Siapa Bilang Laki-Laki Tidak Bercerita?

Ilustrasi warung kopi. (Foto: Brian Fathurohman/Unsplash)
Ilustrasi warung kopi. (Foto: Brian Fathurohman/Unsplash)

Laki-laki diharapkan mandiri, rasional, dan mampu mengendalikan emosi. Menangis atau mengakui kesedihan berisiko dianggap sebagai tanda kelemahan

Oleh: Angga Wijaya*

 BOLEH kok, bercerita. Siapa bilang laki-laki tidak bercerita? Dulu, sebelum internet dan media sosial menguasai kehidupan manusia, kami biasa bertemu di kedai, warung, atau pos kamling. Kami duduk bersama teman-teman, mengobrol tentang segala hal, termasuk urusan pribadi. Kadang-kadang, obrolan berlangsung sampai larut malam.

Ada yang bercerita tentang pekerjaan, keluarga, hubungan asmara, atau masalah yang sedang dihadapi. Ada pula yang lebih banyak mendengarkan. Setelah pertemuan itu, hati terasa lebih lega.

Kami tidak selalu menyebut pertemuan semacam itu sebagai upaya menjaga kesehatan mental. Istilah support system juga belum akrab di telinga. Kami hanya merasa perlu bertemu, berbagi cerita, tertawa, dan sesekali mengeluh tentang kehidupan. Namun, jika dipikir-pikir sekarang, bukankah di sanalah dukungan emosional berlangsung?

Di Bali, kebiasaan berkumpul dan mengobrol bukan sesuatu yang asing. Kedai kopi, warung, bale bengong, hingga pos kamling menjadi ruang perjumpaan warga. Di sejumlah tempat, laki-laki bertemu setelah bekerja, menyeruput kopi, membicarakan berita terbaru, atau sekadar bertukar kabar.

Percakapan dapat berpindah dari politik ke sepak bola, dari persoalan adat ke urusan rumah tangga. Tidak selalu ada agenda. Kadang-kadang, kehadiran teman saja sudah cukup.

Kebiasaan serupa dapat ditemukan di berbagai daerah di Indonesia, meskipun bentuk dan istilahnya berbeda-beda. Ada budaya cangkrukan di Jawa, tradisi berkumpul di lapau dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, serta kebiasaan nongkrong di warung kopi di berbagai kota.

Ruang-ruang tersebut tidak sekadar menjadi tempat membeli makanan atau minuman. Di sana, hubungan sosial dipelihara, kabar dipertukarkan, dan pengalaman hidup dibicarakan.

Tentu, kita tidak bisa menganggap semua ruang pertemuan itu selalu terbuka bagi persoalan pribadi. Obrolan di warung juga bisa didominasi gosip, candaan, perdebatan, bahkan konflik. Namun, kebiasaan berkumpul menunjukkan bahwa kehidupan sosial telah lama menyediakan kesempatan bagi manusia untuk saling terhubung, jauh sebelum istilah kesehatan mental populer seperti sekarang.

Lantas, mengapa belakangan muncul ungkapan bahwa laki-laki tidak bercerita?

Kesedihan yang Disembunyikan

Dalam artikel yang diterbitkan The Conversation pada 29 September 2026, Moh. Faiz Maulana dari Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia membahas penelitian tentang pengalaman patah hati tujuh laki-laki muda Indonesia berusia 19-30 tahun.

Penelitian tersebut menemukan bahwa laki-laki bukan tidak memiliki kesedihan atau keinginan untuk bercerita. Mereka justru mengatur kapan, kepada siapa, dan dengan cara apa kesedihan dapat diperlihatkan.

Sebagian memilih diam, menyibukkan diri, atau menghindari pembicaraan mengenai kehidupan pribadi. Mereka tetap bekerja dan menjalani aktivitas sehari-hari sambil berusaha terlihat baik-baik saja.

Salah satu persoalan yang dibahas adalah maskulinitas toksik atau toxic masculinity. Istilah ini merujuk pada norma maskulinitas yang merugikan ketika kekuatan dan ketangguhan diterjemahkan sebagai larangan untuk menunjukkan kerentanan.

