Melalui akun Facebook Mas Sabrang, Sabrang Mowo Damar Panuluh mengulas fenomena “sukses sindrom”, yakni ketika keberhasilan besar justru berubah menjadi beban yang menghambat langkah berikutnya.
Oleh: Angga Wijaya*
MENGAPA banyak penyanyi hanya memiliki satu lagu yang meledak lalu menghilang? Mengapa ada penulis yang menghasilkan satu buku bestseller, tetapi setelah itu seolah kehilangan tenaga untuk berkarya?
Pertanyaan itu menjadi titik berangkat pemikiran Sabrang Mowo Damar Panuluh, vokalis Letto yang lebih dikenal publik sebagai Noe Letto. Dalam sebuah narasi yang ia sampaikan melalui akun Facebook Mas Sabrang, ia mengajak pengikutnya melihat fenomena tersebut dari sudut pandang yang tidak biasa, seperti psikologi, sejarah, budaya, hingga cara manusia memaknai kesuksesan.
Menurut Sabrang, kasus-kasus yang selama ini dikenal sebagai one hit wonder tidak selalu terjadi karena seseorang kehabisan ide atau kehilangan kemampuan. Ada kemungkinan faktor lain yang bekerja diam-diam di baliknya, yakni apa yang ia sebut sebagai “sukses sindrom”.
Fenomena ini muncul ketika keberhasilan besar justru menjadi beban yang menghambat langkah berikutnya.
Obok-obok Tempat Dugem dan Vila di Canggu, BNN Bali Tekan Peredaran Narkoba Jelang Tahun Baru
Ketika Kesuksesan Menjadi Tekanan
Untuk menjelaskan gagasannya, Sabrang menyinggung nama Harper Lee, penulis novel klasik To Kill a Mockingbird. Buku yang terbit pada 1960 itu menjadi salah satu karya sastra paling berpengaruh di dunia. Novel tersebut meraih Pulitzer Prize dan terjual puluhan juta eksemplar.
Namun setelah keberhasilan besar itu, Harper Lee hampir tidak menghasilkan karya lain yang setara selama puluhan tahun. Situasi semacam ini memunculkan pertanyaan yang menarik: mengapa seseorang yang telah mencapai puncak justru tampak enggan melanjutkan perjalanan?
Menurut Sabrang, salah satu penyebabnya mungkin terletak pada perubahan standar yang terjadi setelah seseorang sukses.
Ketika karya pertama mendapat sambutan luar biasa, karya berikutnya hampir pasti akan dibandingkan dengan pencapaian tersebut. Akibatnya, hasil yang sebenarnya masih baik bisa terasa mengecewakan karena tidak mampu melampaui kesuksesan sebelumnya.
Seseorang yang pernah menghasilkan karya bernilai “10” akan merasa gagal ketika karya berikutnya hanya bernilai “5”, meskipun angka lima itu masih jauh lebih tinggi dibandingkan capaian kebanyakan orang.
Dalam situasi seperti itu, ukuran keberhasilan tidak lagi ditentukan oleh kualitas karya, melainkan oleh bayang-bayang keberhasilan masa lalu.
Takut Kehilangan Reputasi
Sabrang juga melihat adanya peran ego dalam fenomena ini.
Ketika seseorang telah dikenal sebagai sosok sukses, muncul keinginan untuk mempertahankan citra tersebut. Ia tidak hanya ingin berhasil, tetapi juga ingin terus dianggap berhasil oleh orang lain.
Masalahnya, setiap karya baru mengandung risiko. Jika hasilnya tidak sesukses karya sebelumnya, publik mungkin menganggapnya menurun. Karena itulah sebagian orang lebih memilih diam daripada menghadapi kemungkinan kehilangan reputasi yang telah dibangun bertahun-tahun.
Dalam psikologi, kecenderungan ini berkaitan dengan konsep loss aversion, yakni kecenderungan manusia untuk lebih takut kehilangan daripada berani mengejar peluang baru.
Rasa sakit karena kehilangan status sering kali terasa lebih besar dibandingkan kegembiraan karena memperoleh keberhasilan berikutnya.
Menyerah Sebelum Bertanding
Menariknya, Sabrang menegaskan bahwa pola semacam ini tidak hanya dialami oleh mereka yang sudah sukses.
Banyak orang yang bahkan belum pernah mencapai keberhasilan besar ternyata memiliki kecenderungan serupa.
Mereka takut memulai usaha karena khawatir bangkrut. Takut menulis karena khawatir ditolak. Takut berkarya karena khawatir dianggap gagal.
Akhirnya mereka memilih tidak melakukan apa-apa. Menurut Sabrang, inilah bentuk sabotase diri yang sering terjadi tanpa disadari. Seseorang menghentikan langkahnya sendiri sebelum benar-benar menghadapi kenyataan. Kegagalan yang masih berupa kemungkinan sudah cukup untuk membuatnya mundur.
Siapa yang Membuat Kita Sukses?
