Apakah kita mulai terlalu terbiasa dengan hubungan yang serba praktis? Datang, membeli, membayar, lalu pergi. Selama kebutuhan terpenuhi, urusan dianggap selesai.
Oleh Angga Wijaya*
SAYA meletakkan uang di meja warung. Penjual menyerahkan barang belanjaan. Saya menerimanya, lalu beranjak pergi. Tidak ada ucapan terima kasih. Transaksi selesai begitu saja, seolah-olah uang dan barang adalah satu-satunya hal yang mempertemukan kami.
Kejadian seperti itu beberapa kali saya alami ketika berbelanja di warung-warung yang belakangan banyak bermunculan di Denpasar dan Badung. Barangkali terdengar sepele. Barang sudah diterima, pembayaran sudah dilakukan, dan tidak ada yang dirugikan. Namun, saya teringat kebiasaan yang selama ini akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setelah transaksi selesai, penjual mengucapkan terima kasih, lalu pembeli membalasnya dengan ucapan serupa atau mengatakan sama-sama.
Saya tidak sedang mencari penghormatan hanya karena membeli sesuatu. Saya hanya merasa ada yang berbeda ketika ucapan sederhana itu tidak terdengar. Dari pengalaman kecil tersebut, saya mulai bertanya-tanya, sejak kapan perjumpaan di antara dua manusia cukup dianggap selesai setelah uang berpindah tangan dan barang diterima.
Uang Berpindah, Hubungan Menghilang
Warung merupakan bagian dekat dari kehidupan kita. Orang datang membeli kopi, rokok, beras, air mineral, atau kebutuhan sehari-hari lainnya. Penjual mencari penghasilan, pembeli memperoleh barang. Semuanya berlangsung biasa saja, bahkan sering kali tanpa percakapan panjang.
Saya memahami kesibukan orang yang berjualan. Ada barang yang harus ditata, uang yang perlu dihitung, dan pelanggan lain yang menunggu giliran. Saya juga mengerti bahwa setiap orang memiliki kebiasaan berkomunikasi yang berbeda. Namun, mengucapkan terima kasih tidak membutuhkan percakapan panjang. Dua kata itu bisa disampaikan sambil menyerahkan barang atau menerima uang.
Sejak kecil, kita mengenal terima kasih sebagai bagian dari sopan santun. Ketika menerima pemberian, kita diajarkan mengucapkannya. Ketika seseorang membantu, kita menyampaikan penghargaan. Kebiasaan itu tumbuh melalui keluarga, sekolah, dan pergaulan. Kita mungkin tidak pernah memikirkan maknanya secara serius, tetapi terbiasa melakukannya.
Lalu, mengapa sesuatu yang begitu sederhana kadang-kadang terasa tidak perlu lagi dilakukan?
Saya tidak ingin buru-buru menyimpulkan bahwa orang sekarang semakin tidak sopan. Penjual bisa saja sedang lelah atau pikirannya tertuju pada urusan lain. Tidak mengucapkan terima kasih dalam satu transaksi juga tidak cukup untuk menilai keseluruhan kepribadian seseorang.
Namun, pengalaman yang berulang membuat saya bertanya-tanya. Apakah kita mulai terlalu terbiasa dengan hubungan yang serba praktis? Datang, membeli, membayar, lalu pergi. Selama kebutuhan terpenuhi, urusan dianggap selesai.
Dalam hubungan ekonomi, memang ada barang yang dijual dan uang yang dibayarkan. Namun, di balik transaksi itu, ada manusia yang sedang menjalani kehidupannya. Penjual bekerja untuk mendapatkan penghasilan. Pembeli datang dengan kebutuhannya sendiri. Keduanya bertemu sebentar, lalu berpisah.
Bagi saya, ucapan terima kasih menjadi salah satu cara sederhana untuk membuat pertemuan itu tidak terasa semata-mata sebagai urusan jual beli.
Kita Tidak Sedang Gila Hormat
Saya bisa membayangkan seseorang menganggap persoalan ini terlalu remeh. Mengapa harus mempermasalahkan ucapan terima kasih? Bukankah penjual sudah memberikan barang dan pembeli sudah membayar sesuai harga?
Saya tidak menuntut setiap transaksi harus ditutup dengan tata cara tertentu. Namun, ada perbedaan antara tidak menuntut penghormatan dan menganggap penghargaan sebagai sesuatu yang tidak penting.
Saya tidak lebih tinggi daripada penjual hanya karena datang membawa uang. Penjual juga tidak lebih tinggi daripada saya karena memiliki barang yang sedang dibutuhkan. Kami bertemu karena memiliki kepentingan masing-masing. Saya membutuhkan barang, sedangkan penjual membutuhkan pembeli. Hubungan itu sederhana, tetapi bukan berarti kesopanan tidak diperlukan.
Pembeli pun bisa mengucapkan terima kasih lebih dahulu. Saya sendiri tidak merasa kehilangan apa-apa ketika melakukannya. Jika penjual tidak membalas, saya tetap bisa pulang dan melanjutkan kegiatan. Namun, saya juga tidak ingin menganggap kebiasaan tersebut sama sekali tidak memiliki arti.
Kita sering berbicara tentang budaya, adat, dan warisan leluhur dalam perkara-perkara besar. Padahal, kebudayaan juga hidup melalui tindakan kecil yang kita lakukan setiap hari. Cara menyapa, meminta izin, mengucapkan permisi, dan berterima kasih merupakan bagian dari kebiasaan yang menjaga hubungan sosial.
