Hal-hal kecil sering menyimpan cerita tentang cara manusia bertahan, membuat pilihan, dan menghadapi keadaan yang tidak selalu berpihak kepadanya.
Penulis: Angga Wijaya
SAYA tidak pernah benar-benar merencanakan menulis Taluh Apit Batu. Buku ini tumbuh dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan saya; pekerjaan, biaya kos, harga makanan, percakapan di warung, perubahan Bali, sampai kegelisahan melihat manusia yang semakin sibuk tetapi belum tentu semakin bahagia. Saya menulis dari sesuatu yang saya lihat, dengar, rasakan, atau pikirkan, lalu mencoba memahami persoalan di baliknya.
Saya tidak selalu membutuhkan peristiwa besar untuk menemukan tema. Sebuah percakapan sederhana, istilah Bali, harga nasi, suasana jalan, atau unggahan di media sosial kadang cukup menjadi pintu masuk menuju persoalan yang lebih luas. Hal-hal kecil sering menyimpan cerita tentang cara manusia bertahan, membuat pilihan, dan menghadapi keadaan yang tidak selalu berpihak kepadanya.
Esai-esai dalam buku ini sebelumnya dimuat di Kanalbali.iddan Tatkala.co. Saya berterima kasih kepada Rofiqi Hasan, Made Adnyana Ole, serta para redaktur yang telah memberi ruang bagi tulisan-tulisan saya. Kini, 32 esai itu sedang menjalani perjalanan baru melalui penerbitan buku oleh Penerbit Tatkala. Ketika membaca ulang tulisan-tulisan tersebut, saya menemukan benang merah yang menghubungkannya. Sebagian besar berbicara tentang manusia yang berhadapan dengan tekanan hidup, sementara ruang untuk memilih sering kali terbatas.
Telur di Antara Dua Batu
Dalam bahasa Bali, taluh apit batu menggambarkan telur yang terjepit di antara dua batu. Telur adalah sesuatu yang rapuh, sedangkan batu keras dan kokoh. Ketika berada di antara keduanya, telur memiliki ruang gerak yang sempit. Sedikit saja salah posisi, ia bisa pecah.
Ungkapan ini menggambarkan keadaan ketika tekanan datang dari berbagai arah. Saya merasa dekat dengannya, bukan karena menganggap diri sebagai orang yang paling susah, melainkan karena memahami bagaimana rasanya menjalani kehidupan dengan penghasilan terbatas, sementara kebutuhan terus berjalan.
Ada masa ketika mendapatkan pekerjaan saja sudah cukup membuat saya bersyukur. Bukan karena pekerjaan itu menjanjikan kehidupan ideal, melainkan karena dari sanalah saya bisa membayar kebutuhan sehari-hari; Tempat tinggal, membeli buku, dan terus menulis. Banyak orang mungkin mengenal keadaan serupa. Memiliki pekerjaan, tetapi belum merasa aman. Menerima penghasilan, tetapi tetap harus menghitung pengeluaran dengan cermat.
Bagi saya, taluh apit batu bukan sekadar gambaran kemiskinan. Ia juga berbicara tentang kesempatan, harga diri, dan pilihan hidup. Seseorang mungkin memiliki kemampuan, keinginan, bahkan cita-cita, tetapi keadaan membuatnya tidak leluasa mewujudkan semua itu.
Saya sudah cukup lama tinggal di Denpasar. Kota ini menjadi tempat saya bekerja, menulis, bertemu banyak orang, dan menyaksikan perubahan. Dari kota ini saya belajar bahwa kemajuan tidak otomatis membuat kehidupan semua orang menjadi lebih mudah. Denpasar tumbuh sebagai pusat ekonomi, tetapi tidak semua orang memperoleh bagian yang sepadan dari pertumbuhan tersebut.
Ada pekerja yang setiap hari datang ke pusat kota, lalu pulang ke kamar kos sederhana. Ada orang yang bekerja dalam industri dengan perputaran uang besar, tetapi penghasilannya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar. Kota dapat tampak semakin maju, sementara kehidupan sebagian penghuninya tetap dipenuhi perhitungan.
