Ayah yang Mengajariku Berpikir

(Foto: salah satu buku koleksi penulis tentang Soe Hok-Gie)
(Foto: salah satu buku koleksi penulis tentang Soe Hok-Gie)

Sebagai anak kecil, saya tidak selalu memahami semuanya. Saya hanya tahu bahwa ayah memiliki banyak cerita dan dunia yang dibicarakannya terasa lebih luas daripada rumah kami.

Oleh: Angga Wijaya*

SAYA masih ingat wajah ayah ketika melihat saya hendak memutar film Gie di rumah. Ada perubahan kecil pada raut mukanya. Ia tidak mengatakan banyak, tetapi saya tahu ia tidak menyukai film itu. Bagi saya, Gie adalah film tentang seorang anak muda yang gemar membaca dan menulis.

Bagi ayah, Soe Hok Gie bukan sekadar tokoh dalam film. Ia bagian dari sejarah politik yang berkaitan dengan kejatuhan Sukarno, tokoh yang sangat dikaguminya. Karena itu, ketika nama Gie muncul di layar televisi, ayah seperti berhadapan dengan sesuatu dari masa lalu yang tidak ingin ia terima begitu saja.

Saya tetap menonton film itu bersama keponakan. Ayah tidak ikut. Saya tidak memaksanya menyukai film yang tidak ia sukai. Kami hanya memiliki cara berbeda dalam melihat satu cerita. Bertahun-tahun kemudian, saya justru mengingat peristiwa kecil itu sebagai salah satu pelajaran penting dari ayah. Ia mengajari saya bahwa kedekatan tidak selalu berarti kesamaan.

Ayah yang saya maksud adalah ayah angkat saya. Saya mempunyai ayah kandung, tetapi sejak kecil ada seorang lelaki lain yang hadir begitu dekat dalam kehidupan keluarga dan saya panggil ayah. Sebutan “ayah angkat” menjelaskan hubungan kami secara biologis, tetapi tidak sepenuhnya menjelaskan kedekatan yang terbentuk selama bertahun-tahun.

Dalam ingatan saya, ia adalah ayah. Ia bukan guru yang duduk di depan kelas dan mengajari saya bagaimana berpikir. Ia tidak pernah memberikan daftar buku yang harus dibaca atau meminta saya menghafalkan nama-nama tokoh. Ia hanya bercerita.

Tentang politik, sejarah, orang-orang yang pernah dikenalnya, dan berbagai peristiwa yang didengarnya dari radio. Sebagai anak kecil, saya tidak selalu memahami semuanya. Saya hanya tahu bahwa ayah memiliki banyak cerita dan dunia yang dibicarakannya terasa lebih luas daripada rumah kami.

Radio menjadi salah satu jendelanya melihat dunia. Dari sana ia mengetahui berbagai peristiwa, kemudian membawanya pulang dalam bentuk cerita. Dulu saya mengira ia hanya pandai bercerita. Belakangan saya memahami bahwa ia sedang memperkenalkan dunia kepada saya.

Mungkin pendidikan pertama saya tentang kehidupan memang berlangsung seperti itu. Bukan melalui buku pelajaran atau ruang kelas, melainkan melalui seorang lelaki yang bercerita dan seorang anak yang mendengarkan.

Saya tidak tahu kapan rasa ingin tahu itu tumbuh. Saya hanya tahu bahwa setelah mendengar cerita ayah, saya sering ingin mengetahui apa yang terjadi selanjutnya. Barangkali menjadi penulis bermula dari kebiasaan sederhana itu; ingin mengetahui kelanjutan sebuah cerita.

Ayah banyak bercerita tentang masa lalu. Salah satu yang paling membekas adalah kisah tragedi 1965/66. Saat itu saya masih duduk di sekolah dasar dan belum memahami politik. Saya hanya menangkap serpihan cerita tentang orang-orang yang dituduh sebagai anggota atau simpatisan kelompok tertentu.