Saya tidak ingin menjadikan pengalaman berbelanja di warung sebagai alasan untuk menghakimi kelompok tertentu. Tidak mengucapkan terima kasih bukan persoalan yang melekat pada satu suku. Orang dari latar belakang mana pun bisa melakukannya. Yang perlu dibicarakan adalah perilakunya, bukan asal-usul orang yang berada di balik meja warung.
Saya hanya berharap kita tidak kehilangan kebiasaan sederhana untuk saling menghargai. Kita bisa menyapa lebih dahulu. Kita bisa mengucapkan terima kasih tanpa menghitung apakah orang lain akan membalasnya. Setidaknya, kita tidak ikut membiarkan kebiasaan baik menghilang dari kehidupan sehari-hari.
Belajar Berterima Kasih
Ketika memikirkan arti terima kasih, saya teringat pada Anand Krishna dan bukunya Seni Memberdaya Diri 3: Atisha: Melampaui Meditasi untuk Hidup Meditatif. Buku tersebut membahas Atisha, guru Buddhis dari India yang dikenal pernah belajar kepada Guru Suwarnadwipa Dharmakirti di kawasan Sriwijaya sebelum berperan dalam perkembangan Buddhisme di Tibet.
Kisah itu mengingatkan saya pada jejak hubungan spiritual antara Nusantara dan kawasan Asia lainnya. Dalam penuturan mengenai warisan Dharmakirti, terdapat pula gagasan meditasi terima kasih yang dikaitkan dengan latihan batin untuk mengurangi keakuan dan menumbuhkan welas asih.
Saya tertarik pada gagasan bahwa terima kasih bukan hanya perkara mengucapkan dua kata kepada orang lain. Ia juga berkaitan dengan kesadaran bahwa kita tidak menjalani hidup sendirian. Ada banyak orang yang membantu kehidupan kita berjalan, termasuk mereka yang tidak kita kenal dan mungkin tidak pernah kita pikirkan.
Tentu, meditasi terima kasih dalam tradisi Buddhis memiliki konteks tersendiri. Saya tidak ingin menyamakannya begitu saja dengan kebiasaan berterima kasih setelah berbelanja. Namun, ada satu hal yang bisa direnungkan. Kesadaran untuk menghargai orang lain seharusnya tidak berhenti pada pengetahuan yang kita peroleh dari buku atau ajaran spiritual.
Ia perlu dibawa ke dalam kehidupan sehari-hari, termasuk ketika kita membeli kopi, menerima barang belanjaan, atau berhadapan dengan seseorang yang mungkin hanya kita temui selama beberapa menit.
Kita bisa berbicara panjang tentang welas asih dan kemanusiaan. Namun, semuanya terasa jauh jika kita tidak mampu mempraktikkan penghargaan dalam perjumpaan sederhana. Barangkali, kita tidak perlu menunggu menjadi orang yang sangat bijaksana untuk belajar berterima kasih. Kita hanya perlu menyadari bahwa orang lain bukan sekadar bagian dari urusan yang ingin kita selesaikan.
Dua Kata yang Menjaga Kemanusiaan
Saya mungkin akan kembali berbelanja di warung yang sama. Saya akan memilih barang, membayar, menerima belanjaan, lalu pulang. Mungkin penjual akan mengucapkan terima kasih. Mungkin juga tidak. Saya tidak bisa menentukan apa yang akan dilakukan orang lain.
Namun, saya tetap bisa menentukan bagaimana saya memperlakukan orang di hadapan saya.
Saya tidak ingin menjadikan ucapan terima kasih sebagai ukuran tunggal untuk menilai seseorang. Kehidupan terlalu rumit untuk disimpulkan dari satu kebiasaan. Ada banyak hal yang tidak kita ketahui tentang orang lain. Karena itu, saya tidak merasa perlu memelihara kejengkelan setiap kali tidak mendengar ucapan tersebut.
Tetapi, saya juga tidak ingin menganggapnya tidak berarti. Kita membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi kehidupan bersama tidak hanya berlangsung melalui uang. Ada kesopanan, perhatian, dan penghargaan yang membuat hubungan antarmanusia terasa lebih hangat.
Warung mungkin hanya tempat singgah untuk membeli sesuatu. Kita datang, membayar, lalu pergi. Besok atau lusa, kita mungkin kembali dan melakukan hal yang sama. Penjual mungkin tidak mengenali wajah kita, begitu pula kita tidak mengetahui banyak hal tentang kehidupannya.
Meski begitu, selama beberapa menit kita berada di ruang yang sama. Kita saling membutuhkan, meskipun hanya dalam urusan sederhana. Bagi saya, itu sudah cukup menjadi alasan untuk menjaga kesopanan.
Saya tidak sedang meminta orang lain menghormati saya. Saya hanya berharap kita tidak terlalu mudah melupakan cara menghargai sesama.
Suatu hari nanti, saya mungkin kembali berdiri di depan meja warung yang sama. Saya membayar, menerima barang, lalu mendengar penjual mengucapkan terima kasih. Saya akan membalasnya seperti biasa, kemudian pulang. Barangkali tidak ada yang istimewa dari peristiwa itu. Justru begitulah seharusnya. Dua orang menyelesaikan transaksi tanpa melupakan bahwa mereka sedang berhadapan dengan manusia lain. ***
Tentang Penulis
*) I Ketut Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis yang tinggal di Denpasar, Bali. Sejak 2018, ia telah menulis dan menerbitkan 21 buku berupa puisi, esai, dan karya lainnya. Ia menulis tentang kebudayaan, kehidupan sehari-hari, dan berbagai persoalan sosial di Bali.