Dalam esai Taluh Apit Batu, saya menghadirkan Raka, seorang jurnalis lepas yang berusaha mempertahankan hidup melalui berbagai pekerjaan. Ia menulis, mencari pekerjaan tambahan, bahkan mengembangkan toko buku daring. Ia memiliki kemampuan dan kemauan untuk mencari kemungkinan, tetapi ruang hidupnya tetap sempit.
Raka bukan semata-mata tokoh yang berdiri sendiri. Ia merupakan gambaran dari orang-orang yang saya temui, sekaligus pengalaman yang membuat saya memahami bahwa bekerja keras tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan. Banyak orang tidak sedang mengejar kemewahan. Mereka hanya ingin hidup sedikit lebih longgar, tanpa harus terus-menerus mencemaskan kebutuhan berikutnya.
Menulis Bali yang Saya Kenal
Saya menulis tentang Bali, tetapi tidak ingin menjadikannya sekadar kartu pos. Bali bukan hanya pura, pantai, sawah, tari, upacara, dan wisatawan yang menikmati keindahan pulau ini. Bali juga dihuni manusia yang bekerja, membayar kos, berutang, menjual tanah, kehilangan sawah, dan kadang merasa asing di kampung sendiri.
Ketika menulis tentang vila, misalnya, saya tidak hanya melihat bangunan sebagai produk investasi. Saya melihat perubahan ruang hidup yang menyertainya. Ada sawah atau kebun yang berubah menjadi bangunan, ada warga yang menjual tanah karena kebutuhan ekonomi. Ada pula perubahan hubungan antara pemilik properti dan masyarakat di sekitarnya.
Saya tidak sedang mengatakan bahwa semua pembangunan itu buruk. Saya lebih tertarik mempertanyakan siapa yang memperoleh keuntungan dan siapa yang harus menanggung akibatnya. Ketika Bali semakin maju, siapa yang mendapatkan ruang lebih luas, dan siapa yang perlahan kehilangan ruang untuk hidup?
Pertanyaan semacam itu membuat saya melihat perubahan Bali sebagai persoalan manusia. Di satu sisi, kita berbicara tentang tradisi, spiritualitas, dan kebersamaan. Di sisi lain, kehidupan sehari-hari semakin bersentuhan dengan pasar, pariwisata, investasi, teknologi, dan perubahan gaya hidup. Di antara semuanya, manusia terus membuat pilihan, meskipun tidak semua orang memiliki keleluasaan yang sama.
Saya juga senang menemukan kembali kata-kata Bali yang hidup di sekitar kita, seperti nglaleng bangke, tenget, kuangan tutur, lebihan tutur, menyama braya, amongken liangne, dan amonto sebetne. Bagi saya, kata-kata itu bukan sekadar kekayaan bahasa. Di dalamnya tersimpan cara pandang yang dapat membantu kita memahami hubungan antarmanusia dan kehidupan.
Ketika menulis tentang tenget, misalnya, saya mencoba melihatnya melampaui pengertian tempat yang dianggap angker atau keramat. Kota modern pun memiliki sesuatu yang membuat manusia merasa tidak nyaman, seperti persaingan, keterasingan, iri hati, dan hubungan sosial yang semakin transaksional. Orang bisa tinggal berdekatan, tetapi tidak benar-benar saling mengenal.
Saya tertarik pada kemungkinan menggunakan istilah lokal untuk membaca persoalan masa kini. Kata-kata lama tidak harus berhenti sebagai warisan masa lalu. Ia dapat ditafsirkan kembali untuk memahami perubahan yang sedang berlangsung. Di sanalah kebudayaan tetap hidup, bukan sebagai benda yang disimpan, melainkan sebagai pengetahuan yang terus digunakan.
Namun, menulis tentang kebudayaan juga mengandung risiko menyederhanakan persoalan. Kita mudah mengatakan bahwa generasi dahulu lebih baik atau generasi sekarang semakin buruk. Kita juga bisa tergoda menyalahkan modernitas atas segala perubahan yang tidak kita sukai. Saya tidak ingin terjebak dalam penilaian semacam itu.
