GIANYAR, kanalbali.id – Upaya mendorong praktik peternakan ayam petelur yang lebih beretika dan berkelanjutan di Bali kembali dilanjutkan.
Kali ini melalui Sarasehan Peternak dengan fokus bahasan terkait Penerapan Kesejahteraan Hewan dan Pengelolaan Peternakan Ayam Petelur Bebas Sangkar (Cage-Free) yang diselenggarakan oleh Animals Don’t Speak Human (ADSH).
Kegiatan ini berlangsung pada Kamis, 19 Februari 2026, di RV Hotel Kutus-Kutus, Gianyar, Bali.
Sarasehan ini merupakan pertemuan lanjutan yang mempertemukan peternak ayam petelur konvensional dari berbagai kabupaten di Bali, perwakilan pemerintah daerah, asosiasi peternak, serta pelaku industri hotel, restoran, dan kafe (HORECA).
Kegiatan ini menjadi ruang dialog terbuka untuk memperdalam pembahasan mengenai tantangan teknis, dukungan kebijakan, serta peluang pasar dalam transisi menuju sistem peternakan ayam petelur bebas sangkar (cage-free).
Dalam kegiatan ini, peserta mendapatkan pemaparan mengenai prinsip dasar kesejahteraan hewan, perbandingan sistem kandang baterai konvensional dan sistem bebas sangkar, serta langkah awal transisi yang mencakup manajemen pakan, biosekuriti, kesehatan ayam, dan pengelolaan lingkungan kandang.
“Sarasehan ini bertujuan memberi pemahaman praktis kepada peternak konvensional tentang prinsip kesejahteraan hewan, dasar hukum yang sudah berlaku, serta peluang transisi ke sistem cage-free sebagai pasar bernilai tambah,” ujar Abiel Syaputra selaku panitia acara.
Sarasehan ini juga menghadirkan perspektif pasar melalui perwakilan sektor HORECA yang memaparkan kebutuhan telur cage-free dalam rantai pasok industri perhotelan dan kuliner di Bali.
“Dialog antara pelaku HORECA dan peternak membuka ruang kolaborasi yang lebih kuat, juga menghubungkan kebutuhan pasar wisata global dengan praktik produksi yang beretika dan berkelanjutan,” tutur Wayan Kusuma Yasa selaku perwakilan dari Pullman Bali Legian Beach.
Selain itu, peternak ayam petelur yang telah menerapkan sistem bebas sangkar berbagi pengalaman mengenai proses transisi, tantangan teknis, proses sertifikasi, hingga perbandingan pengeluaran dan pemasukan sebelum dan sesudah beralih ke sistem cage-free. Diskusi panel dan sesi tanya jawab memberikan ruang bagi peternak konvensional untuk menyampaikan kebutuhan dukungan serta kesiapan mereka dalam mengikuti program lanjutan terkait sistem bebas sangkar.
Sebagai wilayah dengan industri pariwisata yang kuat, Bali dinilai memiliki peluang besar untuk memperkuat rantai pasok telur bebas sangkar (cage-free), terutama untuk memenuhi kebutuhan hotel, resort, dan restoran yang mengedepankan standar keberlanjutan global.
“Praktik peternakan ramah hewan di Bali harus selaras dengan regulasi dan komitmen kesejahteraan hewan. Implementasi 5 Freedom dan 5 Domain menjadi fondasi untuk memastikan produksi berkualitas tanpa mengorbankan kesejahteraan hewan diternak.” ujar Drh. Ni Ketut Aryani Parmeti selaku bagian dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Prov Bali bagian Kapokja Kesejahteraan Hewan
Ke depan, kolaborasi multipihak diharapkan dapat mempercepat adopsi sistem peternakan yang lebih berkelanjutan, meningkatkan kesejahteraan ayam petelur, serta memperkuat daya saing produk telur lokal Bali di tengah tuntutan pasar global yang semakin berorientasi pada etika dan keberlanjutan produksi pangan. (kanalbali/ADV)


