Tidak semua orang bersedia menceritakan isi dompetnya kepada orang lain. Ada rasa malu, takut dianggap gagal, atau khawatir dipandang tidak mampu mengurus kehidupannya sendiri.
Oleh Angga Wijaya*
KECEMASAN yang paling menakutkan pada usia saya sekarang, yang sudah menginjak kepala empat, selain kecemasan psikologis, tentulah kecemasan finansial. Bagi saya, kecemasan ini bukan semata-mata tentang seberapa banyak uang yang bisa dikumpulkan atau seberapa mapan kehidupan yang bisa dibangun.
Lebih mendasar dari itu, saya cemas apakah masih memiliki cukup uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk kebutuhan paling elementer yang sering luput dari perhatian ketika hidup sedang baik-baik saja, yakni makan.
Saat isi rekening atau dompet mulai menipis, bahkan beberapa kali benar-benar kosong, pikiran saya bisa ke mana-mana. Masa depan tiba-tiba terasa begitu dekat sekaligus menakutkan.
Saya memikirkan kebutuhan hari esok, biaya hidup yang terus berjalan, dan berbagai kemungkinan buruk yang bisa terjadi ketika tidak ada uang yang bisa diandalkan. Dalam situasi seperti itu, kecemasan tidak lagi berhenti sebagai sesuatu yang berlangsung di kepala. Ia menjelma menjadi pertanyaan yang sangat konkret, besok saya makan apa?
Pertanyaan tersebut mungkin terdengar sederhana bagi mereka yang memiliki penghasilan tetap dan tabungan cukup. Namun, bagi orang-orang dengan kondisi keuangan terbatas, pertanyaan tentang makanan bisa menjadi sumber kecemasan yang nyata.
Memasuki usia kepala empat, saya semakin menyadari bahwa persoalan finansial bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan hari ini, melainkan juga tentang bagaimana menghadapi hari esok tanpa terus-menerus dihantui ketidakpastian.
Saya tinggal di Denpasar, kota yang menawarkan banyak kesempatan bagi orang-orang untuk bekerja dan mencari penghidupan. Namun, kehidupan kota juga menuntut biaya yang tidak sedikit.
Ada biaya tempat tinggal, makan, transportasi, kesehatan, dan berbagai kebutuhan lain yang tidak bisa begitu saja diabaikan. Penghasilan yang tampaknya cukup di atas kertas bisa terasa berbeda ketika harus dibagi untuk memenuhi semua kebutuhan tersebut.
Kecemasan finansial juga tidak selalu terlihat dari luar. Seseorang bisa tetap bekerja, bercakap-cakap dengan teman, menulis, atau menjalankan rutinitas sehari-hari, tetapi menyimpan kekhawatiran tentang keadaan ekonominya.
Tidak semua orang bersedia menceritakan isi dompetnya kepada orang lain. Ada rasa malu, takut dianggap gagal, atau khawatir dipandang tidak mampu mengurus kehidupannya sendiri.
Dalam masyarakat yang kerap mengukur keberhasilan melalui pekerjaan, penghasilan, rumah, dan kepemilikan lainnya, kesulitan finansial bisa terasa seperti kegagalan pribadi. Padahal, keadaan ekonomi seseorang tidak selalu ditentukan oleh kemauan bekerja.
Ada orang yang sudah bekerja keras, tetapi penghasilannya tetap tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ada pula yang menghadapi persoalan kesehatan, kehilangan pekerjaan, atau keadaan lain yang membuat kondisi keuangannya mudah goyah.
Saya memahami bahwa kecemasan semacam ini tidak selalu bisa diselesaikan dengan nasihat agar lebih hemat, bekerja lebih keras, atau berpikir positif. Nasihat tersebut mungkin berguna dalam keadaan tertentu, tetapi tidak menjawab persoalan orang yang penghasilannya memang tidak mencukupi kebutuhan dasar.
