BADUNG, kanalbali.id – Persoalan sampah yang kian mengganggu citra Bali sebagai destinasi pariwisata dunia mendorong Desa Tibubeneng, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung, untuk mengambil langkah konkret.
Memperingati Hari Bumi Sedunia yang jatuh pada Rabu, 22 April 2026, Desa Tibubeneng berkolaborasi dengan Ginting Institute meluncurkan program pendidikan lingkungan hidup berbasis siswa sekolah dasar, dengan fokus pada edukasi pengenalan, pemilahan dan pengolahan sampah sejak dini.
Program yang akan dijalankan mulai Juni 2026 ini merupakan hasil rapat koordinasi antara pemerintah Desa Tibubeneng bersama unsur pemuda, dan jajaran Ginting Institute dari Jakarta yang telah dilakukan pada 17 April yang lalu.
Pertemuan tersebut dihadiri Kepala Desa Tibubeneng Made Kamajaya, perwakilan pemuda Desa Tibubeneng, Dewan Pembina Ginting Institute Daniel Ginting dan Quoriena Ginting, serta Direktur Eksekutif Sisi Suhardjo beserta tim.
Kepala Desa Tibubeneng Made Kamajaya mengatakan kolaborasi ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat gerakan lingkungan yang selama ini telah dijalankan di desanya.
Buleleng Jadi Percontohan Gerakan Menanam untuk Ketahanan Pangan Berbasis Sekolah di Bali
“Kami menyambut baik dukungan yang sangat menginspirasi ini. Program pendidikan peduli sampah bagi siswa SD menjadi upaya penting untuk menanamkan kesadaran sejak dini,” ujarnya, Rabu 22 April 2026.
Made Kamajaya menjelaskan selama ini Desa Tibubeneng telah menjalankan berbagai program terpadu, mulai dari aksi bersih pantai (beach clean up), pengawasan dan pemilahan sampah di tingkat banjar, hingga pendekatan langsung kepada masyarakat dalam membangun kesadaran lingkungan.
Melalui kerja sama ini, Ginting Institute akan menyediakan materi ajar sekaligus pelatihan bagi para pengajar yang melibatkan sekaa teruna-teruni (STT) dan karang taruna.
Dia ingin program ini melahirkan kader-kader lingkungan hidup yang mampu menyebarluaskan edukasi pengelolaan sampah secara berkelanjutan.
Made Kamajaya menyebut persoalan sampah sejatinya dapat ditekan jika dimulai dari tingkat rumah tangga. “Jika sampah bisa diselesaikan dari rumah sendiri, dampaknya akan besar, tidak hanya bagi keluarga tetapi juga lingkungan sekitar,” katanya.
Dia pun berharap kehadiran Ginting Institute melalui Wija Reksa Art Hub & Residency di Tibubeneng diharapkan menjadi wadah kreatif bagi masyarakat, sekaligus membuka kolaborasi dengan insan kreatif di tingkat nasional dan internasional.
Dewan Pembina sekaligus pendiri Ginting Institute, Daniel Ginting, menilai pendidikan lingkungan di sekolah dasar penting untuk membentuk etika kebersihan dan menanamkan kesadaran sejak dini sebagai dasar perilaku jangka panjang.
“Memperkenalkan isu sampah kepada anak-anak adalah strategi mendasar untuk membangun kebiasaan dan nilai yang akan menciptakan komunitas lebih sehat dan sistem pengelolaan sampah yang tangguh,” jelasnya.
Menurut Daniel, pemahaman sejak dini akan mendorong anak tidak membuang sampah sembarangan, menjaga lingkungan, dan menghargai ruang bersama sebagai bagian dari tanggung jawab sosial.
Dalam implementasinya, siswa akan diajak memahami jenis-jenis sampah, dampaknya terhadap lingkungan dan kesehatan, serta praktik pengelolaan berbasis prinsip 4R: reduce, reuse, recycle, dan replace/refuse. Materi dikemas dalam buku interaktif berisi cerita bergambar menarik, permainan edukatif, hingga aktivitas praktis yang dapat diterapkan di rumah maupun sekolah.
Menariknya, program ini mengintegrasikan pendekatan seni sebagai media edukasi. Seniman Made Bayak, yang dikenal dengan plastikologinya, akan terlibat melalui praktik pengolahan limbah plastik menjadi karya seni. Sedangkan kartunis Jango Pramartha bersama Bog Komunikartun akan memberikan workshop visual berbasis kartun.
Hasil karya para peserta nantinya akan dikurasi dan dipamerkan di sejumlah ruang kreatif, termasuk di Wija Reksa Art Hub & Residency. Inisiatif ini sekaligus memperkuat posisi desa sebagai ruang kolaborasi kreatif yang melibatkan pelaku seni lokal, nasional, hingga internasional.
Dengan pendekatan edukasi dan kolaborasi lintas sektor, Desa Tibubeneng berharap program ini mampu menjadi model pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang berkelanjutan, sekaligus menjaga citra Bali di mata dunia. ( kanalbali/RLS )


