SASTRAWAN Oka Rusmini kembali mengguncang lanskap sastra Indonesia melalui karya terbarunya, Kembang (Gramedia Pustaka Utama, 2026). Buku ini menandai fase pendewasaan estetik sekaligus politis bagi penulis yang selama empat dekade konsisten membongkar konstruksi adat dan patriarki.
Kali ini, Oka tidak lagi melontarkan kritik secara lantang, melainkan “berbisik” di dapur dan lorong sejarah, menggali jasad ingatan perempuan yang terkubur oleh kuasa politik, agama, dan tradisi.
Mirna Yulistianti, editor senior Gramedia Pustaka Utama, menilai karya ini sebagai sebuah pencapaian yang sangat arsitektural. Menurutnya, Oka memperlakukan teks layaknya bangunan presisi yang dirancang dengan tata ruang bahasa efisien, fondasi mitologi-budaya yang kukuh, serta struktur elemen yang saling mengunci secara fungsion
Alih-alih mengandalkan luapan emosi yang cair, Oka menyusun puisi melalui konstruksi rigid dan terukur. Setiap kata berfungsi sebagai pilar atau sekat untuk menciptakan ruang politis yang tajam.
Dengan presisi matematis, Oka tidak sekadar merangkai baris, tetapi mendesain bangunan makna yang stabil, berkarakter, dan memiliki beban naratif yang mendalam bagi pengungkapan pengalaman perempuan penyintas peristiwa 1965.
Dari Gugatan Sosial ke Pengarsipan Ingatan
Jika karya-karya terdahulu bertumpu pada konflik terbuka dan pemberontakan terhadap adat serta norma sosial—Monolog Pohon (1997), Tarian Bumi (2000), Sagra (2001), Kenanga (2003), Patiwangi (2003), Warna Kita (2007), Pandora (2008), Tempurung (2010), Akar Pule (2012), Saiban (2014), Men Coblong (2019), Koplak (2019), dan Jerum (2020)—Kembang mengambil jalan yang lebih sunyi.
Buku ini adalah hasil dari proses “ekshumasi” atau penggalian kembali trauma sejarah, khususnya tragedi 1965, yang diendapkan dalam tubuh perempuan. Oka memandang sejarah Indonesia sebagai ruang patriarkis tempat pengalaman perempuan sering kali dihilangkan dari catatan.
Melalui pendekatan mikrosejarah (microhistory) yang intim, Oka menjahit fragmen keseharian para penyintas—Kaminah dan Kusdalini—menjadi narasi puitis yang viseral.
Proses kreatif Kembang dipicu oleh perjumpaan emosional Oka dengan film dokumenter You and I (2020) karya Fanny Chotimah.
Film tersebut merekam keseharian Kusdalini (1943–2017) dan Kaminah (1947–2018), dua perempuan penyintas 1965 yang menua bersama dalam kesahajaan di Solo.
Keintiman mereka, ditambah dorongan dari dokumenter A Secret Love karya Chris Bolan, buku foto Pemenang Kehidupan karya Adrian Mulya dan Lilik HS, serta berbagai literatur akademik, mendorong Oka membedah sisi retak sejarah tersebut. Oka mengakui bahwa penulisan buku ini merupakan ziarah intelektual yang menguras batin.
Berbeda dengan penyintas laki-laki yang umumnya mengalami represi politik dan fisik, perempuan penyintas menghadapi trauma berlapis: penyiksaan fisik sekaligus kekerasan seksual.
Bagi mereka, membicarakan 1965 berarti membangkitkan kembali ingatan tentang penghancuran martabat. Beban moralitas yang dikonstruksi masyarakat memaksa mereka bergeser ke ranah domestik.
\Memastikan anak-anak dan keluarga mendapatkan pendidikan serta identitas yang “aman” dari stigma adalah bentuk politik bertahan hidup yang paling nyata. Diam menjadi perisai agar publik tidak kembali menguliti kehidupan yang susah payah mereka bangun.
“Menulis Kembang bukan lagi sekadar urusan estetika. Saya harus menyatukan param, usia tua, tubuh yang rapuh, kesepian, kerupuk, param dan soto dengan tato arit serta jeruji. Saya tidak hanya menggugat budaya yang kasatmata, tetapi juga menggugat keheningan negara atas trauma sejarah,” ungkap Oka.
Estetika “Mistisisme-Domestik” dan Strategi Bentuk
Secara estetik, Kembang menawarkan langgam baru yang dinamai Oka sebagai “Mistisisme-Domestik”. Gaya ini mengawinkan diksi arkaik yang magis, peribahasa usang, dan rima berakhiran digraf /ng/ dengan realitas ruang domestik yang amis sekaligus brutal.
Oka secara sadar membenturkan keindahan bunga (kenanga, melati, mawar) dengan anyir darah, bau ompol, kesepian, aroma soto panas, kerupuk, param, dan tubuh yang mulai sakit-sakitan. Peleburan ini sengaja dirancang untuk memicu guncangan batin antara wangi keindahan dan maut.
Sebagai strategi dekonstruktif untuk menghancurkan logosentrisme dan hierarki bahasa, Oka menggunakan tipografi huruf nonkapital (all-lowercase) secara menyeluruh. Keputusan ini bukan sekadar gaya visual, melainkan taktik untuk memberikan ruang bagi aliran kesadaran (stream of consciousness) yang jujur, telanjang, dan demokratis.
Tubuh dalam Kembang diubah menjadi ekosistem makna yang menyimpan jejak sejarah. Mengingat Oka berhadapan dengan manusia nyata yang jejak kakinya masih basah dalam ingatan, strategi ini menjadi cara untuk memikul beban penderitaan penyintas agar nyawa mereka dapat berpindah secara utuh ke dalam teks.
Mengapa Berjudul “Kembang”?
Judul Kembang adalah sebuah ironi tajam. Sesuatu yang biasanya diidentikkan dengan kelembutan, di tangan Oka, bertransformasi menjadi simbol ketangguhan. Kembang adalah metafora bagi perempuan yang tetap tumbuh dan merekah di atas retakan sejarah yang kelam, meski dipaksa hidup dalam sunyi, stigma, dan penghapusan identitas.
Sebuah Monumen bagi Kemanusiaan
Melalui Kembang, Oka Rusmini merebut kembali kedaulatan memori yang disenyapkan, membuktikan bahwa sastra adalah instrumen keadilan. Di saat pengadilan hukum formal kerap menemui jalan buntu, buku ini menawarkan rekonsiliasi kultural—ritual penyucian sejarah yang mengembalikan martabat penyintas 1965 di masa senja mereka.
Karya ini menegaskan bahwa keberhasilan sastra diukur dari kemampuannya mengusik zona nyaman, merawat luka, dan memastikan martabat kemanusiaan tetap bernapas di atas tanah yang bergelimang trauma. (kanalbali/RLS)
Menjual Luka di Media Sosial