Bagaimana seseorang bisa menabung jika seluruh pendapatannya habis untuk makan, membayar kamar kos, transportasi, dan kebutuhan sehari-hari lainnya?
Persoalan ini semakin rumit bagi pekerja informal, pekerja lepas, dan orang-orang yang penghasilannya tidak menentu. Mereka bisa memperoleh uang hari ini, tetapi belum tentu mendapatkan jumlah yang sama besok. Ketika pekerjaan sepi atau penghasilan terlambat datang, kebutuhan hidup tidak ikut berhenti.
Kecemasan finansial, dengan demikian, tidak bisa semata-mata dipahami sebagai persoalan kemampuan seseorang mengelola uang. Dalam banyak keadaan, kecemasan tersebut juga berkaitan dengan kondisi sosial dan ekonomi yang membuat kehidupan seseorang rentan.
Di Denpasar, saya mengetahui ada sejumlah komunitas yang menyediakan makanan gratis bagi warga yang membutuhkan. Mereka membantu orang-orang yang kesulitan secara ekonomi, termasuk pekerja dan keluarga miskin, untuk memperoleh makanan tanpa harus mengeluarkan uang yang mungkin sudah tidak mereka miliki.
Salah satu gerakan yang menarik perhatian saya adalah Nasi Darurat Denpasar. Pada 23 Juni 2026, detikFood menerbitkan laporan berjudul “Kisah Nasi Darurat Denpasar, Siapapun yang Kelaparan Bisa Makan Gratis”. Laporan tersebut mengisahkan Hyuda, perantau asal Semarang yang tinggal di Bali sejak 2017.
Pengalaman mengalami kesulitan makan pada awal masa perantauannya menjadi salah satu latar belakang kepeduliannya terhadap orang-orang yang menghadapi keadaan serupa. Melalui Nasi Darurat Denpasar, orang yang benar-benar kesulitan membeli makanan dapat meminta bantuan. Salah satu bentuk pertolongannya adalah membayarkan makanan melalui warung terdekat.
Gerakan tersebut juga mengadakan kegiatan berbagi makanan kepada para pejuang nafkah di jalanan. Jangkauan kegiatannya meliputi Denpasar, Badung, Tabanan, dan Gianyar. Laporan tersebut dapat dibaca melalui detikFood dengan judul “Kisah Nasi Darurat Denpasar, Siapapun yang Kelaparan Bisa Makan Gratis”.
Kisah Hyuda menarik bagi saya karena memperlihatkan bagaimana pengalaman pribadi dapat tumbuh menjadi kepedulian sosial. Seseorang yang pernah mengalami kesulitan makan memahami bahwa persoalan tersebut bukan sesuatu yang bisa dianggap sepele. Ia kemudian berusaha memastikan orang lain tidak harus menghadapi keadaan serupa sendirian.
Gerakan serupa dilakukan oleh Let’s Help Bali. Dalam laporan CNA Indonesia, organisasi tersebut diceritakan membantu keluarga yang membutuhkan melalui pembagian makanan, sembako, dan berbagai bentuk bantuan lainnya. Salah satu kegiatannya adalah mengoperasikan Warung Hadsan di Pemogan, Denpasar, tempat warga yang membutuhkan dapat memperoleh makanan gratis.
Laporan tersebut juga menggambarkan keterlibatan orang-orang yang memasak dan memasok makanan. Dengan demikian, kegiatan sosial tidak hanya menghadirkan makanan bagi penerima bantuan, tetapi juga berpotensi membuka kesempatan kerja bagi orang lain.
Dua contoh tersebut memperlihatkan bahwa solidaritas dapat mengambil bentuk yang beragam. Ada orang yang membantu membayar makanan seseorang dalam keadaan darurat. Ada yang memasak dan membagikan nasi. Ada pula yang mengembangkan bantuan menjadi program yang melibatkan keluarga, pekerja, dan pelaku usaha lokal.
