Dian Dewi Reich Pilih Jadi Kurator di Jagat Seni Rupa Bali

Kurator muda Dian Dewi Reich - Dok.Pribadi
Kurator muda Dian Dewi Reich - Dok.Pribadi

DENPASAR, kanalbali.id – Di panggung seni rupa global, peran seorang kurator telah lama diakui sebagai pilar penting dalam menyajikan sebuah karya seni.

Mereka adalah pemikir di balik pameran, arsitek narasi yang menghubungkan seniman, karya, dan audiens.

Namun, di lanskap seni Indonesia, khususnya di Bali—sebuah pulau yang identik dengan kekayaan budaya dan seni—praktik kurasi masih sering dianggap sebelah mata, bahkan diselimuti ketidaktahuan.

Banyak pameran seni lahir tanpa sentuhan kuratorial yang mendalam, dan tak sedikit seniman yang belum sepenuhnya memahami betapa pentingnya peran kurator dalam membangun konteks dan memperkaya makna sebuah karya.

Untuk menguak lebih jauh seluk-beluk ini, Angga Wijaya, wartawan Kanalbali.id, berkesempatan berbincang dengan Dian Dewi Reich.

Ia adalah seorang seniman, penulis, sekaligus kurator independen yang telah membenamkan dirinya dalam denyut nadi seni Bali sejak tahun 2002.

Perjalanan Menjadi Kurator

Lahir di Sydney, Australia, dan besar di Indonesia, Dian Dewi Rich telah memilih Bali sebagai rumahnya sejak tahun 2002.

Dengan latar belakang pendidikan seni murni dari National Art School di Australia, ketertarikannya pada dunia seni sudah berakar kuat sejak dini. Namun, perjalanannya tidaklah lurus.

Proses kurasi karya Dian Dewi Reich, Kurator Muda yang Menelisik Seni Rupa Bali - IST
Dian Dewi Reich – IST

“Perjalanan saya berliku—kadang bukan pilihan, tapi mengalir begitu saja,” kenangnya. Jalan menuju kurasi, baginya, terasa sangat alami, terutama ketika dunia dilanda pandemi.

Momen tersebut menjadi titik balik baginya untuk kembali menghidupkan semangat kreatif bersama rekan-rekan komunitas di Ubud. “Dari situ saya menyadari, bahwa saya sudah lama merindukan dunia seni, dan kurasi adalah bagian dari perjalanan itu,” ungkap Dian.

Pengalaman ini menggambarkan bagaimana panggilan untuk menjadi kurator seringkali muncul dari sebuah koneksi emosional dan kebutuhan akan ekspresi dalam ekosistem seni.

Dalam pengamatan Dian, profesi kurator di Indonesia masih terbilang sangat jarang, bahkan di Bali sekalipun. I

a menyoroti bahwa banyak galeri seni yang beroperasi tidak menjalankan proses kuratorial secara sadar. Padahal, ia percaya, setiap galeri idealnya punya identitas yang mencerminkan visi, misi, dan nilai seni yang mereka anut.

Menurut Dian, kurasi sejati melampaui sekadar memilih karya yang estetis atau “bagus”. Lebih dari itu, kurasi adalah tentang membangun narasi, menyampaikan pesan, dan mengajak audiens berpikir atau merasakan sesuatu.

Sayangnya, kondisi di lapangan kerap berbeda. Banyak galeri, dalam pandangan Dian, lebih sering berfungsi layaknya toko.

Bersama sejumlah seniman Bali - IST
Dian Dewi Reich Bersama sejumlah seniman Bali – IST

Kuratorial dan Proses Seleksi Karya

Konsekuensinya, proses seleksi karya lebih banyak didasarkan pada selera pasar atau tren populer, alih-alih pada kedalaman makna atau kekuatan narasi seni itu sendiri.

“Ini yang membedakan kurasi yang sesungguhnya dengan sekadar memilih karya untuk dipajang,” jelas Dian.

Pernyataan ini membuka diskusi penting tentang perbedaan fundamental antara pameran yang digerakkan oleh komersialisme semata dan pameran yang dibangun di atas fondasi pemikiran kuratorial yang kuat.

Dian juga menjelaskan bahwa pada dasarnya, setiap proses seleksi adalah bentuk kurasi, namun bentuk dan fungsinya bisa sangat berbeda.

Ia membandingkan kurasi untuk decorative art yang cenderung estetis dengan kurasi tematik untuk pameran seni kontemporer atau sejarah seni yang kaya akan narasi.

“Poin utamanya adalah kesadaran akan tujuan di balik seleksi tersebut. apakah untuk menjual, untuk mendidik, untuk menyampaikan kritik sosial, atau mungkin untuk menggugah perasaan tertentu? Kesadaran akan tujuan ini menjadi kunci utama dalam menentukan arah dan kedalaman sebuah praktik kurasi,” pungkas Dian. (kanalbali/AnggaWijaya)

Apa Komentar Anda?