Laki-laki diharapkan mandiri, rasional, dan mampu mengendalikan emosi. Menangis atau mengakui kesedihan berisiko dianggap sebagai tanda kelemahan.

Dalam perspektif sosiologi, keadaan ini berkaitan dengan cara masyarakat membentuk harapan mengenai perilaku laki-laki dan perempuan. Maskulinitas bukan semata-mata sifat yang melekat sejak lahir, melainkan juga dibentuk melalui proses sosialisasi, hubungan sosial, dan kebudayaan.

Sejak kecil, sebagian anak laki-laki mendengar nasihat agar tidak menangis. Ketika terjatuh, mereka diminta berdiri sendiri. Ketika sedih, mereka diminta bersabar atau menguatkan diri.

Nasihat tersebut mungkin bermaksud menumbuhkan keberanian. Namun, jika terus-menerus disertai anggapan bahwa menangis tidak pantas bagi laki-laki, anak dapat tumbuh dengan keyakinan bahwa perasaannya harus disembunyikan.

Sosiolog Arlie Russell Hochschild, melalui kajiannya tentang feeling rules atau aturan perasaan, menjelaskan bagaimana kehidupan sosial membentuk harapan mengenai emosi yang semestinya dirasakan dan ditampilkan seseorang dalam situasi tertentu.

Kita bukan hanya mengalami emosi, tetapi juga belajar menilai apakah emosi itu pantas diperlihatkan.

Dalam kehidupan laki-laki, aturan tersebut dapat bekerja secara halus. Tidak selalu ada orang yang melarang mereka menangis. Terkadang, larangan itu telah tertanam dalam pikiran sendiri. Bahkan ketika tidak ada orang lain yang menghakimi, mereka telanjur merasa malu untuk mengakui kesedihan.

Karena itu, ungkapan laki-laki tidak bercerita perlu dipertanyakan. Jangan-jangan, masalahnya bukan mereka tidak ingin bercerita, melainkan mereka tidak merasa memiliki ruang yang aman untuk melakukannya.

Bercerita Tidak Harus Selalu Serius

Hal menarik dari penelitian yang dibahas The Conversation adalah temuan bahwa laki-laki tetap berbagi kesedihan dengan teman-temannya. Hanya, bentuknya tidak selalu berupa percakapan serius mengenai perasaan.

Mereka nongkrong hingga larut malam, bercanda, merokok, mendengarkan lagu sedih, bernyanyi bersama, atau duduk sambil membicarakan hal-hal lain. Humor dapat menjadi cara untuk membagikan pengalaman menyakitkan tanpa harus secara langsung mengakui kerentanan. Musik pun menyediakan bahasa bagi perasaan yang sulit disampaikan dengan kata-kata sendiri.

Bagi saya, temuan tersebut terasa dekat dengan pengalaman sehari-hari. Tidak semua orang datang kepada teman dan berkata, “Aku sedang sedih. Aku butuh seseorang untuk mendengarkan ceritaku.”

Ada yang memulai percakapan dengan lelucon. Ada yang mengajak minum kopi. Ada yang tiba-tiba mengirimkan lagu. Ada pula yang menelepon tanpa alasan yang jelas, lalu berbicara tentang apa saja.

Di balik percakapan yang tampaknya remeh, bisa jadi ada kebutuhan untuk didengarkan. Seseorang mungkin tidak langsung menceritakan persoalannya, tetapi merasa lebih tenang karena mengetahui ada teman yang bersedia meluangkan waktu.

Dalam kajian tentang caring masculinities, perhatian dan kepedulian tidak harus bertentangan dengan identitas laki-laki. Hubungan antarlaki-laki juga dapat menjadi ruang untuk merawat, mendukung, dan mendampingi satu sama lain.

Kepedulian dapat muncul melalui percakapan terbuka, tetapi juga melalui tindakan sederhana: menemani teman yang sedang kesulitan, mengantarnya pulang, atau tetap berada di sisinya ketika ia tidak tahu harus berkata apa.

