Gombloh yang Terlupakan

Soedjarwoto Soemarsono alias Gombloh - IST
Soedjarwoto Soemarsono alias Gombloh - IST

Dari sekian banyak lagu ilustrasi yang muncul di media sosial dalam perayaan kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, ada satu nama yang agaknya mulai kita lupakan, yakni, Gombloh.

Oleh Angga Wijaya*

NAMA aslinya Soedjarwoto Soemarsono. Ia lahir di Jombang, Jawa Timur, tetapi perjalanan keseniannya sangat lekat dengan Surabaya. Dari kota inilah namanya tumbuh sebagai salah satu musisi penting yang pernah mewarnai musik Indonesia. Gombloh tidak hanya menyanyikan lagu-lagu cinta atau lagu dengan nada jenaka. Ia juga menulis lagu tentang rakyat, kehidupan sosial, kritik, dan tentu saja Indonesia.

Salah satu yang paling terkenal adalah Kebyar-Kebyar, lagu yang diciptakannya pada 1979. Lagu ini kemudian menjadi salah satu lagu yang sangat sering terdengar setiap kali bulan Agustus tiba. Ia berkali-kali dinyanyikan dalam perayaan kemerdekaan dan berbagai acara kebangsaan.

Namun, dalam hiruk-pikuk perayaan kemerdekaan di media sosial kemarin, saya merasa Gombloh tidak lagi mendapat tempat yang semestinya.

Bukan berarti Kebyar-Kebyar benar-benar hilang. Lagu itu masih ada, masih diputar dan dinyanyikan. Bahkan pernah dibawakan ulang oleh sejumlah musisi dari generasi yang berbeda. Cokelat, misalnya, pernah merekam ulang lagu tersebut pada 2006. Lagu ini juga pernah dibawakan oleh Godbless dan band Inggris Arkarna.

Tetapi persoalannya bukan sekadar apakah lagu itu masih terdengar atau tidak, persoalannya adalah, seberapa lama kita masih mengingatnya?

Media sosial mengubah cara kita mengingat sesuatu. Sebuah lagu bisa tiba-tiba menjadi sangat populer karena digunakan sebagai latar sebuah video. Ribuan orang menggunakannya. Kita mendengarnya berkali-kali dalam satu hari. Kemudian, beberapa hari atau beberapa minggu kemudian, lagu itu hilang dari beranda kita dan digantikan lagu lain.

Begitulah ingatan digital bekerja; cepat datang, cepat pergi. Saya membayangkan Gombloh berada di tengah mekanisme itu sebagai seorang seniman dari masa lalu yang sebenarnya belum selesai kita dengarkan. Kita mungkin mengenal Kebyar-Kebyar, tetapi belum tentu mengenal Gombloh. Kita mungkin hafal beberapa potongan lagunya, tetapi belum tentu memahami dunia yang hendak dibicarakannya.

Padahal Gombloh mempunyai cukup banyak lagu bertema nasionalisme. Ada Gaung Mojokerto-Surabaya, Dewa Ruci, Gugur Bunga, Indonesia Kami, Indonesiaku, Indonesiamu, dan Pesan Buat Negeriku. Tentu saja, Kebyar-Kebyar menjadi salah satu yang paling dikenal.

Gombloh juga tidak hanya berbicara tentang nasionalisme. Banyak karyanya bersinggungan dengan kehidupan sosial dan masyarakat. Di sinilah sosoknya menjadi menarik. Ia bukan sekadar pencipta satu lagu patriotik yang kemudian diputar setiap bulan Agustus. Ia adalah seniman yang menjadikan musik sebagai cara untuk membaca masyarakat dan zamannya.

Artinya, nasionalisme Gombloh sesungguhnya bukan sesuatu yang muncul secara kebetulan. Ia bagian dari perjalanan keseniannya. Yang membuat Kebyar-Kebyar terasa berbeda bagi saya adalah kesederhanaannya. Tidak perlu istilah yang rumit untuk mengatakan cinta kepada Indonesia. Dalam larik “Indonesia, merah darahku, putih tulangku”, misalnya, Indonesia tidak terasa sebagai sesuatu yang jauh dan abstrak. Ia terasa sebagai tubuh, darah, tulang, jantung, dan nadi. Indonesia menjadi sesuatu yang berada di dalam diri manusia.