Dalam esai tentang kuangan tutur dan lebihan tutur, misalnya, saya mencoba melihat bagaimana cara berbicara bekerja dalam keluarga. Terlalu sedikit maupun terlalu banyak bicara dapat menimbulkan persoalan. Yang penting bukan semata-mata mempertahankan kebiasaan lama, melainkan memahami bagaimana hubungan antarmanusia dapat dijaga.
Bagi saya, tradisi bukan dogma yang tidak boleh dipertanyakan. Tradisi adalah percakapan yang perlu terus berlangsung. Zaman berubah, sehingga cara kita memahami warisan kebudayaan pun perlu berkembang. Saya lahir dan hidup dalam kebudayaan Bali, tetapi itu tidak berarti saya mengetahui seluruh lapisannya. Justru karena itulah saya menulis, untuk bertanya, mendengar, mengamati, dan sesekali mengoreksi pandangan sendiri.
Menulis untuk Memahami Diri Sendiri
Ada alasan lain mengapa saya terus menulis. Saya ingin memahami apa yang sebenarnya sedang saya pikirkan dan rasakan. Menulis bukan hanya pekerjaan, melainkan juga cara berpikir. Kadang-kadang saya baru memahami perasaan sendiri setelah sebuah tulisan selesai. Persoalan yang semula tampak sederhana dapat membuka pertanyaan lebih besar ketika dituangkan ke dalam kata-kata.
Karena itu, Taluh Apit Batu juga menjadi bagian dari perjalanan pribadi saya. Ketika menulis tentang pekerja yang hidup pas-pasan, saya mengingat pengalaman sendiri. Ketika menulis tentang kota, saya melihat kembali perjalanan sebagai seseorang yang berasal dari kampung dan kemudian menjalani kehidupan di Denpasar. Ketika menulis tentang kebudayaan, saya bertanya kembali tentang identitas saya sebagai orang Bali di tengah perubahan zaman.
Saya tidak bisa sepenuhnya memisahkan tulisan dari kehidupan pribadi. Pengalaman, ingatan, kegelisahan, dan pertanyaan yang saya bawa akan selalu menemukan jalan masuk ke dalam tulisan. Menulis menjadi semacam cermin yang tidak selalu memperlihatkan apa yang ingin saya lihat, tetapi juga bagian diri yang kadang enggan saya akui.
Saya semakin percaya bahwa kehidupan manusia tidak semestinya hanya diukur melalui pencapaian besar. Kita terlalu sering menggunakan uang, jabatan, rumah, ketenaran, atau jumlah buku yang diterbitkan sebagai ukuran keberhasilan. Padahal, ada orang yang sedang berusaha menyelesaikan pendidikan, mencari pekerjaan, membayar utang, merawat keluarga, atau sekadar mempertahankan arah hidupnya.
Hal-hal itu mungkin tidak terlihat sebagai pencapaian besar, tetapi tetap memiliki arti. Tidak semua perjuangan menghasilkan sesuatu yang dapat dipamerkan kepada orang lain. Ada keberanian dalam bertahan, ada kerja keras yang tidak terlihat, dan ada hari-hari ketika keberhasilan berarti mampu menjalani hidup tanpa menyerah pada keadaan.
Saya tidak menulis buku ini untuk meromantisasi kesusahan. Kemiskinan bukan sesuatu yang harus dipuji. Upah rendah bukan keadaan yang perlu diterima begitu saja. Ketidakadilan tidak berubah menjadi baik hanya karena seseorang belajar bersyukur.
Namun, di tengah keadaan yang tidak ideal, manusia tetap berusaha menemukan kemungkinan. Ada yang mencari pekerjaan tambahan, membangun komunitas, membaca, menulis, membantu orang lain, atau sekadar bertahan melewati hari yang sulit. Bagi saya, kemampuan menciptakan kemungkinan di tengah keterbatasan merupakan bagian penting dari kehidupan manusia.
