KINTAMANI, kanalbaki.id – Sebagai upaya membangun masyarakat yang sigap, tanggap, dan tangguh menghadapi potensi bencana serta situasi darurat medis, Tim KKN-PPM UGM Mentari Kintamani 2026 menyelenggarakan program kerja kolaboratif bertajuk Gelis Pitulung x Sigma Lereng.
Kegiatan yang berfokus pada edukasi dan simulasi Bantuan Hidup Dasar (BHD), Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K), serta mitigasi bencana gempa bumi dan tanah longsor ini dilaksanakan pada Rabu, 15 Juli 2026, bertempat di Aula Kantor Perbekel Desa Batur Tengah.
Program strategis ini dirancang sebagai langkah responsif untuk membekali masyarakat dengan pemahaman menyeluruh mengenai prinsip-prinsip pertolongan pertama dan respon mitigasi di wilayah rawan bencana.
Kegiatan ini diikuti oleh 17 peserta pemangku kepentingan kunci desa, yang meliputi Kepala Desa Batur Tengah, Sekretaris Desa beserta jajaran Perangkat Desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Perwakilan Tim Puskesmas Kintamani I, Babinsa, Satuan Perlindungan Masyarakat (Satlinmas), Kelian Adat Banjar, serta perwakilan masyarakat Banjar Desa Batur Tengah.
Edukasi Terintegrasi dan Praktik Langsung
Pelaksanaan program mengombinasikan metode penyuluhan interaktif, demonstrasi teknis, praktik mandiri, hingga simulasi situasi darurat yang dirancang menyerupai kondisi nyata. Pada sesi awal, peserta memperoleh pembekalan mengenai identifikasi kondisi kegawatdaruratan, penanganan awal korban kecelakaan, penerapan prinsip keselamatan bagi penolong (safe scene), serta pentingnya aktivasi sistem layanan kegawatdaruratan medis secara cepat.
Pahami Keamanan Tanda Tangan Digital
Peningkatan kapasitas ini diharapkan dapat meminimalkan risiko cedera fatal, mengurangi tingkat keparahan korban, serta meningkatkan angka keselamatan sebelum bantuan medis profesional atau tim penolong tiba di lokasi kejadian.
Memasuki sesi teknis, para instruktur mendemonstrasikan prosedur P3K dan Bantuan Hidup Dasar (BHD). Peserta dilatih secara langsung melakukan penilaian awal kondisi vital korban, teknik pembukaan jalan napas yang aman, hingga tindakan resusitasi jantung paru (RJP) sesuai standar prosedur operasional.
Simulasi Kebencanaan Gempa Bumi dan Tanah Longsor
Sebagai puncaknya, peserta terlibat aktif dalam simulasi kesiapsiagaan menghadapi bencana gempa bumi dan tanah longsor. Melalui simulasi berbasis praktik ini, para peserta dilatih untuk mengenali ancaman bahaya secara cepat, melakukan prosedur evakuasi mandiri yang aman, memberikan pertolongan pertama pada korban terdampak, serta mengorganisasi jalur koordinasi darurat di tingkat desa.
Metode simulasi ini terbukti efektif dalam memberikan pengalaman belajar yang aplikatif serta mengasah ketajaman pengambilan keputusan di bawah tekanan, sehingga budaya kesiapsiagaan dan ketangguhan masyarakat dapat terwujud secara berkelanjutan. (kanalbali/RLS)


