Puisinya menyoroti ketegangan antara bakti, tanggung jawab, dan ekspektasi yang sering dibebankan kepada anak-anak. Terutama pada mereka yang kini disebut sebagai sandwich generation—generasi yang terjepit antara kewajiban merawat orang tua yang menua dan tanggung jawab membiayai kehidupan anak-anaknya sendiri.
oleh: Angga Wijaya
SETIAP kali membaca puisi IBU karya Wiji Thukul, saya selalu merasa seperti sedang menatap langsung pada realitas generasi muda Indonesia saat ini. Puisi itu pendek, bahasanya sederhana, nyaris seperti percakapan sehari-hari.
Tidak ada metafora rumit, tidak ada kata-kata besar yang ingin tampak pintar. Tetapi justru di situlah daya ledaknya.
Puisi ini tidak membicarakan ibu dalam bingkai romantik atau sentimentalitas yang biasa ditemui. Tidak ada bunga, tidak ada air mata haru yang ditata rapi. Yang ada justru pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu, bahkan bagi sebagian orang mungkin terdengar kurang ajar.
Tetapi pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat puisi ini terus hidup, lintas generasi, lintas konteks sosial.
Ia khusus menyoroti ketegangan antara bakti, tanggung jawab, dan ekspektasi yang sering dibebankan kepada anak-anak. Terutama pada mereka yang kini disebut sebagai sandwich generation—generasi yang terjepit antara kewajiban merawat orang tua yang menua dan tanggung jawab membiayai kehidupan anak-anaknya sendiri.
Fenomena ini tidak jarang muncul pada pemuda-pemudi yang merantau ke kota besar demi pekerjaan, tetapi tetap harus mengirim uang ke kampung, membiayai pendidikan adik, atau menanggung biaya berobat orang tua yang sudah lanjut usia.
Dalam konteks sosial dan ekonomi Indonesia, banyak anak yang terbebani tidak hanya secara materi, tetapi juga mental. Mereka bekerja untuk menambal lubang-lubang struktural yang gagal disediakan negara: tidak ada jaminan hari tua yang layak, fasilitas kesehatan yang memadai, atau sistem dukungan sosial bagi lansia.
Keluarga sering menjadi satu-satunya institusi penyangga. Dalam kondisi ini, anak-anak lahir sebagai “tabungan yang bisa dipecah kapan saja”, frase yang diungkapkan Wiji Thukul jauh sebelum istilah sandwich generation populer.
Mari kita hadirkan puisi itu secara utuh:
IBU
jika kau menagih baktiku
itu sudah kupersembahkan ibu
waktu hidup yang tak kubiarkan beku
itulah tanda baktiku kepadamu
gula dan teh memang belum kuberikan
tetapi nilai hidup adakah di dalam nasi semata
apakah anak adalah tabungan
bisa sesuka hati dipecah kapan saja
apakah kelahiran cuma urusan untung dan laba
tumpukan budi yang harus dibayar segera
jalan mana harus ditempuh anak
juga bukan yang bisa dan sudah dipilih
oleh yang berjalan itu sendiri?
Dua baris itu, “apakah anak adalah tabungan / bisa sesuka hati dipecah kapan saja”, seperti palu yang menghantam kepala kita. Ia langsung menantang asumsi yang selama ini dianggap wajar: bahwa anak adalah investasi, jaminan hari tua, atau kepanjangan strategi bertahan hidup orang tua.
Di banyak keluarga di Indonesia, asumsi ini diwariskan diam-diam. Lewat kalimat-kalimat kecil yang terdengar seperti nasihat tetapi sesungguhnya kontrak moral sepihak: “Ibu dulu susah membesarkan kamu.” “Kalau bukan anak, siapa lagi yang mengurus orang tua?” “Kamu harus ingat budi.”
Di sinilah puisi Wiji Thukul terasa politis, meskipun ia tidak sedang bicara soal negara atau penguasa. Ia membongkar relasi kuasa dalam keluarga, relasi yang sering disembunyikan di balik kata cinta, bakti, dan pengorbanan.
Wiji Thukul tidak menolak bakti. Ia memulainya dengan lembut: “jika kau menagih baktiku / itu sudah kupersembahkan ibu.” Tetapi kelanjutannya menegaskan bahwa bakti bukan diukur dengan materi, tidak dengan gula dan teh, tidak dengan nasi semata. Bakti diukur dengan hidup yang dijalani secara sadar, waktu yang tidak dibekukan.
Ia menolak logika transaksi yang menggerogoti relasi anak dan orang tua. Bakti bukan cicilan. Bakti bukan kewajiban ekonomi yang bisa ditagih sewaktu-waktu. Bakti adalah relasi yang hidup, bukan hutang yang menumpuk.
Fenomena generasi sandwich lahir dari kondisi ini. Anak muda harus bekerja untuk orang tua yang menua sekaligus untuk anak-anak mereka sendiri. Mereka menjadi jembatan yang rapuh, yang kapan saja bisa runtuh jika satu sisi terlalu banyak menuntut.
Banyak anak muda dari kelas menengah ke bawah menanggung beban ganda: membiayai kehidupan orang tua, pendidikan adik, atau keluarga kecil mereka sendiri. Hidup mereka diwarnai rasa bersalah, tekanan sosial, dan ekspektasi yang tidak mereka pilih. Bahkan ketika pulang ke kampung, pertemuan dengan orang tua bukan sekadar hangat, tetapi juga pengingat tanggung jawab yang tak pernah berhenti.