Lagu itu memang berbicara tentang kecintaan kepada Indonesia dan semangat nasionalisme. Ia menggambarkan hubungan yang sangat dekat antara manusia dan tanah airnya. Karena itu, mungkin tidak mengherankan jika Kebyar-Kebyar tetap memiliki daya hidup yang panjang dan terus muncul dalam berbagai perayaan kemerdekaan.

Mungkin justru karena kesederhanaannya itulah lagu tersebut bertahan. Nasionalisme yang ditawarkan Gombloh bukan sesuatu yang terasa jauh dari kehidupan sehari-hari. Ia bukan hanya nasionalisme yang berdiri di atas panggung, dengan bendera dikibarkan dan upacara berlangsung khidmat. Ia nasionalisme yang terasa seperti pengalaman tubuh. Sesuatu yang dekat dengan kehidupan manusia.

Karena itu, saya kira menarik jika setiap kali kita merayakan kemerdekaan, kita tidak hanya mencari lagu yang sedang populer di media sosial. Kita sesekali perlu menoleh ke belakang.

Bukan karena semua yang lama pasti lebih baik. Bukan pula karena generasi sekarang tidak memiliki kreativitas. Justru sebaliknya. Saya melihat generasi sekarang sangat kreatif. Mereka mampu membuat video, meme, musik, desain, dan berbagai bentuk ekspresi dalam waktu yang sangat cepat.

Tetapi ada sesuatu yang mungkin perlahan hilang, yakni, kemampuan untuk tinggal lebih lama pada sebuah karya. Kita menggulir layar, scroll, berhenti beberapa detik, tertawa, memberi tanda suka, membagikan, lalu menggulir lagi.

Sebuah lagu bahkan bisa kita dengarkan berkali-kali tanpa pernah benar-benar mendengarkannya. Di sinilah saya merasa Gombloh menjadi penting. Ia mengingatkan kita bahwa sebuah lagu bukan hanya suara yang menjadi latar video. Sebuah lagu bisa menjadi dokumen zaman. Ia menyimpan cara suatu generasi memandang Indonesia. Ia menyimpan perasaan, kegelisahan, harapan, bahkan hubungan manusia dengan bangsanya.

Gombloh sendiri meninggal di Surabaya pada 1988, dalam usia 39 tahun. Tetapi beberapa puluh tahun setelah kematiannya, lagu-lagunya masih terdengar. Kebyar-Kebyar bahkan pernah masuk dalam daftar 150 lagu Indonesia terbaik sepanjang masa versi Rolling Stone Indonesia.

Barangkali inilah yang disebut umur panjang sebuah karya. Bukan karena karya itu terus-menerus berada di beranda kita, melainkan karena ia mampu kembali ketika kita membutuhkannya.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa lagu-lagu nasionalisme generasi sekarang buruk. Tidak. Setiap zaman mempunyai musiknya sendiri, setiap generasi mempunyai cara sendiri untuk merayakan Indonesia.

Yang saya khawatirkan adalah ketika sesuatu yang baru datang bukan untuk berdialog dengan yang lama, melainkan menggantikannya begitu saja. Kita menjadi masyarakat yang sangat kaya kreativitas, tetapi miskin apresiasi. Kita menghasilkan begitu banyak karya, tetapi semakin sedikit memiliki waktu untuk menyelami sebuah karya. Kita merayakan kemerdekaan dengan begitu banyak unggahan, tetapi mungkin semakin sedikit yang benar-benar berhenti untuk bertanya; apa sebenarnya yang sedang kita rayakan?

Karena itu, pada 18 Agustus ini, sehari setelah bendera diturunkan dan kemeriahan 17-an mulai surut, saya ingin mengingat satu nama; Gombloh. Bukan semata-mata karena ia pernah menciptakan Kebyar-Kebyar. Bukan pula karena lagu itu cocok dijadikan musik latar video perayaan kemerdekaan.

Tetapi karena di dalam lagu-lagunya ada Indonesia yang pernah dirasakan, dipikirkan, dan dinyanyikan oleh seorang manusia dari zamannya. Dan mungkin kita perlu mendengarkannya kembali. Bukan sambil menggulir layar, melainkan dengan berhenti sebentar, mendengarkan, kemudian mengingat.

Sebab sebuah bangsa tidak hanya dibangun oleh mereka yang menciptakan sejarah, tetapi juga oleh generasi yang bersedia mengingatnya. ***

Denpasar, Selasa, 18 Agustus 2026

*) I Ketut Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair. Sejak 2018 ia telah menulis 20 buku, kumpulan puisi dan buku kumpulan esai.

 

 

Apa Komentar Anda?