ARMA 2026: Menjaga Taksu di Antara Deru Digital

Agung Rai (berkaca mata hitam) bersama penulis buku Jean Couetau saat peluncuran buku - RFH
Agung Rai (berkaca mata hitam) bersama penulis buku Jean Couetau saat peluncuran buku - RFH

Penulis: I Gede Joni Suhartawan*

SAAT  anda, suatu ketika merasa lelah oleh kesumpekan tata ruang Ubud kini, segeralah cari dan menyelinap  masuk dan duduk di beranda atau sudut mana saja di area Museum ARMA.

Anda akan (masih!) mendengar suara gemericik air sungai beradu dengan desau angin membawa suara dedaunan dan aroma berbagai jenis pohon dan perdu, men-senyap-kan hiruk pikuk klakson dan mesin motor di luar sana. Tak ketinggalan pemandangan taman khas Bali di dalamnya, melapangkan mata melegakan dada, turut menyegarkan kita dari sesak napas kepadatan Ubud. Sungguh, Arma memang sepotong Ubud yang tersisa!

Di sana, Anak Agung Gde Rai—atau yang akrab disapa Gung Aji—seringkali terlihat melintas dengan senyum yang tak pernah lekang oleh usia. Pendiri Museum Arma ini kadang akan anda dapati sedang menyiram tanaman dengan selang di tangan.

Bagi Gung Aji, ARMA, sebagai museum, bukanlah sekadar deretan tembok yang memenjarakan kanvas dan artefak seni lainnya, melainkan sebuah organisme yang bernapas. Saya ingat betul, dalam sebuah percakapan santai beliau pernah berujar:

“Museum itu jangan jadi kuburan. Dia harus bernapas. Kalau lukisan hanya diam di dinding tanpa ada suara anak kecil latihan menari atau megambel di bawahnya, maka lukisan itu kehilangan jiwanya.”

Jembatan Dua Dunia

Perjalanan ARMA sejak tahun 1996 adalah sebuah manifestasi dari kegigihan seorang “pedagang acung” yang bermimpi menjaga martabat bangsanya melalui seni. Gung Aji tidak pernah melihat lukisan sebagai komoditas semata. Baginya, setiap goresan Walter Spies atau ketelitian gaya Batuan adalah pusaka yang memiliki “ruh” atau Taksu.

Kini, ketika dunia bergeser ke arah digitalisasi yang dingin, ARMA berdiri di persimpangan yang krusial. Tantangannya bukan lagi sekadar merawat kanvas dari jamur kelembapan Bali, melainkan bagaimana memindahkan “ruh” tersebut ke dalam ruang-ruang virtual yang tak terbatas.

Digitalisasi yang Membumi

Dalam peta kuratorial masa depan, ARMA diproyeksikan menjadi pusat Diplomasi Budaya Hybrid. Kita tidak sedang bicara tentang sekadar memindahkan foto lukisan ke media sosial. Tidak! Proyeksi ARMA ke depan adalah tentang:

  1. Arsip sebagai Napas: Menjadikan digitalisasi sebagai alat “pulang kampung” bagi karya-karya yang tercecer di belahan dunia lain, agar bisa dipelajari oleh anak-anak Bali tanpa sekat jarak.
  2. Teknologi yang Manusiawi: Jika kelak NFT atau Blockchain menyentuh lorong-lorong ARMA, itu bukan untuk mengejar spekulasi harga, melainkan untuk mengunci otentisitas dan memberi makan pada keberlanjutan sanggar tari. Teknologi di tangan Gung Aji adalah pelayan bagi tradisi, bukan majikannya.

Adopsi atau penerapannya dapat dilakukan secara organik dan fungsional, seperti:

  • Smart-Audio Guide “Suara Gung Aji”: Pengunjung tidak lagi sekadar membaca teks kaku di samping bingkai. Melalui teknologi Near Field Communication (NFC) pada ponsel, pengunjung dapat mendengarkan narasi personal langsung dari suara Gung Aji atau para kurator senior yang menceritakan sisi humanis di balik sebuah karya—seperti mengapa sebuah lukisan Raden Saleh bisa “bertemu” dengan jiwanya di Ubud.
  • Digital Twins untuk Pelestarian: ARMA mulai menerapkan pemindaian 3D laser untuk karya-karya masterpiece. Hal ini bukan hanya untuk pameran virtual, tetapi sebagai data “genetik” karya. Jika terjadi kerusakan akibat faktor alam, teknologi ini memungkinkan restorasi yang presisi hingga ke tekstur terkecil goresan kuas Walter Spies, misalnya.
  • Blockchain untuk Dana Abadi Budaya: ARMA memproyeksikan penggunaan blockchain untuk melacak dana donasi. Setiap tiket atau suvenir digital yang dibeli wisatawan dapat dilacak distribusinya secara transparan—misalnya, 10% langsung masuk ke dana operasional sanggar kesenian anak-anak di desa-desa sekitar Ubud. Inilah “NFT yang membumi”, di mana aset digital menghidupi seniman fisik.

Tetap Menjadi Oase

Ke depan, dalam riuh rendah seni kontemporer global yang seringkali tercerabut dari akarnya, ARMA akan tetap menjadi titik jangkar. Dunia internasional akan melihat ARMA sebagai model di mana “museum hidup” tetap relevan. Di sana, kecerdasan buatan (AI) mungkin akan membantu menjelaskan makna Pita Maha atau Megarupa, namun keringat anak-anak yang berlatih tari di bawah pohon kamboja tetap akan menjadi jantung utamanya.

Gung Aji telah menanam benih. Tugas masa depan bukan hanya menyiraminya dengan teknologi, tapi memastikan bahwa akar spiritualitas Bali tetap kuat mencengkeram bumi. ARMA adalah pengingat: secepat apa pun dunia berlari ke masa depan, ia harus selalu punya tempat untuk pulang—kepada jati diri, kepada alam, dan kepada kemanusiaan yang hangat.

Selamat Mengawali 2026!

 

***

Apa Komentar Anda?