Kita tidak perlu memaksa setiap laki-laki mengungkapkan perasaannya dengan cara yang sama. Ada orang yang mudah bercerita, ada yang memerlukan waktu, dan ada yang lebih nyaman mengungkapkan perasaan melalui tindakan.

Yang penting, jangan sampai perbedaan cara tersebut menjadi alasan untuk menutup kesempatan seseorang mencari pertolongan.

Bercerita bukan perlombaan tentang siapa yang paling terbuka. Bercerita adalah bagian dari hubungan antarmanusia yang memungkinkan pengalaman hidup dibagikan, dipahami, dan terkadang ditanggung bersama.

Ketika Dunia Semakin Terhubung, Kita Makin Kesepian?

Ada ironi dalam kehidupan hari ini. Kita memiliki banyak cara untuk berkomunikasi, tetapi belum tentu mempunyai cukup ruang untuk benar-benar berbicara. Ponsel selalu berada dalam jangkauan. Pesan dapat dikirim dalam hitungan detik. Foto kegiatan dapat dibagikan kepada ratusan orang.

Kita bisa mengetahui kabar teman tanpa harus bertemu dengannya. Namun, apakah semua itu membuat kita semakin dekat?

Saya tidak sedang mengatakan bahwa internet dan media sosial merupakan penyebab tunggal kesepian atau stres. Teknologi juga membantu orang mempertahankan hubungan jarak jauh, menemukan komunitas, dan memperoleh dukungan ketika lingkungan terdekat tidak menyediakan ruang yang aman.

Bagi sebagian orang, percakapan melalui layar justru menjadi langkah awal untuk berani mengungkapkan persoalan pribadi.

Meski demikian, komunikasi digital tidak selalu menggantikan pengalaman duduk bersama, menatap wajah lawan bicara, atau mendengarkan cerita tanpa terganggu notifikasi. Kita dapat mengirim puluhan pesan dalam sehari tanpa pernah sungguh-sungguh menanyakan keadaan seseorang.

Kita juga bisa tertawa melihat unggahan teman, tetapi tidak mengetahui bahwa ia sedang menghadapi persoalan berat.

Mungkin yang perlu kita renungkan bukan semata-mata seberapa sering berkomunikasi, melainkan seberapa jauh hubungan itu memungkinkan kita hadir bagi satu sama lain.

Di kedai atau warung, percakapan terkadang berlangsung tanpa susunan kalimat yang rapi. Seseorang bercerita sambil menyeruput kopi. Temannya menimpali dengan pengalaman serupa. Yang lain melontarkan lelucon.

Percakapan melompat ke berbagai arah, tetapi perlahan-lahan persoalan yang semula terasa berat menemukan tempat untuk diungkapkan.

Tentu, mengobrol bukan obat bagi semua persoalan. Ada kesedihan yang membutuhkan bantuan profesional, ada masalah yang tidak cukup diselesaikan dengan nasihat teman, dan ada pengalaman yang memerlukan pendampingan lebih serius.

Namun, mempunyai seseorang yang dapat dipercaya untuk berbicara bisa menjadi bagian penting dari dukungan sosial.

Bersyukurlah Jika Masih Punya Teman Ngobrol

Saya teringat masa ketika bertemu teman tidak harus direncanakan jauh-jauh hari. Kami bisa berjumpa di warung, duduk berjam-jam, membicarakan apa saja, lalu pulang dengan perasaan yang sedikit berbeda.

Masalah mungkin belum selesai, tetapi setidaknya ada orang lain yang mengetahui bahwa masalah itu sedang kami hadapi. Pengalaman tersebut membuat saya berpikir bahwa kebiasaan nongkrong bukan sekadar kegiatan menghabiskan waktu. Dalam situasi tertentu, kegiatan itu menjadi cara manusia menjaga hubungan, membangun kepercayaan, dan memperoleh dukungan emosional.

