DENPASAR, kanalbali.id – Peta kontestasi menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) 2026 mulai cair dan bergeser ke arah yang lebih progresif. Arus angin segar kini bertiup kencang dari kawasan Indonesia Timur.
Dukungan kuat mulai mengristal kepada sosok Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, untuk memimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026–2031.
Sejumlah tokoh dan kader akar rumput di wilayah ini melihat momentum Muktamar 2026 sebagai titik balik penting untuk pemerataan pembangunan organisasi.
Salah seorang Wakil Ketua PWNU Bali Syamsul Hadi, menilai, sosok Nasaruddin Umar sudah saatnya menakhodai ormas terbesar di republik ini.
”Kapasitas keulamaan dan kapabelitas mengelola organisasi serta pola komunikasinya saya rasa tak diragukan sebagai figur yang layak memimpin PBNU kedepan,” nilai Syamsul Hadi, dalam satu pesan singkat kepada media lokal Bali (1/7/2026).
Menurut Syamsul, sudah saatnya elit dan nahdliyin mengurai paradigma baru tidak mengotak-kotakkan kewilayahan dalam penjaringan figur nomor 1 di jajaran tanfidziyah NU.
Dia melihat sosok Nasaruddin bukan hanya layak, namun pantas mengemudi perjalanan PBNU lima tahun kedepan.
Sejumlah pesan kampanye pun telah beredar di kalangan nadhiyin. “NU membutuhkan energi baru, kepemimpinan yang merakyat, serta arah organisasi yang lebih visioner agar mampu menjawab tantangan masa depan,” begitu salah-satunya.
Bagi para pendukungnya, Nasaruddin Umar adalah jawaban atas kerinduan daerah terhadap sosok pemimpin yang paham betul dinamika lokal, regional, nasional dan global yang komprehensif.
Secara rekam jejak, Imam Besar Masjid Istiqlal ini memang membawa portofolio yang sulit ditandingi.
Ia adalah genetik NU tulen yang berproses dari bawah—mulai dari masa hijau di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), merawat basis di PWNU Sulawesi Selatan, hingga akhirnya menembus jajaran elite PBNU.
Kapasitas kepemimpinannya kian kokoh berkat kombinasi langka karena memiliki akar Tradisi sebagai pengasuh pesantren yang paham betul denyut nadi santri.
Ia juga adalah intelektual teknis sebagai akademisi kawakan yang pernah menakhodai posisi Wakil Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Selain itu, Nasaruddin Umar memiliki kemampuan diplomasi global karena emiliki jaringan internasional yang luas untuk menjembatani dialog keagamaan di panggung dunia.
Bahkan kini di periode kepemimpinan Presiden Prabowo – Gibran, sosok karismatik ini sedang menjabat Menteri Agama RI.
Kombinasi inilah yang dinilai mampu membawa NU melompat lebih jauh di kancah internasional tanpa sedikit pun kehilangan jangkar tradisi Ahlussunnah wal Jamaah.
Kendati gelombang dukungan dari poros Indonesia Timur terus menguat dan meluas, karpet merah menuju kursi PBNU-1 tetap harus melewati ujian konstitusi organisasi.
Bagaimanapun, keputusan akhir berada di tangan para pemilik suara sah dalam Muktamar NU 2026, yang akan bergulir sesuai mekanisme Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) organisasi.
Satu yang pasti, Muktamar kali ini bukan lagi sekadar ritual lima tahunan untuk memilih figur.
Ini adalah pertaruhan besar untuk menentukan apakah NU siap bertransformasi menjadi organisasi keagamaan yang lebih inklusif, moderat, merata secara geografis, dan semakin berdampak bagi perdamaian dunia. ( kanalbali/RLS )