Bagi sebagian orang, sepiring nasi gratis mungkin hanya berarti pengeluaran makan yang bisa dihemat hari itu. Namun, bagi mereka yang sedang tidak memiliki uang, makanan tersebut bisa berarti sesuatu yang jauh lebih besar. Ada perut yang bisa diisi, ada kecemasan yang sedikit mereda, dan ada satu hari lagi yang bisa dilewati tanpa harus menanggung lapar.
Persoalan ini tidak bisa dilepaskan dari kondisi kemiskinan di Bali. Data Badan Pusat Statistik Provinsi Bali menunjukkan bahwa pada Maret 2026, jumlah penduduk miskin di Bali mencapai 162.010 orang atau 3,44 persen dari populasi. Garis kemiskinan pada periode tersebut tercatat sebesar Rp675.354 per kapita per bulan.
Angka tersebut perlu dibaca secara cermat. Garis kemiskinan merupakan ukuran statistik untuk mengidentifikasi penduduk yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar menurut metodologi BPS. Angka itu bukan ukuran ideal biaya hidup yang layak. Karena itu, seseorang yang berada sedikit di atas garis kemiskinan pun belum tentu memiliki kehidupan ekonomi yang aman.
Penghasilan yang pas-pasan dapat membuat seseorang sangat rentan ketika menghadapi pengeluaran mendadak, kehilangan pekerjaan, atau gangguan kesehatan. Dalam situasi seperti itu, persoalannya bukan hanya berapa banyak uang yang dimiliki, melainkan juga seberapa lama uang tersebut dapat menopang kehidupannya.
Bagi pekerja dengan pendapatan tidak tetap, ketidakpastian tersebut bisa menjadi beban pikiran yang terus berulang. Mereka harus memastikan kebutuhan hari ini terpenuhi sembari berharap mendapatkan penghasilan lagi esok hari. Tidak mengherankan jika persoalan uang dapat memengaruhi ketenangan psikologis seseorang.
Saya merasakan bahwa kecemasan finansial memiliki cara tersendiri untuk menguasai pikiran. Ketika uang menipis, berbagai kebutuhan yang sebelumnya terasa biasa saja tiba-tiba menjadi sumber kekhawatiran. Saya mulai menghitung pengeluaran, mempertimbangkan apa yang bisa ditunda, dan memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang belum tentu terjadi.
Pengalaman tersebut membuat saya semakin memahami bahwa ketidakpastian finansial bukan sekadar perkara angka dalam rekening. Ada rasa aman yang ikut dipertaruhkan. Ketika seseorang tidak tahu apakah uangnya cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar, ia juga kehilangan sebagian ketenangan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Namun, saya tidak ingin menjadikan gerakan makanan gratis sebagai pengganti pembicaraan tentang akar persoalan kemiskinan. Bantuan makanan memang berarti bagi orang yang sedang lapar, tetapi tidak serta-merta menyelesaikan persoalan rendahnya pendapatan, terbatasnya kesempatan kerja, atau mahalnya biaya hidup.
Kita patut menghargai orang-orang yang menyediakan makanan gratis. Pada saat yang sama, kita perlu mempertanyakan mengapa bantuan semacam itu masih dibutuhkan.
Pertanyaan ini bukan untuk mengurangi arti kebaikan mereka, melainkan untuk mengingatkan bahwa kepedulian sosial perlu berjalan berdampingan dengan upaya memperbaiki keadaan yang membuat seseorang kesulitan memenuhi kebutuhan dasarnya.
Pekerjaan yang layak, penghasilan yang memadai, perlindungan sosial, dan akses terhadap layanan kesehatan tetap diperlukan. Orang yang bekerja seharusnya memiliki kesempatan yang wajar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sementara itu, mereka yang sedang kesulitan perlu mendapatkan pertolongan tanpa harus kehilangan martabat.
Meminta bantuan bukan perkara mudah. Ada rasa malu yang mungkin perlu dilawan dan kekhawatiran akan penilaian orang lain. Karena itu, cara memberikan bantuan juga penting.
