh film ini tidak memperlakukan mitologi sebagai sesuatu yang harus dipercaya secara literal. Mitologi justru dibaca sebagai cara sebuah peradaban menyimpan pengetahuan.
Di dalamnya tersimpan cara masyarakat memahami hubungan manusia dengan alam, tubuh dengan spiritualitas, perempuan dengan kekuasaan, bahkan kehidupan dengan kematian. Mitologi bukan lawan dari rasionalitas. Ia adalah bahasa simbolik yang memungkinkan sebuah masyarakat mewariskan nilai-nilai yang tak selalu bisa dijelaskan oleh logika.
Karena itu, setelah layar selesai memutar film, diskusi menjadi bagian yang tak kalah penting.
Dialog bersama sutradara Dibal Ranuh, seniman Echa Laksmi, Dewi Atheny, dan moderator Ananda Gayatri membuka kemungkinan tafsir yang lebih luas. Film tidak berhenti sebagai karya artistik, melainkan menjadi medium untuk mempertanyakan bagaimana kebudayaan dipahami, diwariskan, bahkan dinegosiasikan di tengah perubahan zaman.
Di era media sosial, ketika segala sesuatu dituntut serba cepat, kebudayaan justru memerlukan sesuatu yang semakin langka: waktu untuk berpikir. Ruang Sinema Mitologi Bali memilih memperlambat ritme itu.
Ia mengajak pelajar berhenti sejenak dari banjir informasi untuk menyelami pengetahuan. Mengajak mereka tidak hanya melihat gambar, tetapi membaca makna. Tidak hanya menghafal nama para dewi, tetapi memahami nilai yang membuat mereka terus hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Bali. Sebab sesungguhnya ancaman terbesar terhadap kebudayaan bukanlah globalisasi.
Ancaman terbesar adalah ketika sebuah generasi masih mewarisi seluruh simbol kebudayaannya, tetapi kehilangan kemampuan untuk menjelaskan mengapa simbol-simbol itu layak dipertahankan.
Di situlah sinema menemukan perannya. Bukan sekadar menjadi hiburan, melainkan ruang tempat kebudayaan kembali diperdebatkan, dipahami, dan dihidupkan. Karena pada akhirnya, mitologi tidak pernah meminta untuk dipercaya begitu saja.
Ia meminta untuk terus dibaca. Dimaknai secara terus menerus, tanpa mengenal usai. (kanalbali/RLS)


