Film Puputan Badung 1906 Diputar di Lapangan I Gusti Ngurah Made Agung

Film Puputan Badung 1906 Diputar -IST
Film Puputan Badung 1906 Diputar -IST

Dokudrama Karya Jayagiri Production Libatkan Ratusan Pemain, Digodok Enam Bulan

DENPASAR, kanalbali.id – Memperingati 120 tahun Puputan Badung, Dinas Kebudayaan Kota Denpasar memproduksi film dokudrama berjudul Puputan Badung 1906: Mati Tan Tumut Pejah.

Film berdurasi 50 menit tersebut mengangkat rekonstruksi sejarah perjuangan rakyat Badung melawan kolonial Belanda dan dijadwalkan diputar perdana pada Minggu (20/9) pukul 19.00 Wita di Lapangan I Gusti Ngurah Made Agung, Denpasar.

Film yang disutradarai I Gusti Made Aryadi dan digarap secara kolosal ini melibatkan ratusan pemain. Selain menjadi tontonan sejarah, film tersebut diproyeksikan sebagai arsip digital perjalanan kisah Puputan Badung bagi generasi penerus.

Produser Jayagiri Production, I Gusti Ngurah Murthana alias Rahman, mengatakan proses penggarapan film dilakukan melalui tahapan riset hingga produksi selama sekitar enam bulan. Film sebenarnya telah rampung beberapa bulan lalu, namun penayangan perdana menunggu momentum yang tepat.

“Dari tahap riset hingga film selesai digarap, prosesnya memakan waktu sekitar enam bulan. Film ini sebenarnya sudah rampung beberapa bulan lalu, tetapi kami menunggu momen yang paling tepat untuk penayangan perdananya,” ujar Rahman,

Menurut Rahman, film tersebut didanai dan diproduksi langsung Dinas Kebudayaan Kota Denpasar. Sementara Jayagiri Production bertindak sebagai rumah produksi yang menyiapkan pemain, kru film, kostum, property, kebutuhan teknis perfilman lainnya.

Lokasi pemutaran perdana dipilih di Lapangan I Gusti Ngurah Made Agung karena memiliki keterkaitan erat dengan sejarah Puputan Badung 1906.
Rahman menjelaskan, Mati Tan Tumut Pejah merupakan rekonstruksi sejarah yang disusun berdasarkan penelusuran berbagai sumber tertulis dan lisan. Tim produksi menggali informasi dari sejumlah pihak yang memiliki keterkaitan dengan sejarah Puputan Badung.

Film Puputan Badung 1906 Diputar -IST
Film Puputan Badung 1906 Diputar -IST

Dalam proses riset, pihaknya mewawancarai Penglingsir Puri Agung Denpasar, Penglingsir Puri Agung Pemecutan, Penglingsir Puri Agung Kesiman, Ahli Sejarah hingga tokoh seni Marmar Herayukti.

“Ini merupakan sebuah rekonstruksi dari peristiwa sejarah yang didapat dari penelusuran berbagai sumber, baik tertulis maupun lisan, yang dapat dipertanggungjawabkan,” jelasnya.

Film ini menghadirkan sejumlah tokoh utama dalam sejarah Puputan Badung, di antaranya Raja Denpasar I Gusti Ngurah Made Agung, Raja Pemecutan, dan Raja Kesiman I Gusti Ngurah Mayun.

Dari sisi produksi, Rahman menyebut film digarap secara kolosal dengan melibatkan ratusan pemain. Pemeran berasal dari kalangan seniman lokal hingga sejumlah warga asing, mengingat cerita film juga berkaitan dengan pihak Belanda.

Pengambilan gambar dilakukan di sejumlah lokasi di Bali, antara lain Puri Kesiman, Puri Jro Kuta, Puri Klungkung, Bali Heritage Hotel, Pantai Saba, Pering Gianyar, Tukad Unda, Desa Negari Klungkung, serta sejumlah sudut Kota Denpasar.

Produksi film melibatkan kru profesional dengan dukungan peralatan perfilman, seperti kamera sinema, tata cahaya, tata suara, dan penataan rias lokal. Untuk ilustrasi musik, Jayagiri Production menggandeng salah satu komposer Kota Denpasar, Ary Palawara.

Penggarapan film juga memanfaatkan properti kuda serta teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) pada beberapa bagian.

Rahman berharap film ini tidak hanya menjadi tontonan dalam rangkaian peringatan 120 tahun Puputan Badung, tetapi juga menjadi media edukasi sejarah bagi masyarakat, khususnya generasi muda.

“Sesuai dengan harapan Pemerintah Kota Denpasar, melalui produksi film ini, Dinas Kebudayaan Kota Denpasar kini memiliki arsip dokumen digital tentang perjalanan kisah Perang Puputan Badung,” ungkapnya.

Dia menambahkan, penyajian sejarah melalui media visual penting agar kisah perjuangan leluhur tetap dikenal dan tidak dilupakan generasi penerus.
“Edukasi sejarah sangat penting disuguhkan melalui media visual seperti film agar masyarakat luas, khususnya generasi muda, tidak melupakan sejarah bangsa,” pungkas Rahman. (kanalbali/RLS/RFH)

Apa Komentar Anda?