Pada pandangan pertama, karya Noor tampak sederhana. Sebuah bentuk menyerupai wadah dibangun dari lempengan-lempengan tanah liat. Permukaannya kasar, tanpa kemewahan warna maupun glasir yang mengilap. Namun kesederhanaan itu segera memunculkan kejutan visual.
Oleh Angga Wijaya
DI tengah perkembangan seni rupa kontemporer, keramik tidak lagi dipahami semata sebagai benda pakai atau hasil keterampilan tangan. Medium yang selama ribuan tahun identik dengan fungsi domestik itu kini berkembang menjadi ruang bagi gagasan, refleksi, dan pembacaan kritis atas kehidupan manusia.
Tanah liat tidak hanya dibentuk menjadi wadah, tetapi juga menjadi bahasa yang menyampaikan cara manusia memandang dirinya sendiri dan dunia yang ditinggalinya.
Perubahan cara pandang itu tampak dalam karya Membangun Kebahagiaan (2025) karya Noor Sudiyati. Dibuat menggunakan material stoneware dengan teknik slab dan pinching, karya berukuran 27 × 28 × 30 sentimeter ini dipamerkan dalam Multiframe #6: Transcending Boundaries di Jogja Gallery, Yogyakarta.
Pameran tersebut mengangkat tema tentang upaya melampaui batas-batas fisik, konseptual, dan sosial melalui praktik seni rupa.
Pada pandangan pertama, karya Noor tampak sederhana. Sebuah bentuk menyerupai wadah dibangun dari lempengan-lempengan tanah liat. Permukaannya kasar, tanpa kemewahan warna maupun glasir yang mengilap.
Namun kesederhanaan itu segera memunculkan kejutan visual. Di sepanjang bibir wadah muncul puluhan kepala kecil yang tersenyum. Masing-masing hadir dengan bentuk yang sederhana, tetapi tidak kehilangan ekspresinya.
Tidak ada satu figur yang dibuat lebih besar atau lebih dominan daripada yang lain. Seluruhnya membentuk sebuah komposisi yang terasa utuh.
BACA JUGA:Membangun Kebahagiaan, Karya Noor Sudiyati yang Jadi Metafora Kehidupan Bersama (2)
Pilihan visual tersebut memperlihatkan bahwa Noor tidak sedang membangun narasi tentang individu. Ia justru sedang berbicara mengenai kehidupan bersama.
Ini menjadi menarik karena tema yang diangkatnya bertolak belakang dengan kecenderungan masyarakat hari ini. Kehidupan modern semakin menempatkan individu sebagai pusat segala sesuatu.
Keberhasilan diukur melalui pencapaian pribadi. Media sosial mendorong setiap orang membangun citra dirinya sendiri. Bahkan kebahagiaan sering dipahami sebagai sesuatu yang harus dimiliki, dipamerkan, dan diakui oleh orang lain.
Dalam situasi seperti itu, Membangun Kebahagiaan menawarkan pembacaan yang berbeda. Kebahagiaan, menurut karya ini, bukanlah pengalaman yang berdiri sendiri. Ia selalu lahir di tengah hubungan.
Pilihan Noor menghadirkan banyak wajah kecil dengan ukuran yang relatif sama memperlihatkan penolakan terhadap cara pandang yang menempatkan satu individu sebagai pusat.
Tidak ada tokoh utama dalam karya ini. Yang menjadi pusat justru hubungan di antara figur-figur tersebut. Komposisi itu menghadirkan kesan egaliter, seolah setiap manusia memiliki posisi yang setara dalam membangun kehidupan bersama.
Pembacaan seperti ini menjadi semakin menarik jika memperhatikan bentuk keseluruhan karya. Sekilas, ia memang menyerupai sebuah mangkuk atau wadah. Akan tetapi, semakin lama diamati, bentuk itu juga menghadirkan kesan sebuah ruang hidup. Kepala-kepala kecil yang muncul mengelilinginya membentuk citra tentang komunitas yang hidup berdampingan.
Wadah dalam karya ini akhirnya tidak lagi dibaca sebagai benda.Ia berubah menjadi metafora; metafora tentang rumah.