Beberapa dari mereka dibunuh. Sebagian lainnya kehilangan kehidupan sosialnya. Ada keluarga yang bertahun-tahun kemudian masih membawa ingatan tentang apa yang terjadi kepada anggota keluarganya. Ayah menceritakannya dengan suara pelan.

(Mendiang ayah angkat penulis, I Ketut Redden). Foto: Angga Wijaya
(Mendiang ayah angkat penulis, I Ketut Redden). Foto: Angga Wijaya

Barangkali ia tahu bahwa ada cerita tertentu yang tidak bisa sembarangan diucapkan. Jembrana, kampung halaman saya, menjadi bagian dari ingatan itu. Salah seorang paman yang ketika itu menjadi kepala desa, menurut cerita ayah, berusaha menyelamatkan sejumlah warga yang masuk daftar orang yang dianggap “kena garis”.

Saya belum memahami seluruhnya ketika mendengarnya. Tetapi cerita itu tinggal di kepala saya. Bertahun-tahun kemudian, ketika belajar antropologi di Universitas Udayana dan mulai membaca lebih banyak tentang sejarah serta kekerasan, potongan-potongan cerita ayah seperti menemukan tempatnya.

Apa yang dahulu hanya berupa cerita masa kecil perlahan berubah menjadi pertanyaan. Mengapa orang bisa begitu mudah diberi label? Mengapa sebuah tuduhan bisa lebih kuat daripada kesempatan seseorang untuk membela diri?

Mengapa sejarah sering kali hanya menyisakan suara dari mereka yang berhasil menuliskannya? Mungkin pertanyaan-pertanyaan itu pula yang kemudian membawa saya semakin dekat kepada buku dan tulisan.

Ayah sendiri bukan seorang akademisi. Ia pernah menjadi tenaga administrasi di kantor kelurahan. Ia memiliki kegemaran membaca dan mendengarkan radio. Ia juga menjadi editor bagi tulisan kakaknya yang dikenal sebagai penulis sejarah di Jembrana.

Sebelum tulisan itu dikirim ke koran, kakaknya memperlihatkannya kepada ayah. Ia membaca dengan teliti. Tanda baca, kata, atau kalimat yang terasa kurang tepat diperiksa, tetapi isi tulisan tidak diubah.

Saya melihat kegiatan itu sebagai sesuatu yang biasa. Sekarang saya menyadari bahwa dari sana saya mungkin pertama kali melihat bagaimana sebuah tulisan diperlakukan. Kata-kata tidak boleh diletakkan sembarangan. Sebuah kalimat perlu dibaca kembali.

Ayah juga senang mendengarkan radio siaran luar negeri. Dari radio itu ia mengetahui berbagai peristiwa di dunia, lalu menceritakannya kepada anak dan cucu-cucunya. Kami menjadi pendengarnya.

Tidak ada ruang kelas, papan tulis, atau buku pegangan. Hanya seorang ayah yang bercerita dan anak-anak yang ingin mengetahui kelanjutannya. Mungkin saya tidak mengingat semua ceritanya, tetapi saya mengingat perasaan ketika mendengarkan.

Perasaan bahwa dunia begitu luas dan masih banyak hal yang belum saya ketahui. Itulah yang kemudian membuat saya senang membaca. Setiap buku seperti membuka pintu lain.

Satu cerita membawa kepada cerita berikutnya. Satu pertanyaan melahirkan pertanyaan lain. Ayah tidak pernah mengatakan bahwa saya harus menjadi orang kritis. Ia juga tidak pernah berkata bahwa saya harus menjadi penulis.

Ia hanya memberikan contoh bahwa seseorang dapat menjalani hidup dengan membaca, mendengar, dan terus ingin tahu. Bertahun-tahun kemudian, ketika saya menjadi penulis, saya baru menyadari pengaruh kebiasaan itu terhadap diri saya.

