DENPASAR, kanalbali.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Bali, melakukan antisipasi penyebaran virus nipah melalui ternak babi yang produksinya cukup besar di Pulau Bali.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Bali I Gusti Ayu Raka Susanti menerangkan, virus Nipah merupakan penyakit zoonosis atau
penyakit infeksi yang menular secara alami antara hewan.
“Penyakit zoonosis dalam arti ditularkan melalui hewan. Nah, dalam hal ini kalau kita lihat di literatur virus Nipah ini kan sebenarnya virus yang memang sudah ada di kelelawar,” kata Ayu Raka, di Kantor Dinkes Bali, Kamis (29/1).
“Dari kelelawar juga bisa menginfeksi binatang lainnya. Kalau kita lihat kelelawar ini adalah merupakan inangnya dan hewan lain seperti babi itu merupakan host yang bisa mereplikasi virus ini, sehingga bisa menularkan kepada manusia,” imbuhnya.
Ia juga menyebutkan, jika dilihat dari pemberitaan seperti di Negara Malaysia itu waktu Kejadian Luar Biasa (KLB) di tahun 1998-1999 mereka sampai memusnahkan banyak babi, karena memang menularkan virusnya di babi yang bisa menularkan kepada manusia.
“Setelah kita mengetahui jenis virus ini, baru kita bisa berbicara tentang pencegahan. Pencegahan tentu yang pertama adalah kita menghimbau kepada masyarakat untuk kita mengantisipasi atau mencegah dengan tetap menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, mencuci tangan ataupun tidak mengkonsumsi makanan yang setengah matang,” lanjutnya.
Ia menyatakan, virus Nipah ini normal hidup pada kelelawar dan tentu untuk mencegah ialah tidak mengkonsumsi buah yang sudah pernah digigit atau dimakan kelelawar,”Biasanya, kelelawar makannya buah untuk mencegah tidak mengkonsumsi buah yang sudah digigit oleh kelelawar,” jelasnya.
Ia juga menyatakan, untuk antispasi virus Nipah menginspeksi ternak babi, pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas Pertanian di Bali. Kendati, saat ini di Indonesia belum ditemukan virus Nipah ada di hewan babi.
“Itu sudah ada penelitian sebelumnya. Jadi tentu ini yang tetap kita amankan. Tentu kami juga berkoordinasi dengan Dinas Pertanian untuk kewaspadaan terhadap Nipah di hewannya. Jadi koordinasinya sudah sangat sering seperti rabies, itu kan kita tetap berkoordinasi, flu burung juga kita berkoordinasi. Jadi ini tentu bukan suatu hal yang baru dalam bentuk koordinasi,” ujarnya.
“Kami di kesehatan tentu mengimbau masyarakat salah satunya tidak mengkonsumsi daging tidak matang, mencuci tangan. Peternak babi, tetap menggunakan APD (alat pelindung diri) rajin mencuci tangan. Kalau misalnya bergejala demam atau flu, tetap segera ke fasilitas pelayanan kesehatan,” jelasnya.
Dinkes Bali tetap meningkatkan kewaspadaan mengingat Bali merupakan produsen babi terbesar di Indonesia.
“Virus Nipah ini ada di air liur kelelawar, kalau dia misalnya makan buah air liurnya di situ, kemudian sisanya kita atau binatang seperti babi yang konsumsi jadi bisa terinfeksi, itu yang kita harus waspadai,” ungkapnya.
Pihaknya juga memperketat masuknya virus dari lalu lintas orang melalui pengawasan Balai Besar Karantina Kesehatan (BBKK) di Bali, di bandara maupun pelabuhan. Untuk
negara paling diantisipasi adalah Malaysia, Singapura, India, Bangladesh, dan Thailand sebagai negara yang menetapkan status KLB.
Selain itu, Dinkes Bali belum menemukan kasus virus Nipah tetapi tetap memastikan terus melakukan survailans kesehatan untuk mengamati penyakit. Seluruh fasilitas kesehatan juga diyakini siap termasuk ruang isolasi, tenaga kesehatan, dan obat-obatan.
“Kalau kita lihat di Bali dengan 120 Puskesmas, masing-masing sudah ada RSUD (di setiap kabupaten dan kota). Kemudian rumah sakit swasta juga siap dengan ruang isolasi dan tenaganya, kami yakin semua siap. Saya yakin semua fasilitas kesehatan siap, karena kita sudah belajar dari Covid-19,” ujarnya.
Sebelumnya, kasus virus Nipah dilaporkan mengalami lonjakan di India. Menyikapi situasi tersebut, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) memberikan respons.
Berdasarkan pemantauan situasi global dan laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), per 23 Januari 2025 tercatat dua kasus konfirmasi dan tiga kasus suspek virus Nipah di West Bengal, India. Hingga saat ini, belum ada laporan kematian.
Sementara itu, di Indonesia belum ditemukan kasus konfirmasi penyakit virus nipah.
“Hingga saat ini belum dilaporkan adanya kasus konfirmasi penyakit virus nipah di Indonesia,” seperti dikutip dari keterangan yang dibagikan Juru Bicara Kemenkes, Widyawati pada Selasa,( 27/1). (kanalbali


