Isu Pasti Berlalu

Ilustrasi pengguna media sosial. (Foto: Lina Bob/Unsplash)
Ilustrasi pengguna media sosial. (Foto: Lina Bob/Unsplash)
  • Media Sosial kini menjadi ajang kemunculan berbagai isu dari yang pribadi hingga sosial
  • Setiap isu dengan cepat berkembang biak untuk kemudian layu dan dilupakan tanpa meninggalkan pengetahuan yang mendalam
  • Eksistensi seseorang pada akhirnya ditentukan oleh konsistensi dan ketekunan pada satu hal yang bukan sekedar isu

Oleh Angga Wijaya*

SETIAP kali membuka media sosial, saya sering merasa seperti masuk ke sebuah ruangan yang pembicaraannya tidak pernah selesai. Baru saja seseorang sedang ramai dibicarakan, beberapa menit kemudian muncul persoalan lain. Orang-orang berpindah dari satu isu ke isu berikutnya dengan kecepatan yang kadang membuat saya bertanya; sebenarnya kita sedang mengikuti sebuah persoalan atau hanya mengikuti keramaiannya?

Pagi ini sebuah isu menjadi pembicaraan. Siang hari isu itu mungkin masih ramai. Sore muncul isu lain. Malam hari perhatian orang sudah berpindah. Besok pagi, sesuatu yang kemarin terasa sangat penting bisa saja sudah hampir tidak terdengar lagi.

Isu pasti berlalu. Kalimat itu terdengar seperti variasi dari ungkapan “semua pasti berlalu”. Tetapi di media sosial, ia memiliki makna yang sedikit berbeda. Sebuah isu tidak selalu berlalu karena masalahnya selesai. Ia berlalu karena perhatian kita telah dipindahkan kepada sesuatu yang baru.

Barangkali inilah salah satu perubahan terbesar dalam kehidupan informasi kita. Dulu sebuah persoalan membutuhkan waktu untuk menjadi pembicaraan. Koran terbit pada pagi hari, radio dan televisi mempunyai jadwal, orang bertemu di warung, kantor, sekolah, kampus, atau rumah untuk membicarakannya.

Ada jeda antara sebuah informasi dan informasi berikutnya. Jeda itu mungkin membuat kita punya kesempatan untuk berpikir. Sekarang jeda tersebut semakin pendek. Kita hidup dalam arus informasi yang tidak mengenal waktu istirahat. Bahkan ketika kita tidak sedang mencari berita, berita, video, komentar, meme, potongan percakapan dan berbagai macam informasi datang sendiri ke hadapan kita. Kita hanya perlu membuka layar. Sesuatu sudah menunggu di sana.

Persoalannya bukan semata-mata karena informasi terlalu banyak. Persoalan yang lebih besar adalah kita semakin sedikit memiliki waktu untuk mencerna informasi tersebut.

Kita tahu banyak hal, tetapi belum tentu memahami banyak hal. Sebuah isu bisa membuat kita marah hanya karena melihat sebuah potongan video. Kita membaca judul, melihat komentar, lalu segera mengambil posisi. Kita membagikan informasi sebelum mengetahui seluruh persoalannya. Kita ikut berbicara karena orang lain sedang berbicara.

Setelah itu datang isu berikutnya. Kita berpindah. Algoritma media sosial bekerja dengan perhatian. Ia membaca apa yang membuat kita berhenti, apa yang kita klik, apa yang kita sukai, apa yang kita bagikan, apa yang membuat kita berkomentar. Dari perilaku itu, algoritma belajar tentang kita. Kemudian ia menyodorkan lebih banyak hal yang kemungkinan besar akan membuat kita tetap berada di depan layar.

Di sinilah hubungan manusia dan algoritma menjadi menarik. Algoritma sebenarnya tidak sepenuhnya menciptakan apa yang kita lihat. Ia belajar dari apa yang kita lakukan. Tetapi setelah mempelajarinya, ia ikut menentukan apa yang akan kita lihat berikutnya.

Kita membentuk algoritma, lalu algoritma perlahan membentuk kita. Jika kita menyukai konflik, konflik akan lebih sering datang. Jika kita tertarik pada gosip, gosip akan memenuhi layar. Jika kemarahan membuat kita terus menonton, kemarahan menjadi sesuatu yang bernilai bagi sistem perhatian tersebut.

Pada titik tertentu, isu sosial yang rumit dapat berubah menjadi semacam barang konsumsi. Kita mengonsumsinya, memberikan reaksi, lalu berpindah kepada isu lain.