Pertolongan yang baik bukan hanya menyediakan makanan, melainkan juga menghormati orang yang menerimanya. Tidak perlu ada penghakiman terhadap keadaan seseorang, apalagi mempermalukannya karena tidak mampu membeli makanan sendiri.
Kita juga tidak harus menunggu menjadi kaya untuk membantu orang lain. Membelikan makanan, menyumbangkan sebagian rezeki sesuai kemampuan, atau mendukung komunitas yang menjalankan kegiatan sosial secara bertanggung jawab merupakan beberapa cara sederhana untuk berbagi.
Saya tidak tahu kapan kecemasan finansial akan benar-benar menjauh dari kehidupan saya. Pada usia kepala empat, saya masih harus memikirkan banyak hal, termasuk kebutuhan hari ini dan ketidakpastian hari esok. Namun, melihat orang-orang saling membantu membuat saya menyadari bahwa kehidupan tidak hanya ditentukan oleh jumlah uang yang kita miliki.
Ada sesuatu yang berharga ketika seseorang bersedia membantu orang lain makan tanpa menuntut balasan. Ada harapan ketika orang-orang yang pernah mengalami kesulitan memilih untuk meringankan kesulitan orang lain. Dan ada kekuatan dalam sebuah komunitas yang tidak membiarkan anggotanya menghadapi kelaparan sendirian.
Di tengah perekonomian yang tidak selalu memberi rasa aman kepada semua orang, solidaritas antarwarga menjadi semakin berarti. Bukan karena solidaritas dapat menggantikan penghasilan yang layak, melainkan karena ia dapat menjadi jaring pengaman ketika seseorang terjatuh. Kita tetap membutuhkan pekerjaan yang manusiawi dan kebijakan yang mendukung pemenuhan kebutuhan dasar. Namun, sembari memperjuangkan semua itu, kita tidak boleh kehilangan kemampuan untuk peduli.
Pada akhirnya, saya kembali kepada pertanyaan sederhana yang sesekali muncul ketika isi dompet menipis, yakni, besok saya makan apa? Saya tidak menganggap pertanyaan itu sebagai sesuatu yang memalukan. Justru dari sana saya belajar memahami bahwa kemampuan memenuhi kebutuhan dasar bukanlah hal yang bisa dianggap remeh.
Ada orang yang setiap hari bekerja keras, tetapi masih harus mencemaskan makanan yang akan disantapnya. Ada pula yang tidak memiliki penghasilan dan harus mengandalkan bantuan orang lain untuk melewati hari. Mungkin kita tidak selalu mampu menyelesaikan persoalan ekonomi mereka. Namun, kita bisa memastikan bahwa ketika seseorang tidak memiliki uang untuk makan, ia tidak harus menghadapi rasa lapar sekaligus rasa malu sendirian.
Ukuran kemanusiaan sebuah kota bukan hanya terlihat dari gedung-gedung yang menjulang, pusat perbelanjaan yang ramai, atau pertumbuhan ekonomi yang dibanggakan. Ia juga terlihat dari bagaimana kota itu memperlakukan orang-orang yang paling rentan di dalamnya.
Terkadang, ukuran tersebut hadir dalam bentuk yang sangat sederhana: sepiring nasi yang diberikan kepada seseorang yang sedang lapar, tanpa menghakimi keadaannya, tanpa mempermalukan dirinya, dan tanpa membuatnya merasa kehilangan martabat.
Di tengah kecemasan tentang uang dan masa depan, kepedulian semacam itu mengingatkan saya bahwa selama masih ada orang yang bersedia berbagi, harapan belum sepenuhnya habis. ***
Tentang Penulis
*) I Ketut Angga Wijaya adalah jurnalis dan penulis yang tinggal di Denpasar, Bali. Ia menulis esai, puisi, dan laporan jurnalistik tentang kebudayaan, kehidupan sosial, serta persoalan sehari-hari masyarakat Bali.