Namun rumah yang dimaksud Noor bukanlah bangunan yang terdiri atas dinding, pintu, dan atap. Rumah di sini lebih dekat dengan pengertian sebagai ruang sosial, tempat manusia saling mengenal, saling menopang, dan membangun rasa memiliki. Yang dipahat Noor bukan arsitektur, melainkan hubungan.
Pembacaan tersebut memiliki kedekatan dengan catatan kuratorial Sudjud Dartanto. Ia melihat karya Noor melalui konsep cosmotechnics dari filsuf Yuk Hui. Dalam pandangannya, tanah liat tidak diperlakukan sebagai objek mati, melainkan medium yang membangun kembali hubungan manusia dengan sesama dan dengan kosmos.
Kepala-kepala yang tersenyum dibaca sebagai simbol resonansi energi positif yang melampaui batas-batas ego individual.
Namun, kekuatan Membangun Kebahagiaan sesungguhnya tidak bergantung pada teori yang menjelaskannya. Tanpa membaca catatan kuratorial pun, karya ini tetap mampu menghadirkan pengalaman visual yang utuh.
Penonton segera menangkap adanya relasi antarmanusia yang menjadi inti komposisi. Kesederhanaan bentuk justru membuat maknanya terbuka bagi banyak kemungkinan tafsir.
Di sinilah Noor menunjukkan kedewasaan artistiknya. Ia tidak menjadikan keramik sebagai media untuk memamerkan keterampilan teknis semata. Teknik slab dan pinching memang memperlihatkan penguasaan material yang baik, tetapi seluruh kemampuan itu diarahkan untuk melayani gagasan. Bentuk tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu bekerja bersama makna.
Karena itu, Membangun Kebahagiaan tidak mengajak penonton berhenti pada pertanyaan tentang bagaimana karya ini dibuat. Yang lebih penting justru pertanyaan mengapa karya ini dibentuk seperti itu. Mengapa seluruh figur memilih tersenyum? Mengapa mereka mengelilingi sebuah wadah? Mengapa tidak ada satu pun yang ditempatkan sebagai pusat?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang perlahan membawa pembaca memasuki lapisan makna yang lebih dalam. Karya Noor tidak sedang berbicara tentang senyum sebagai ekspresi wajah. Ia berbicara tentang kemungkinan membangun kehidupan bersama di tengah masyarakat yang semakin terfragmentasi.
Tema yang diusung Multiframe #6, Transcending Boundaries, sesungguhnya membuka kemungkinan pembacaan yang sangat luas. Batas dapat dimaknai sebagai pemisah antarbangsa, antarkebudayaan, antargenerasi, bahkan antara manusia dan teknologi.
Banyak karya seni kontemporer memilih berbicara mengenai persoalan-persoalan tersebut melalui bahasa visual yang kompleks. Noor Sudiyati justru menempuh jalan yang berbeda. Ia mengajak penonton melihat batas yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari, yaitu batas yang perlahan tumbuh di antara manusia.
Batas itu tidak selalu tampak secara fisik. Ia hadir dalam bentuk ego, prasangka, ketidakpedulian, atau keengganan untuk memahami pengalaman orang lain. Semakin modern kehidupan berlangsung, batas-batas semacam itu justru semakin mudah terbentuk. Manusia hidup semakin berdekatan, tetapi tidak selalu merasa saling memiliki. Ruang publik semakin ramai, sementara ruang perjumpaan yang sungguh-sungguh semakin menyempit.
Dalam konteks itulah Membangun Kebahagiaan memperoleh relevansinya. Noor tidak mengusulkan cara melampaui batas melalui slogan atau pernyataan yang demonstratif. Ia melakukannya melalui bahasa yang jauh lebih tenang. Puluhan wajah kecil yang mengelilingi sebuah wadah menjadi metafora bahwa kebahagiaan selalu lahir dari kesediaan manusia berbagi ruang hidup. Tidak ada satu figur yang menempati posisi paling tinggi. Tidak ada yang mendominasi. Seluruhnya hadir sebagai bagian dari sebuah komunitas yang saling menopang. ( bersambung ke tulisan ke-2)