Padahal persoalan manusia tidak sesederhana konten yang lewat di layar. Kemiskinan tidak selesai karena sebuah video tentang kemiskinan menjadi viral. Korupsi tidak selesai setelah masyarakat ramai mengecam seorang pejabat. Kekerasan tidak berhenti karena satu unggahan mendapatkan jutaan tayangan. Diskriminasi tidak hilang setelah sebuah tagar menjadi trending topic.

Sebuah masalah membutuhkan waktu untuk dipahami. Sementara media sosial membutuhkan sesuatu yang baru untuk mempertahankan perhatian.

Di sinilah saya melihat sebuah ketegangan. Informasi bergerak dengan kecepatan algoritma, sedangkan pemahaman bergerak dengan kecepatan manusia.

Kita tidak bisa memahami persoalan dengan kecepatan yang sama ketika kita menggulir layar. Berpikir membutuhkan jeda. Membaca membutuhkan kesabaran. Memahami sesuatu kadang membutuhkan kesediaan untuk mengakui bahwa pendapat pertama kita mungkin keliru. Kita perlu mendengar penjelasan lain, membaca sumber berbeda, mempertimbangkan konteks, bahkan diam sebentar.

Tetapi lingkungan media sosial sering mendorong hal sebaliknya, yakni bereaksi segera. Like, bagikan, komentar, repost. Seolah-olah setiap informasi menuntut tanggapan kita.

Barangkali karena itulah kita mengalami sesuatu yang agak aneh, yakni, kemarahan menjadi cepat, tetapi juga cepat habis. Hari ini kita marah kepada seseorang. Besok kita marah kepada orang lain. Lusa ada persoalan baru yang membuat kita kembali marah. Kemarahan yang kemarin belum sempat menjadi pemikiran sudah digantikan oleh kemarahan berikutnya.

Bukan berarti semua kemarahan di media sosial palsu. Banyak orang benar-benar marah karena melihat ketidakadilan. Banyak pula gerakan sosial yang mendapatkan energi dari media sosial. Tetapi kita perlu menyadari bahwa perhatian publik memiliki umur yang semakin pendek.

Ketika perhatian berpindah, tekanan publik pun bisa ikut berpindah. Akibatnya, masyarakat digital mungkin tidak kekurangan ingatan karena manusia tiba-tiba menjadi pelupa. Kita mungkin mengalami bentuk pelupaan yang lain; perhatian kita terus-menerus dipindahkan sebelum sebuah persoalan sempat menetap cukup lama dalam ingatan.

Kemarin kita begitu yakin sebuah kasus penting. Hari ini hampir tidak ada yang membicarakannya. Bukan karena masalahnya selesai. Hanya karena ada masalah baru. Di tengah keadaan seperti ini, mungkin pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan lagi “mengapa media sosial begitu ramai?”, melainkan “siapa yang menentukan apa yang layak mendapatkan perhatian kita?”

Sebab perhatian bukan sesuatu yang tidak berharga. Apa yang kita perhatikan dalam waktu lama pada akhirnya ikut menentukan apa yang kita anggap penting.

Jika setiap hari perhatian kita dipindahkan dari satu persoalan ke persoalan lain, kita mungkin menjadi masyarakat yang sangat terinformasi tetapi kurang memiliki kedalaman.

Kita mengetahui banyak judul, tetapi tidak selalu memahami cerita di baliknya. Kita mengenal banyak nama, tetapi tidak selalu mengetahui persoalan yang membuat nama-nama itu muncul.

Kita mempunyai banyak pendapat, tetapi semakin jarang mempunyai waktu untuk menguji pendapat tersebut. Mungkin perlawanan terhadap keadaan ini tidak harus berupa meninggalkan media sosial. Kita juga tidak mungkin meminta dunia berhenti memberikan informasi. Yang mungkin kita lakukan jauh lebih sederhana, yaitu, sesekali menolak untuk segera berpindah.

Tinggal sedikit lebih lama bersama sebuah persoalan. Membaca sampai selesai, mencari konteks, tidak buru-buru berkomentar, dan membiarkan sebuah pertanyaan mengendap di kepala.

Barangkali dalam zaman ketika algoritma berlomba-lomba merebut perhatian kita, kemampuan untuk bertahan pada satu hal justru menjadi bentuk kebebasan kecil.

Sebab isu memang pasti berlalu. Tetapi jangan sampai kita ikut berlalu begitu cepat sehingga tidak pernah sempat memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi. Dan jangan sampai, pada akhirnya, yang paling cepat berlalu bukan hanya isu, melainkan juga kemampuan kita untuk berpikir tentangnya. ***

*) I Ketut Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair. Sejak 2018 ia telah menulis 20 buku, kumpulan puisi dan buku kumpulan esai.

 

Apa Komentar Anda?