Mengapa Saya Tetap Menulis
Mungkin saya terus menulis karena belum selesai dengan pertanyaan-pertanyaan tentang Bali, kota, pekerjaan, kebudayaan, dan manusia. Saya tidak merasa harus memiliki semua jawaban. Barangkali tugas seorang penulis bukan selalu memberikan kesimpulan, melainkan menjaga agar pertanyaan tetap hidup.
Saya menulis karena tinggal di Bali, menyaksikan perubahan yang berlangsung, mendengar percakapan orang-orang, dan merasakan sebagian tekanan kehidupan. Saya memulai dari sesuatu yang dekat, lalu mencoba melihat persoalan yang lebih luas di baliknya. Sebuah harga makanan, kamar kos, percakapan keluarga, sepetak tanah yang berubah menjadi bangunan, atau seseorang yang duduk sendirian di tengah keramaian dapat membawa kita pada pertanyaan tentang cara hidup.
Itulah yang saya coba lakukan melalui 32 esai dalam buku ini. Saya tidak bermaksud memberikan jawaban yang berlaku untuk semua orang. Saya hanya ingin mengajak pembaca berhenti sejenak, melihat kembali lingkungan sekitarnya, dan mempertanyakan hal-hal yang selama ini mungkin luput dari perhatian.
Buku ini menjadi catatan perjalanan melalui kota, pekerjaan, kebudayaan, keluarga, komunitas, media, dan perubahan sosial. Tidak semuanya merupakan peristiwa besar. Sebagian justru berangkat dari pengalaman sederhana, tetapi penting bagi orang yang mengalaminya.
Bali akan terus berubah. Kota akan terus tumbuh. Harga kebutuhan bergerak, pekerjaan berubah, dan manusia terus berhadapan dengan pilihan serta keterbatasan. Kita mungkin tidak mampu menghentikan semua perubahan itu. Namun, selama masih mau memperhatikan, mendengar, dan berbicara, kita belum kehilangan seluruh ruang untuk berpikir.
Tulisan memang tidak serta-merta menurunkan harga, menyediakan pekerjaan, menghentikan pembangunan, atau mengembalikan tanah yang telah hilang. Namun, tulisan dapat membuat sesuatu yang semula tidak terlihat menjadi lebih jelas. Ia dapat menyimpan suara yang hampir tenggelam dan mempertemukan pengalaman yang tampaknya terpisah. Dari sana, kita bisa melihat bahwa kesulitan seseorang tidak selalu semata-mata disebabkan oleh kegagalannya sendiri. Ada keadaan sosial yang turut membentuk ruang geraknya.
Pada akhirnya, mungkin itulah alasan saya memilih Taluh Apit Batu sebagai judul buku ini. Sebuah telur, dua batu, dan ruang sempit dengan tekanan dari berbagai arah. Gambaran itu terasa dekat dengan kehidupan banyak orang yang berusaha mempertahankan diri di tengah keadaan yang tidak selalu memberi banyak pilihan.
Saya tidak tahu apakah 32 esai ini mampu menjawab seluruh pertanyaan yang saya ajukan. Kemungkinan besar tidak. Saya hanya berharap buku ini dapat menemani pembaca melihat kehidupan dari jarak yang lebih dekat, lalu bertanya tentang manusia seperti apa yang ingin kita pertahankan di tengah perubahan yang begitu cepat.
Sebab, mungkin yang paling penting bukan bagaimana kita menjadi sekeras batu, melainkan bagaimana kita tetap memiliki kepekaan seperti telur. Rapuh dan mudah retak, tetapi menyimpan kehidupan di dalamnya. Dan mungkin, dari sanalah saya menulis. ***
Tentang Penulis
*) I Ketut Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis yang tinggal di Denpasar, Bali. Ia pernah menempuh pendidikan Antropologi Budaya di Fakultas Sastra Universitas Udayana. Menulis sejak 2001, ia telah menerbitkan 20 buku, terdiri atas kumpulan puisi, esai, dan karya nonfiksi. Tulisannya terbit di sejumlah media di Indonesia. Ia banyak menulis tentang Bali, kebudayaan, masyarakat, sastra, seni, dan pengalaman sehari-hari.