Dalam konteks ini, Wiji Thukul menulis: “apakah kelahiran cuma urusan untung dan laba / tumpukan budi yang harus dibayar segera”. Ini pertanyaan yang memaksa kita melihat kelahiran bukan hanya sebagai peristiwa biologis atau spiritual, tetapi juga peristiwa ekonomi. Anak tidak selalu lahir sebagai subjek, melainkan sebagai rencana, sebagai tabungan, sebagai asuransi hidup.
Pertanyaan Thukul juga sangat eksistensial: “jalan mana harus ditempuh anak / juga bukan yang bisa dan sudah dipilih / oleh yang berjalan itu sendiri?” Ia bicara tentang hak dasar manusia untuk menentukan arah hidupnya sendiri—hak yang sering tergerus oleh rasa bersalah, hutang budi, atau narasi pengorbanan orang tua yang tidak pernah dinegosiasikan.
Di sinilah relevansi puisi ini bagi generasi sandwich menjadi jelas. Mereka tidak hanya berhadapan dengan tuntutan orang tua, tetapi juga ketakutan mengulangi pola yang sama terhadap anak-anak mereka sendiri. Mereka hidup di tengah pusaran, mencoba memutus rantai yang menjerat generasi sebelumnya tanpa benar-benar tahu caranya.
Fenomena ini menimbulkan stres, kecemasan, dan kelelahan mental yang serius. Banyak generasi sandwich merasa hidup mereka dibekukan oleh hutang budi yang tidak pernah mereka sepakati. Mereka ingin membahagiakan orang tua, tetapi sering kali dengan cara yang melelahkan, memaksakan pilihan hidup yang bukan sepenuhnya milik mereka.
Wiji Thukul menolak pandangan itu. Ia menegaskan bahwa bakti dan cinta tidak harus berubah menjadi utang atau logika untung-rugi. Anak bukan tabungan yang bisa dipecah kapan saja. Dalam masyarakat yang miskin jaminan sosial, anak seringkali menjadi penopang tunggal orang tua. Namun puisi ini menantang cara pandang itu: cinta dan tanggung jawab harus tetap manusiawi, tidak berubah menjadi beban yang menjerat.
Puisi ini membuka ruang refleksi bagi anak muda, orang tua, dan masyarakat luas. Bagaimana kita membagi tanggung jawab secara adil? Bagaimana memberikan ruang bagi anak untuk hidup bebas tanpa merasa bersalah? Bagaimana mewariskan pola hubungan yang sehat bagi generasi berikutnya?
Wiji Thukul menghadirkan pertanyaan ini dengan nada sederhana namun kuat. Ia menempatkan anak di pusat pertanyaan moral dan eksistensial yang sering diabaikan masyarakat. Ia menghormati orang tua, tetapi juga membela anak. Ia menolak logika hitung-hitungan dalam relasi yang seharusnya manusiawi.
Realitas hari ini semakin menegaskan relevansi puisi itu. Di tengah krisis ekonomi, ketidakpastian pekerjaan, dan biaya hidup yang terus meningkat, banyak anak muda hidup sebagai generasi sandwich.
Mereka bekerja untuk menanggung beban keluarga, sekaligus mencoba menjalani hidup mereka sendiri. Puisi IBU menjadi semacam panduan reflektif: jangan biarkan hidup terjepit, jangan biarkan cinta berubah menjadi hutang, jangan biarkan tanggung jawab membekukan hidup.
Membaca puisi ini memberi ruang untuk bertanya; Apa artinya menjadi anak yang baik? Bagaimana cara menyeimbangkan bakti kepada orang tua dengan kebebasan untuk memilih hidup sendiri? Bagaimana memutus rantai ekspektasi yang membebani generasi muda tanpa merusak hubungan keluarga?.
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak mudah dijawab, tetapi setidaknya mereka dihadirkan dalam kata-kata yang jujur dan lugas.
Wiji Thukul menekankan bahwa relasi anak dan orang tua bukan sekadar soal cinta atau bakti. Itu soal kemanusiaan, hak untuk hidup bebas dari logika untung-rugi, dan kemampuan untuk menjalani hidup tanpa merasa terus-menerus berhutang kepada orang lain.
Dalam konteks Indonesia saat ini, pertanyaan Thukul terasa lebih relevan daripada sebelumnya. Banyak anak muda yang merantau, biaya pendidikan tinggi, kesehatan lansia yang belum dijamin sepenuhnya, dan tekanan ekonomi yang meningkat, mereka menjadi sandwich generation sejati.
Puisi IBU menegaskan, bahwa bakti tidak harus menghancurkan hidup, cinta tidak harus menjadi hutang, tanggung jawab tidak harus membekukan pilihan hidup.
Bakti bukan transaksi. Anak bukan tabungan yang bisa dipecah. Itulah pesan yang diulang Thukul dengan sederhana, tetapi kuat. Generasi sandwich bukan hanya fenomena ekonomi; ia adalah persoalan eksistensial, psikologis, dan kemanusiaan.
Dan di situlah puisi Thukul menjadi relevan; sebagai peringatan, sebagai cermin, dan sebagai ruang untuk bertanya; tanpa takut akan jawaban yang tidak nyaman. (*)
*Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.


