DENPASAR, kanalbali.id – Konser bertajuk “Satu Cinta untuk Semua: Merayakan Kesetaraan dalam Keberagaman” yang diselenggarakan Sunar Sanggita Music sukses berlangsung sukses pada Sabtu, 28 Maret 2026, di Amphitheater Living World Denpasar.
Konser ini menampilkan 35 siswa dari berbagai latar belakang, baik penyandang disabilitas maupun non-disabilitas, yang berkolaborasi dengan para pengajar tunanetra dalam penampilan yang indah dan menginspirasi.
Lebih dari 200 peserta, termasuk kolaborator dan panitia, turut meramaikan acara yang mengangkat tema kesetaraan dan toleransi.
I Made Prasetya Wiguna Mahayasa, pendiri Sunar Sanggita Music yang merupakan penyandang disabilitas ganda tunanetra dan tuli, mengungkapkan apresiasi mendalam atas dukungan Living World Denpasar.
Wiguna menjelaskan latar belakang penyelenggaraan konser ini berawal dari kekaguman terhadap keragaman Indonesia.
“Di bulan Maret terdapat banyak perayaan besar keagamaan, namun masyarakat tetap menanamkan budaya toleransi antara umat beragama. Kami ingin membuktikan bahwa penyandang disabilitas juga bisa membuat acara yang mempererat persatuan,” katanya.
Konser ini bukan sekadar penampilan seni, melainkan pernyataan bahwa penyandang disabilitas dapat menjadi subjek perubahan. “Ke depannya, saya ingin penyandang disabilitas tidak hanya dilihat sebagai objek, tetapi juga sebagai subjek perubahan yang dapat menginisiasi dan menginspirasi berbagai kegiatan,” tegas Wiguna.
Salah satu momen puncak acara adalah seremonial doa bersama untuk perdamaian dunia. Ratusan flash kamera telepon genggam menyala bersamaan di tribun amphitheater sebagai simbol persatuan dalam cahaya.
Momen ini dipimpin perwakilan berbagai organisasi lintas agama dan komunitas, menegaskan pesan kesetaraan dalam keberagaman.
Acara juga menghadirkan talkshow interaktif bertajuk “Cara Berinteraksi dengan Penyandang Disabilitas” yang dibawakan oleh dua narasumber kompeten.
Elo Kusuma Alfred Mandeville, peneliti di Australia Indonesia Disability Research and Advocacy Network (AIDRAN), memberikan tips berinteraksi dengan penyandang disabilitas fisik. Sementara itu, Wiguna turut berpartisipasi mengisi materi tentang berinteraksi dengan penyandang disabilitas tunanetra dan tuli.
Talkshow ini memberikan wawasan praktis bagi audiens tentang cara yang tepat dan penuh empati dalam berinteraksi dengan penyandang disabilitas, memperkuat misi acara dalam membangun masyarakat yang lebih inklusif.
Manajemen Living World Denpasar menyambut antusias penyelenggaraan konser ini. Pusat perbelanjaan yang dikenal aktif mengadakan acara inklusif ini menegaskan komitmennya mendukung kegiatan komunitas penyandang disabilitas. Dukungan penuh diberikan untuk memfasilitasi sekolah musik yang didirikan penyandang disabilitas, yang memberdayakan tunanetra sebagai pengajar dan melibatkan anak-anak non-disabilitas dalam kolaborasi yang harmonis.
Sunar Sanggita Music didirikan Wiguna setelah mengalami penurunan pendengaran yang memaksanya beralih dari pemain band menjadi pengajar musik. “Saya memutuskan mencoba mengajar musik sambil melihat potensi luar biasa musik untuk perkembangan berkelanjutan anak-anak,” kenangnya.
Sekolah musik ini tidak hanya memberdayakan ekonomi pengajar tunanetra, tetapi juga mengadvokasi inklusi dan mencerdaskan anak-anak Indonesia. “Kami bisa mengalihkan aktivitas anak-anak kepada hal positif. Pembelajaran musik memiliki keberlanjutan tinggi sehingga kami terus berinteraksi, memberikan motivasi, dan teman-teman tunanetra mendapatkan penghidupan dari proses ini,” jelasnya.
Meski tunanetra, Wiguna berkomitmen memberikan tampilan yang merata bagi semua audiens. “Meskipun kami tidak melihat, kami juga memikirkan aspek visual agar penampilan dapat dinikmati semua orang,” ujarnya.
Prestasi siswa tidak hanya diukur dari piala atau penghargaan. Banyak orang tua melaporkan rasa sosial anak meningkat, kepercayaan diri bertambah, dan lebih mudah mengingat pembelajaran di sekolah. Beberapa siswa meraih juara vokal di ajang lokal dan tingkat kecamatan.
Konser “Satu Cinta untuk Semua” direncanakan menjadi acara rutin. “Meskipun sekolah musik yang didirikan disabilitas, kami ingin memberikan kualitas yang sama, termasuk penampilan di berbagai tempat,” pungkas Wiguna. ( kanalbali/RLS )


