Hindari Second Wave, New Normal Perlu Persiapan Matang

Para pembicara dan peserta saat pelaksanaan webinar - IST

Adanya rencana melakukan relaksasi atau pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di sejumlah daerah ditanggapi dengan kewaspadaan oleh sejumlah pihak. Prof. Rachmat Witoelar, sebagai penasehat Collaborative Australia-Indonesia Programs on Sustainable Development and Climate Change (CAIPSDCC) menyatakan, kesehatan masyarakat harus dipastikan sebelum langkah yang disebut-sebuat sebagai era “New Normal’ itu.

“Pemerintah perlu ikuti arahan WHO dengan menjadikannya kebijakan dan mengkomunikasikannya. Keduanya perlu dilaksanakan secara konsisten,” tegasnya saat membuka webinar dengan teman “COVID-19: Kapankah waktu yang aman untuk relaksasi PSBB?”, Kamis (28/5/2020).

Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta yang diwakili oleh dr Lies Dwi Octavia, menyatakan bahwa saat ini Pemprov sedang dalam proses mengkaji rencana relaksasi PSBB dengan mengacu pada kriteria WHO, meliputi kriteria epidemiologi, kriteria sistem kesehatan, dan kriteria sistem pengawasan kesehatan.

Salah satu upaya yaitu pengetesan secara agresif. Bekerja sama dengan 36 laboratorium di Jakarta, bisa diperoleh hasil pengetesan hingga 4000 per hari dengan waktu tunggu pemeriksaan spesimen diperpendek jadi 2-3 hari, dan akan terus dikembangkan agar bisa 24 jam.

Iwan Ariawan MS dari Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia menambahkan analisis data dari Google Mobility. Pada bulan April, kebijakan pembatasan sosial berhasil mendorong masyarakat tetap di rumah. Melihat kasus Jakarta, ketika jumlah orang yang tinggal di rumah mencapai 60%, terjadi penurunan kasus baru. Reproduction number (Rt) SARS-COVID-19 di Jakarta bisa berada di angka 1 ketika 61% penduduk mematuhi imbauan stay at home. Pada skala nasional, angka ideal lebih kecil yaitu 49% mengingat tingkat kepadatan penduduk di bawah Jakarta. Namun, saat ini, masih di angka 46%.

Idealnya Rt perlu ditekan di bawah angka satu. Artinya, tiap 1 orang terinfeksi menularkan ke 1 orang lain. Dengan angka di bawah satu, jumlah kasus baru akan mengalami penurunan. Di Jakarta sendiri, angka Rt pernah mencapai angka di bawah 1 yang menunjukan epidemi telah terkontrol, dibanding angka Rt nasional yang berada di kisaran 1,2. Namun saat banyak orang yang kembali keluar rumah, angka Rt kembali meningkat di atas 1 terutama sebelum dan ketika bulan Ramadan, dimana banyak penduduk keluar rumah.

Pembatasan sosial dan stay at home jelas mendukung penanggulangan COVID-19 dengan mengurangi penyebaran infeksi. Semakin banyak orang yang tinggal di rumah, angka Rt akan semakin turun. Ketika angka Rt sudah stabil di bawah 1 selama 14 hari, barulah bisa bergerak menuju relaksasi PSBB. Indonesia perlu bersabar sedikit lagi.

Sementara Dicky Budiman dari Centre for Environment and Population Health (CEPH), Griffith University menyatakan bahwa penanganan pandemi senantiasa menggunakan strategi testing, tracing, treating, isolate. Lockdown/PSBB/Karantina Wilayah, serta physical dan social distancing merupakan strategi pendukung saja. Ketika kebijakan ini diambil, testing, tracing, treating, dan isolate harus tetap dijalankan bahkan ditingkatkan. “Ketika kita lengah dalam upaya pencegahan, ada ancaman terjadi kasus puncak kedua, dan bahkan ketiga. Kebiasaan atau behaviour masyarakat memegang kunci penting dalam penanganan pandemi,” tegasnya.

Menurutnya, ‘New Normal’ dapat dilihat pada level komunitas/individu dan institusi. Pada level individu, upaya edukasi harus dilakukan segera. Pada level institusi, selain edukasi, pelaksanaanya harus dilakukan spesifik per bidang, mempertimbangkan banyak hal dan disiapkan secara komprehensif, melibatkan para ahli dari berbagai bidang. New normal bukanlah sekedar PSBB yang ditiadakan, melainkan perilaku sehari-hari baru yang harus diadopsi oleh masyarakat demi menghadapi COVID-19 yang masih ada di sekitar kita, sementara kita belum memiliki obat yang definitif maupun vaksin untuk menanganinya. ( kanalbali/RLS )