Dari sini, Sabrang mengajak pendengarnya masuk ke pertanyaan yang lebih mendasar.
Ketika seseorang sukses, kepada siapa keberhasilan itu diberikan Pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi menurutnya memiliki dampak psikologis yang besar.
Jika seseorang meyakini bahwa seluruh kesuksesannya murni berasal dari dirinya sendiri, maka seluruh tanggung jawab untuk mempertahankan keberhasilan itu juga berada di pundaknya.
Konsekuensinya tidak ringan. Ketika berhasil, ia merasa dirinya luar biasa. Namun ketika gagal, ia juga merasa dirinya sepenuhnya bersalah. Tidak ada ruang untuk berbagi beban.
Pelajaran dari Tradisi Lama
Sabrang kemudian menyinggung cara pandang masyarakat kuno terhadap kreativitas dan keberhasilan.
Dalam tradisi Yunani dikenal konsep daimon, sementara dalam tradisi Romawi terdapat konsep genius. Keduanya merujuk pada gagasan tentang adanya kekuatan yang mendampingi manusia dalam berkarya.
Pada masa itu, keberhasilan tidak selalu dianggap sebagai hasil kerja individu semata. Ada unsur lain yang dipercaya turut membantu proses kreatif seseorang.
Menurut Sabrang, cara pandang semacam itu menarik untuk diperhatikan karena menghasilkan dampak psikologis yang berbeda.
Ketika seseorang menganggap dirinya bukan satu-satunya sumber keberhasilan, ia tidak merasa harus menanggung seluruh beban dunia di pundaknya.
Pandangan serupa juga dapat ditemukan dalam banyak tradisi keagamaan. Ketika seseorang mengucapkan bahwa keberhasilannya merupakan pertolongan Tuhan, ia sesungguhnya sedang mengakui adanya faktor di luar dirinya yang turut berperan.
Bagi Sabrang, persoalan utamanya bukan soal benar atau salahnya keyakinan tersebut, melainkan bagaimana cara manusia mengatribusikan keberhasilannya. Cara pandang itu ternyata memengaruhi keberanian seseorang untuk terus melangkah.
Dunia yang Kita Lihat Adalah Persepsi
Dari pembahasan tentang kesuksesan, Sabrang bergerak menuju tema yang lebih luas. Menurutnya, manusia tidak benar-benar melihat dunia sebagaimana adanya. Yang dilihat manusia adalah persepsinya tentang dunia.
Fakta yang sama bisa menghasilkan makna yang berbeda pada orang yang berbeda. Seorang ibu melihat anaknya sebagai sosok paling tampan dan paling istimewa di dunia. Orang lain mungkin melihat anak yang sama sebagai orang biasa.
Objeknya tidak berubah. Yang berubah adalah kerangka berpikir yang digunakan untuk memaknainya.
Karena itu, Sabrang menilai bahwa sejarah, budaya, agama, dan berbagai sistem nilai sesungguhnya tidak hanya berfungsi menjelaskan dunia. Semua itu juga membantu manusia membangun cara pandang terhadap kehidupan.
Dunia yang dijalani manusia, pada akhirnya, bukan hanya dunia fisik, melainkan dunia yang telah diberi makna oleh pikirannya sendiri.
Menggugat Makna Sukses
Di bagian akhir pemaparannya, Sabrang mengajak publik mempertanyakan kembali definisi sukses yang selama ini dianggap umum.
Menurutnya, banyak bentuk kesuksesan yang bergantung pada pengakuan orang lain. Menjadi terkenal, memperoleh penghargaan, meraih jabatan tinggi, atau mengumpulkan kekayaan membutuhkan afirmasi dari lingkungan. Kesuksesan semacam itu baru dianggap ada ketika orang lain mengakuinya.
Namun ada bentuk kesuksesan lain yang sering luput dari perhatian, yakni menjadi sehat, menjaga kewarasan, tidak menyakiti orang lain, mampu mengendalikan diri, dan terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.
Kesuksesan-kesuksesan semacam itu tidak membutuhkan tepuk tangan, penghargaan, ataupun pengakuan publik. Ia sepenuhnya berada dalam kendali individu.
Di situlah, menurut Sabrang, letak perbedaan penting yang sering dilupakan banyak orang. Ketika seseorang hanya mengejar kesuksesan yang bergantung pada penilaian orang lain, ia akan terus hidup dalam kecemasan untuk mempertahankannya.
Sebaliknya, ketika ia mampu menghargai keberhasilan-keberhasilan yang tumbuh dari dalam dirinya sendiri, tekanan itu menjadi jauh berkurang.
Melalui uraian tentang “sukses sindrom” ini, Sabrang tidak sekadar berbicara mengenai mengapa seseorang berhenti berkarya setelah sukses. Ia juga mengajak kita melihat kembali hubungan antara keberhasilan, ego, ketakutan, dan cara manusia memberi makna pada hidupnya. ***
*) Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.