Mungkin saya tidak sedang meniru ayah. Saya hanya meneruskan sesuatu yang pernah saya terima darinya, yakni, cara mendengarkan, cara bertanya, dan cara tidak buru-buru menerima sebuah cerita sebagai kebenaran terakhir.

Mungkin juga cara melihat manusia sebelum melihat label yang ditempelkan kepadanya. Itulah sebabnya ketika dulu saya menulis “Kiri” Ayah, kata “kiri” saya letakkan dalam tanda kutip.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa ayah adalah seorang ideolog kiri atau bahwa ia sedang mewariskan identitas politik kepada saya. Yang saya ingat adalah keberpihakannya kepada nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan.

Ia tidak menyebutnya dengan istilah rumit. Ia hanya bercerita tentang orang-orang yang diperlakukan tidak adil. Ia bercerita tentang sejarah, membaca, mendengarkan radio, lalu membiarkan saya menyimpulkan sendiri.

Mungkin di situlah pelajaran terpentingnya. Seorang ayah tidak selalu harus memberikan jawaban kepada anaknya. Kadang ia cukup membuka pintu, menunjukkan bahwa dunia begitu luas, lalu membiarkan anak itu berjalan sendiri untuk menemukan jawabannya.

Saya mempunyai ayah kandung. Saya juga mempunyai ayah angkat. Keduanya memiliki tempat masing-masing dalam kehidupan saya. Saya tidak perlu menghapus hubungan yang satu untuk menjelaskan hubungan yang lain.

Ayah kandung adalah bagian dari asal-usul saya. Ayah angkat adalah bagian dari perjalanan hidup yang ikut membentuk saya. Hubungan kami tidak dibangun oleh darah, tetapi oleh waktu, kehadiran, percakapan, dan ingatan.

Karena itu, ketika saya menyebutnya ayah, saya tidak sedang melupakan siapa ayah kandung saya. Saya sedang menyebut seseorang yang, dalam perjalanan hidup saya, telah menjalankan sebagian dari makna menjadi seorang ayah.

Sekarang, setiap kali menulis, saya sering teringat kepadanya. Saya teringat bagaimana ia bercerita tentang sesuatu yang baru didengarnya dari radio. Saya teringat cara ia membaca tulisan kakaknya.

Saya juga teringat bagaimana ia bisa berbeda pendapat dengan saya tentang Gie, tetapi perbedaan itu tidak membuat hubungan kami berakhir. Dulu saya hanya mendengarkan. Sekarang saya menulis.

Barangkali menulis adalah cara saya meneruskan percakapan yang pernah dimulai ayah di rumah. Ia memberikan cerita. Saya mencoba memahami maknanya.

Semakin tua, saya semakin mengerti bahwa warisan paling berharga dari seorang ayah tidak selalu berupa benda. Kadang ia berupa cara melihat dunia, yakni cara membaca, cara mendengar, cara bertanya, dan keberanian untuk berpikir sendiri.

Dulu saya hanya mendengarkan cerita ayah. Kini saya menulis cerita saya sendiri. Mungkin saya tidak sedang meneruskan semua pendapatnya, tetapi saya membawa kebiasaan yang pernah ia tanamkan tanpa sengaja.

Bahwa dunia terlalu luas untuk diterima hanya dari satu cerita. Maka dengarkanlah cerita yang lain. Bacalah buku yang lain. Temuilah manusia yang lain. Kemudian berpikirlah sendiri. Barangkali itulah warisan ayah yang paling berharga.

Tentang Penulis

*) I Ketut Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis asal Negara, Jembrana, Bali. Ia pernah menempuh pendidikan Antropologi Budaya di Universitas Udayana. Aktif menulis sejak 2001, ia telah menerbitkan sekitar 20 buku berupa puisi dan esai. Karyanya banyak mengangkat sastra, kebudayaan Bali, kehidupan sehari-hari, ingatan, manusia, dan persoalan sosial.

 

Apa Komentar Anda?