Di sana, kita belajar bahwa kehidupan tidak selalu harus dihadapi sendirian. Sayangnya, ruang pertemuan semacam itu tidak selalu tersedia bagi semua orang. Kesibukan kerja, perubahan lingkungan, jarak tempat tinggal, dan tuntutan ekonomi dapat membuat hubungan pertemanan semakin jarang dirawat.

Ada pula orang yang dikelilingi banyak kenalan, tetapi tidak memiliki satu pun orang yang dirasa aman untuk diajak bicara tentang persoalan pribadi.

Karena itu, jika hari ini kita masih mempunyai teman yang bersedia mendengarkan cerita, bersyukurlah. Jika ada seseorang yang mengajak kita minum kopi hanya untuk bertukar kabar, jangan buru-buru menganggapnya sebagai kegiatan yang tidak penting.

Bisa jadi, pertemuan itu berarti lebih banyak daripada yang kita sadari. Kita juga dapat mulai mengubah cara mendengarkan. Ketika seorang teman mengungkapkan kesedihan, tidak perlu segera menyuruhnya melupakan masalah, membandingkan penderitaannya dengan orang lain, atau menasihatinya agar lebih kuat.

Kadang-kadang, ia hanya membutuhkan kesempatan untuk menyelesaikan ceritanya tanpa dihakimi.

Kepada sesama laki-laki, kita perlu belajar bahwa mendengarkan bukan tanda kelemahan. Mengakui bahwa hidup sedang berat tidak mengurangi harga diri. Menangis tidak serta-merta membuat seseorang kehilangan ketangguhan.

Justru, keberanian untuk mengakui keadaan diri dapat menjadi langkah untuk memahami apa yang sedang kita alami dan mencari dukungan yang diperlukan.

Kita tidak perlu menunggu patah hati untuk kembali menghubungi teman lama. Tidak perlu pula menunggu hidup berantakan untuk duduk bersama dan mengobrol.

Sesekali, matikan layar ponsel. Datangi warung atau kedai yang biasa kita kunjungi. Tanyakan kabar teman, dengarkan ceritanya, dan ceritakan pula apa yang sedang kita rasakan.

Siapa bilang laki-laki tidak bercerita? Kami bercerita sejak lama. Di kedai, di warung, di pos kamling, di teras rumah, atau di tempat-tempat sederhana yang memungkinkan kami duduk bersama. Kami bercerita melalui keluhan, lelucon, lagu, perdebatan, bahkan diam yang tidak canggung.

Kami hanya tidak selalu menyebutnya sebagai cerita tentang perasaan. Kini, ketika kehidupan semakin cepat dan orang-orang semakin sibuk dengan dunianya sendiri, barangkali kita perlu merawat kembali kebiasaan itu. Bukan untuk menolak kemajuan teknologi, melainkan untuk memastikan bahwa di tengah segala kemudahan komunikasi, kita tidak kehilangan kemampuan untuk hadir bagi orang lain.

Sebab, manusia tidak hanya membutuhkan tempat untuk tinggal dan bekerja. Kita juga membutuhkan ruang untuk menjadi diri sendiri, termasuk ketika sedang rapuh.

Boleh kok, bercerita. Tidak ada yang salah dengan mengakui bahwa kita sedang sedih, kecewa, takut, atau lelah. Kita tidak harus selalu terlihat baik-baik saja hanya untuk memenuhi harapan orang lain tentang bagaimana seharusnya seorang laki-laki menjalani hidup.

Dan jika kamu masih mempunyai teman ngobrol, seseorang yang bersedia mendengarkan tanpa buru-buru menghakimi, bersyukurlah. Rawatlah pertemanan itu.

Sebab, dalam dunia yang semakin riuh, didengarkan dengan sungguh-sungguh adalah salah satu bentuk kedekatan yang tidak boleh kita anggap remeh. ***

 

Tentang Penulis

*) I Ketut Angga Wijaya, penyair, jurnalis, dan penulis 21 buku. Buku terbarunya, memoar Laki-Laki yang Menata Lukanya di Rak Buku, diterbitkan oleh penerbit Brilliant Books, Yogyakarta (2026).

Apa Komentar Anda?